87. ‘Acuh Tak Acuh’

Viewed : 903 views

Sobat! Allah itu kasih (1 Yohanes 4:8). Namun, gagasan bahwa Dia telah mengasihi kita sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4), sungguh janggal dan sulit diterima akal sehat. Kasih-Nya kepada Saudara tak bergantung kepada ketaatan Saudara beribadah. Hal ini berseberangan dengan semua dalil agama. Kasih-Nya kepada Saudara tak dapat ditambah bahkan dengan lebih semangat melayani-Nya. Inipun berbenturan dengan pendapat kaum golongan rohaniawan. Tak ada lagi yang Saudara dapat buat agar kasih-Nya kepada Saudara tak berubah. Kaum elite rohani di semua agama berang dengan pandangan ini. Akan tetapi, Alkitab tanpa canggung mengungkapkan kesahihan tersebut.

… baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, (Roma 8:38,39)

Ups! Baik ‘maut’? Maksudnya?

Aaahhh, ini amat problematis. Kalau semua keadaan aman-aman, rasanya kebenaran tentang kasih Allah tersebut dapat diterima begitu saja. Tapi, bagaimanakah kalau bencana menimpa? Jika kecelakaan menghampiri. Kalau penyakit berkunjung, bahkan hingga maut menjemput.

Selagi kita pas sangat membutuhkan-Nya, apa hendak dikata, kesan kehadiran-Nya jauh panggang dari api! Ketika hati gelap dan menjerit mencari jawaban, Dia membisu. Dia biarkan kita bingung dan sendirian menghadapi maut. Iya, dibiarkan kita sendirian menghadapinya.

Aaahhh, maaf ya untuk ulasan panjang lebar tentang kasih Allah. Namun, kalau malapeta menimpa? Hati lebih sering berbisik. Pengalaman membuktikan. Sepertinya Allah itu lebih rada cenderung acuh tak acuh dibandingkan dengan Allah itu kasih! Apakah Saudara merasakan juga seperti itu?

Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, (Mazmur 22:2,3)

Saudara tidak sendirian. Nabi Daud, nabi Musa, nabi Yeremia, dan Ayub serta semua tokoh-tokoh Perjanjian Lama juga mengecap pengalaman pahit penderitaan. Para nabi tersebut merasa ditinggalkan. Dibiarkan berjuang sendirian. Bingung tidak karuan! Dan tak ada jawaban mengapa malapeta menimpa berurutan. Bagi Sahabat yang tengah mengalami perjuangan serupa, sobat tak sendirian.

“Eloi, Eloi, lama sabakhtani?,” yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Markus 15:34)

Bahkan Sang Firman mengalami perjuangan hidup sendirian! Perasaan ditinggalkan, merupakan pengalaman ngilu yang menyesakan. Untuk berapa lama? Kadang bahkan semasih hayat di kandung badan!  Aaahhh, moga kita yang sekitarnya yang masih ‘beruntung.’ Kiranya kita dijauhkan dari berucap laksana Elifas dan ke dua sahabatnya dengan tuduhan-tuduhan kepada Ayub yang menyakitkan.

Ok ok ok! Allah kan kasih. Lantas mengapa Dia menjauh dan membiarkan kita sendirian? Sendiri gelagapan menghadapi penderitaan? Mengapa seakan Dia acuh tak acuh? Sahabat, sejatinya, akupun tak tahu mengapa demikian!

Aaahhh, ini kisah kasih Divine Romance, Romantika Ilahi. Kisah cinta yang tak lazim. Cinta yang tak ada dalam kamus peradaban manusia. Cinta sungsang dan janggal. Cinta yang tak manusiawi. Sobat, ini Cinta ilahi.

Lalu mengapa Dia biarkan  penderitaan menimpa yang dikasihi-Nya? Aaahhh! Hanya mampu mata tertutup dan kepala tertunduk. Dalam keheningan, ikut merasakan kepedihan hati bagi semua Sahabat yang tengah merasakan pahitnya penderitaan. Ngilu dan getirnya hati ketika seolah-olah Allah acuh tak acuh dan meninggalkan dikau sendirian. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Anemone123 from Pixabay

Comments

comments