81. ‘Cinta Monyet’

Viewed : 740 views

Friends! Wah baru sadar jika Sang Pencipta juga ada ‘mood’nya. Suasana Hati-Nya juga agak mirip-mirip kita juga. Itu orang bilang ‘11 12’-lah. Allah ada emosi. Bak hati kita yang secara perasaan bisa ‘naik-turun’ sesuai dengan keadaan sekitar. Agak-agaknya serupa itu juga Dia.  Aaahhh, serius? 

Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; (Mazmur2:4)

Allah tertawa? Akurat, Dia juga tertawa! Menyaksikan usaha manusia dan sekutunya menyusun strategi untuk membatalkan rancangan-Nya. Dia tertawa. Ataupun lebih tepatnya menertawakan usaha itu. Bisa jadi tertawa ini tertawa mengejek ataupun sinis. Semacam mesem-mesem, begitulah. Allah mesem-mesem, serius?  

Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, (Efesus 4:30)

Allah berduka? Sahih! Allah juga dapat berduka. Sahabat, Allah itu hati-Nya sentitif dan perasa. Dia begitu peka dengan segala motivasi dibalik segala tindakan saya.  Andaikan saja Sahabat sempat berjalan-jalan di sekitar Yerusalem 2.000 tahun yang lalu. Ada peluang dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri Sang Firman meneteskan air mata karena empati (Yohanes 11:35). Allah berduka dan menangis. Serius?  

Efraim telah menimbulkan sakit hati-Nya secara pahit, ( Hosea 12:15)

Allah dapat sakit hati? Menyaksikan umat Israel yang terus dengan hati yang mendua. Hati umat yang multi kait dalam mengikut Tuhan. Dia ungkapkan perasaan-Nya melalui nabi Hosea. Bahwa Dia sakit hati! Itu bukan hanya sakit hati ecek-ecek. Tapi itu sungguh-sungguh sakit hingga pahit rasanya! Allah sakit hati hingga kepahitan. Maaf! Allah dapat sakit hati? Serius?

Hooorrreee! Allah ada ‘hati’. Dia ada emosi. Dia bersukacita. Tertawa. Mesem-mesem. Bahkan dapat merasakan duka nestapa serta sakit hati hingga berlinang air mata.

Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan… Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, (Efesus 1:4,5)

Wow wow wow! Ketika suasana hati Allah penuh dengan asmara. Selagi terdengar senyuman ceria dari Tritunggal Yang Maha Kudus dalam persekutuan sempurna. Dia memutuskan untuk ‘jatuh cinta’ kepada Saudara. Nama Saudara sudah ada dalam hati-Nya. Itu terjadi, jauh jauh jauh sebelum nama Indonesia ada dalam peta dunia. Bahkan  sebelum ada Taman Sorga. Jauh sebelum adegan rayuan maut buah ‘apel.’ Allah mencintai Saudara dengan kasih abadi! Maaf, agak ‘telmi.’ Maksudnya?

Begini! Cinta Allah itu cinta yang langgeng. Tidak pasang surut seperti cinta manusia. Dari sononya, Allah sudah suka Saudara. Bahkan sebelum dilahirkan, Dia sudah mencintai Saudara. Cukup jelas bukan? Allah suka saya? Serius? 

Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjuntukan kasih setia-Ku kepadamu. (Yeremia 31:3) 

Wah wah wah! Ini cinta yang asing. Cinta Allah tak bergantung kepada kelakuan saya! Serius? Kan Allah sudah suka Saudara sebelum Saudara dilahirkan. Ooo! Kalau begitu, saya tidak dapat menambah ataupun mengurangi cintanya Tuhan dengan perbuatan saya. Apa begitu? Semangat beribadah. Antusiasme melayani. Kerelaan memberi persembahan. Bahkan menjaga diri dari kecemaran dunia, itu semua tak dapat menambah cinta Tuhan kepada saya. Apa begitu? Kalau begitu, ya sudah. Mari kita hidup sembrono dan sesukanya. Kan kasih Tuhan tidak akan berkurang! Aaahhh! Pikiran semacam ini serupa dengan anak ingusan yang baru belajar jatuh cinta. Itu cinta monyet namanya. Cinta ingusan anak remaja. Mohon jangan berpikir kekanak-kanakan. Cinta memang misterius. Ups! Cinta sejati? Tak tahunya, cinta-ku kepada Allah-pun ternyata masih kelas cinta monyet! Bagaimana dengan cinta Saudara? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Free-Photos from Pixabay

Comments

comments