307. Seribu Satu Pertanyaan

Viewed : 606 views

Genaplah sudah 2 tahun sejak si Corona muncul di Wuhan. Duapuluh empat bulan dunia di bawah ancaman, maut yang siap menelan korban. Tidak kenal kasta, tidak peduli suku, tidak bertanya ‘kau siapa,’ apalagi memilah-milah berdasarkan agama, semuanya dipandang sebelah mata, pandemi yang membawa duka.

Bencana yang akan dikenang sangat lama. Pas pula daku dan dikau sudah cukup dewasa, untuk dapat mengalaminya secara nyata. Kisahnya bukan lagi karena membaca berita, ataupun karena katanya katanya katanya. Karena diri sendiri merasakan dari hari ke hari betapa sulit dan pahitnya hidup dalam naungan si Corona.

Pandemi ini meluluhlantakkan semua kebiasaan, merubah ritme kehidupan. Bukan saja di dunia bisnis dibuatnya berantakan, begitu juga di dunia kerohanian. Gempurannya sangat menusuk jantung keyakinan, ritual ibadah dari semua agama yang sudah ribuan tahun, itupun ternyata tidak dapat bertahan.

Pandemi melibas dunia fisik alias yang kelihatan, juga menghantam dasar-dasar keyakinan. Tidak ada lagi yang sama, semua sekarang sudah berbeda. Wabah ini bukan saja membuat berlinang air mata, namun juga turut menimbulkan banyak tanda tanya.

Dan malapetaka ini sadis tidak berperasaan, tidak pandang muka dikau siapa. Semua dilibas bahkan termasuk umat percaya. Entah daku merasa dari kelompok imam, ataupun dikau yang anggap diri dari kaum awam. Tidak ada perbedaan, semua telah menjadi korban.

Tidakkah Sang Kuasa mampu menahan laju wabah ini untuk merajalela? Tidakkah DIA kuasa untuk melenyapkan bencana ini dengan seketika? Tidakkah DIA melihat begitu banyaknya derita yang menimpa keluarga muda, anak-anak balita yang ditinggal ayah bunda? Belum lagi jutaan orang yang menderita karena usaha hancur tidak berdaya di hadapan si Corona.

Tentu sebagai umat percaya jawaban dari pertanyaan itu: ’DIA mampu, DIA berkuasa, DIA melihat!’ Namun, jawaban ini tidak memuaskan hati bagi daku ataupun dikau yang tidak anggap enteng penderitaan atau lari dari kenyataan dengan sikap: ’Beriman saja!’

Jika DIA mampu, mengapa DIA diam membeku? Kalau DIA berkuasa, mengapa si Corona melibas siapa saja dengan leluasa? Bila DIA melihat, tegakah DIA melihat begitu banyak orang yang hidupnya sekarat? Apakah memang DIA benar-benar Allah Yang Maha Kasih?

Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. (Roma 8: 22,23)

Tentu dengan sekejab DIA dapat menlenyapkan penderitaan dari muka bumi, sehingga di bumi bak di sorga. DIA mampu merubah wabah menjadi berkah. Ataupun sebaliknya, dalam hitungan kedip mata, DIA juga mampu memusnahkan seluruh umat manusia.

Namun, mengapa derita dibiarkan sedikit demi sedikit menggigit umat manusia sehingga duka terasa betul pahitnya? Semua makhluk termasuk umat percaya, sama-sama menderita. Tidak ada yang istimewa, semua merasakan sulitnya hidup di dunia.

Alih-alih melenyapkan derita, mungkinkah duka nestapa justru sebagai alat di tangan-NYA? Bencana turut ambil bagian dalam melaksanakan maksud-NYA. Itukah alasannya, mengapa daku dan dikau pun yang telah menerima karunia sulung Roh Kudus tetap saja tidak imun ditimpa bencana?

Masih ada seribu satu pertanyaan, keraguan yang dapat menyerang setiap keyakinan. Sungguh wabah telah menggoyang dasar kepercayaan, terutama bagi daku ataupun dikau yang menjadi korban si virus yang tidak kelihatan.

Ataukah lebih nyaman lari dari kenyataan, dan berpaling sambil berucap: ’Beriman saja!’ Itupun adalah pilihan. (nsm).

Image by Arek Socha from Pixabay

Comments

comments