Ikhwan sadayana! Tuhan memperlakukan kita secara individu. Sang Kahlik mencintai kita bersifat pribadi. Kasih-Nya bukan kepada sekelompok ataupun sekumpulan manusia. Cinta-Nya itu khas, spesifik, dan unik bagi setiap individu sebagaimana setiap insan unik tiada duanya. Setiap orang ada tempat khusus dalam hati-Nya. Posisi Saudara tak dapat digantikan dengan yang lainnya bahkan oleh malaikat sekalipun.
Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya,Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram, Ram memperanakkan Aminadab,… Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. (Mat 1:1-16)
Sepintas, ayat-ayat dari Injil Matius pasal 1 di atas, sepertinya hanya daftar nama-nama yang sebagian besar tak terlalu dikenal secara umum oleh umat. Tentu kalau demikian memlihatnya itu tak terlalu bermakna. Tapi cobalah perhatikan, silsilah itu dimulai dengan nama Yesus dan diakhiri juga dengan nama yang sama. Bahasa lainnya, keberadaan tokoh itu dipanggung dunia dikaitkan dengan tokoh Mesias!
Long, long ago He decided to adopt us into His family through Jesus Christ. (Efesus 1:5, the Message: Dari semula Dia menetapkan untuk mengadopsi kita menjadi bagian keluarga-Nya melalui Yesus Kristus).
Wow wow wow, kita dikaitkan dengan nama yang Satu itu. Dalam Yesus kita diangkat, dijadikan, lebih tepatnya diadopsi menjadi dan termasuk ke dalam keluarga Allah. Dia menjadi anak tertua, sulung, dan dikau itu Saudara-Nya! (Roma 8:29). Seandainya silsilah dalam Injil Matius 1:1-16 dilanjutkan dengan daftar nama-nama berikutnya, apa yang terjadi? Wow, nama Saudara akan tertulis dengan tinta emas pada generasi kesekian. Wah, mantap!
Nama dikau itu ada tempat khusus dalam hati-Nya! Adakah hidup lebih bermakna dari kenyataan bahwa Saudara itu bagian dari keluarga Sang Pencipta? Dikau itu anak kesayangan-Nya. Bapa gereja abad-abad pertama, Santo Augustine, akurat mengungkapkan misteri cinta ini:
God loves each one of us as if there was only one of us to love (terjemahan bebas: Allah mencintai Saudara seakan-akan hanya Saudara yang ada di muka bumi ini!)
Aaahhh, bisaan aja! Betul Sobat. Cinta Allah kepada dikau itu tak terbagi. Cinta-Nya bulat dan utuh, tak terbelah-belah. Itulah lazimnya kalau sudah jatuh cinta. Serasa Dia berkata: ‘Dikau itu satu-satunya yang Ku-cintai!’
Bagaikan orang yang sedang dimabuk asmara. Kemanapun mata memandang, dia melihat rupa kekasihnya! Bagaimanapun hiruk pikuknya situasi, hatinya sepi sebelum melihat kekasihnya. Fisik bisa lelah. Semangat loyo. Hati kecut. Akan tetapi ketika nama kekasihnya disebut, langsung dia terbelalak dan semangat.
Sahabat, dapatkah dikau merasakan getaran cinta ilahi ini? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by Gerd Altmann from Pixabay




