262. A Dichotomy

Viewed : 572 views

Sahabat! Ini masa-masa, jika lidah kehilangan kemampuan membedakan garam dengan gula, itu seakan-akan bencana sudah di depan mata. Andaikan tiba-tiba hidung tidak lagi dapat membedakan aroma, itu indikasi kuat sudah datang si Corona. Indra penciuman dan pengecap menjadi tanda-tanda yang utama.

Selera makan jadi pudar. Tidak lagi dapat membedakan lezatnya ikan bakar, begitu juga asam manisnya rasa acar. Semua makanan, manis ataupun kepahitan, terasa sama-sama datar.

Hilang juga kemampuan membedakan bebauan. Aroma mewah harga puluhan juta parfum Chanel No.5, sama saja dengan bau belacan. Wangi dan bau busuk tidak dapat lagi dibedakan.

Mungkinkah si virus telah mengajari umat tentang perkara yang hakiki? Dalam kehidupan kerohanian jema’at, itu bisa jadi sangat esensi.

Kalau sudah begitu, dunia rasa menjadi satu, begitu juga bebauan semua menyatu. Jika sudah tidak berbeda rasa madu dan empedu, janganlah bersusah-susah terus hidup terpenjara dalam bubu. Bukankah semua aroma tidak berbau? Mengapa dikau masih mati-matian gandrumg kepada yang satu? Dengan demikian, tidakkah yang lainnya akan dianggap tidak lagi begitu perlu?

Sudah selama belasan abad, umat Tuhan terperangkap. Terkurung dalam kegiatan ataupun aktifitas kehidupan yang terkotak-kotak. Cara pandang yang mengakibatkan terbelahnya kehidupan jema’at. Kehidupan kerohanian umat, layaknya di dalam bubu terjerat. Terpenjara dalam paradigma palsu antara dunia sekuler vs dunia rohani.

Bak dunia aroma, ada jenis kegiatan yang harum di hadapan Tuhan. Namun, ada juga anggapan sebagai besar umat, bahwa di luar itu semuanya penuh kebusukan. Jenis yang harum tersebut dikatagorikan sebagai pekerjaan rohani. Sedangkan yang lainnya, dikelompokkan sebagai pekerjaan duniawi.

Ke dua dunia tersebut seakan-akan tidak dapat didamaikan alias dipersatukan. Dikotomi, justru ke duanya dipertentangkan. Itu ibarat siang dan malam, layaknya aroma parfum yang mahal dengan bau kaos kaki yang kusam. Dua dunia yang saling bertolak belakang.

Sejak sekitar mulai awal abad ke 4 hingga saat ini, terbentuklah golongan kaum rohaniawan yang bekerja di ruangan yang semerbak wangi-wangian. Pekerjaan yang lebih dikenal dengan sebutan melayani Tuhan. Pekerjaan kudus yang dimuliakan.

Sedangkan yang lainnya dikenal dengan kaum awam. Kelompok yang pikiran dan pekerjaannya hanya untuk mencari uang. Jema’at biasa yang dianggap mengais-ngais rejeki dalam lumpur amis keduniawian. Orang kebanyakan yang seakan-akan dipandang sebagai umat kelas 2 di hadirat Tuhan.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolese 3:23)

Siapakah sangka? Gejala disapa si Corona telah menyadarkan kita. Bahwa tidak ada perbedaan aroma, apakah itu bunga bangkai ataupun bunga seroja. Semua jenis bunga, sejatinya, harum di hadapan-Nya. Karena yang menentukan adalah hati yang menyertainya. Apapun yang dijumpai tangan, kerjakanlah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan!

Tidak ada lagi pekerjaan duniawi, semua adalah rohani karena penentunya adalah hati!

Entah daku bergelut di pekerjaan yang semerbak wangi-wangian, bisa jadi itu di hadapannya sangat duniawi. Ataupun sebaliknya, dikau siang malam bekerja di suasana yang begitu tajam bau anyir duniawi, di hadapan-Nya itu sangat rohani, karena penentunya adalah hati.

Si virus menghampiri, 14 hari isolasi mandiri. Selama itulah daku dan dikau dipaksa dapat menyelami, betapa sulitnya hidup tanpa dapat membedakan harumnya bunga melati. Cara pandang kesatuan ke dua dunia tersebut tidak mudah. Moga setelah wabah, paradigma ini tidak berubah. Insya Allah! (nsm)

Comments

comments