112. ’LOVE Thinks No Evil’

Duhai cinta, cinta menggairahkan tapi juga melumpuhkan. Cinta memotivasi tekat akan tetapi bersamaan mematahkan semangat. Cinta memberi kehidupan namun beriringan dengan menuntut kematikan. Cinta itu melepaskan hak sekaligus menggenggamnya. Wahai cinta, cinta itu memberi dengan rela tapi juga menuntut dengan paksa. Cinta itu berkorban, tapi siapa sangka itu juga cari untung sendiri. Cinta itu menyerahkan…

111. ’Hidup Untuk Cinta’

Allah itu kasih, apapun yang dilakukan, DIA kerjakan dengan welas asih (Ef 1:5). Hati-NYA sepenuhnya ada dalam setiap karya-NYA. Jiwa, emosi, dan keseluruhan diri ALLAH habis tercurah selagi DIA mereka cipta. Emosi dan daya cipta-NYA bersatu padu menghasilkan karya yang agung gemilang nan fenomenal. ALLAH larut dan menyatu dalam setiap pribadi dan sosok hasil karya-NYA….

110. ’Semutpun Curiga’

Romantika ini bermula dari purbakala, jauh sebelum dikau ada. Ini tak meng-ada², senyatanya peristiwa ini terjadi di Taman Nirwana. Sebelum menjelma aksara apalagi sastra, telah terjadi ikatan asmara. Adegan ini terjadi selagi hati tak kenal benci dan nestapa. Drama cinta bergelora ketika kosakata ‘malu’ dan ‘iri’ belum merasuk sukma. Sejatinya, inilah maksud dan tujuan dikau…

109. ‘Cincin Tunangan’

Ini kisah nyata, cerita sebenarnya. Kisah ini bukan kiasan, tidak pula karangan, apalagi dongeng anak ingusan. Sejatinya, ini sejarah, HIS-tory, riwayat Sang Pencipta. Kisah ini berbeda sekali dengan roman picisan. Ini romantika ilahi yang bermula jauh sebelum ada pelangi. Ini drama terpanjang yang pernah ada. Bermula dari waktu abadi, THE END-nya, siapa peduli? Narasi masih…

108. ‘Kado Valentine’

Khayalku terbang jauh tinggi melayang. Walau kabut tebal membentang, tekadku pantang mundur. Tekad membaja untuk cari tahu perihal hari-hari pertama di Taman Kayangan. Perjalanan ini sulit, seperti mencari jejak bayangan. Dapatkah membayangkan apa yang tak pernah muncul dalam lamunan? Mungkinkah menuturkan yang tak terlintas dalam ingatan? Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak…

107. ‘Cinta Pertama’

Kisah cinta di Taman Eden, romantika kalbu melebihi cerita anak Sekolah Minggu. Mulanya jauh lebih dulu dari waktu dan berlangsung terus walau segalanya berlalu. Awalnya sebelum ada segala sesuatu, maka terciptalah Sahabat dan saya. Allah jatuh cinta kepada Sahabat. Dengarkan Dia bersenandung rindu. [KU]kenal dikau lalu jatuh cinta. Bagai pertama. Dan [KU]cumbu dikau. Penuh kasih…

106. ‘Mengapa Jatuh Cinta?’

Kisah Taman Eden adalah kisah cinta Allah, kisah hidupmu. Di Eden itu, saya dan Sahabat mengkhianati cinta-Nya. Ada rayuan maut dari “orang” ketiga yang berhasil menyingkirkan cinta-Nya. Bisa jadi itu terjadi puluhan atau ratusan ribu tahun lalu, namun siapa sangka gemanya dapat Sahabat rasakan hingga kini. Tak ada yang kebal, baik saya atau Sahabat pun…

105. ‘Pengkhianat Cinta’

Berduyun orang memburu bayangan. Semua lomba gapai angan. Tekad capai puncak kayangan. Malang, itu hanya khayalan. Tragis, memilukan! Itu kehidupan. Terkurung dalam ketidakpastian. Tak tahu tujuan. Hidup rutin nan menjemukan. Terjebak, tak ada jawaban. Tragis, memilukan! Hati kosong keroncongan. Glamor dan jabatan tak memuaskan. Ketaatan beragamapun mencelakakan. Akhirnya semuanya menuju kematian. Tragis, memilukan! Tetapi mereka…

104. ‘Prahara Cinta’

Tak ada yang berharap rumah tangganya dilanda isu masa kini. Itu jauh dari bayangan bagi sejoli yang lagi mengikat janji. Om, tante, handai tolan, semua berharap keluarga mereka harmoni. Mengikat janji di depan padri untuk sehidup semati. Doa dilantunkan agar mereka menjadi keluarga yang serasi. Ini baru tekad dini, masih panjang jalan yang dilalui. Segala…

103. ‘Cinta Terluka’

Hari-hari ini terasa gerah walau mendung menyelimuti Jakarta. Tak tahu mengapa, dada terasa sesak. Tidur kerap terganggu, dan makan pun kurang selera. Gejala ini menjadi-jadi tatkala mataku milirik layar ponsel. Tetapi aneh, walaupun sudah sesak, saya semakin panasaran saja mengikuti perkembangan berita hangat. Kupegang dada, kutepuk perut, “Aaahhh,” kataku menghela napas. “Dada oke, perut normal….

102. ‘Aduh … Cinta’

Sahabat! Satu tahun telah pergi. Sahabat tak usah tangisi. Itu tak akan kembali. Tahun yang baru telah timbul di pelangi. Sejatinya, hidup ini berwarna-warni, bergulir bak roda pedati. Sahabat yang satu pergi untuk selamanya ke dunia abadi. Duka nestapa menyertai. Teman yang lain sakit tak terobati, mengiris-iris hati. Di bawah matahari, tak ada yang abadi….

100. ‘Aku Kalah!’

Gegap gempitanya perayaan Natal telah lampau. Namun, tahun baru sudah di depan pintu. Sejenak menikmati hidup suasana baru. Sayang, itupun cepat berlalu. Tidak ada yang tak berlalu. Semuanya akan kembali ke debu. Akhir hidup ku? Siapa yang tahu? Tahun baru? Sama saja dengan yang dahulu! Demikianlah windu bergeser ke windu. Aku, dikau, semua insan binasa…