Akhir-akhir ini, berita dari media online ataupun medsos semakin tidak membesarkan hati. Serangan si virus semakin menjadi-jadi, begitu sering dapat kabar bahwa handai taulan bahkan keluarga sendiri terinfeksi. Sudah menjadi makanan sehari-hari, kalau info yang berseliweran sampaikan duka karena teman bahkan kekasih telah pergi.
Ini masa-masa yang sulit, semua berusaha berkelit, untuk menghindar dari penyakit. Setiap berita ada makanan ataupun terapi yang mujarab, berduyun-duyun orang langsung menyergap, itu melanda baik yang terpelajar ataupun tidak, semua sudah kalap. Siapa yang tidak gagap, menghadapi wabah yang obatnya saja masih dalam tahap debat, sementara kiri kanan bertumbangan selama-lamanya tidur terlelap.
Wajar, kalau ada berbagai tindakan secara medis di luar nalar, namun begitu saja diikuti tanpa takut kesasar. Menghadapi malapeta, semua alternatif jalan dicoba agar terluput dari bala. Ke mana harus bertanya, kalau semua juga masih meraba-raba. Tidak tahu, sesungguhnya daku dan dikau ini menghadapi siapa.
Dalam situasi kritis, dari kalangan awam pun tiba-tiba bermunculan pakar medis. Tidak ada guna, bertanya latar belakang sekolahnya apa. Dari mereka yang bukan apa-apa, sekarang muncul dengan gagasan aneka rupa. Dari minum air kelapa muda, hingga menghirup uap air panas dicampur lada, itu obat si Corona. Tidak perlu bertanya dasarnya apa, ‘kan itu sudah diterima begitu saja?
Namun juga jangan terkejut, jika dalam situasi kalang kabut, ada pendapat yang membuat para pakar medis terasa disikut. Siapa nyana, walau sudah nyata, terjadi di depan mata, tidak percaya ada si Corona. Semua ini hanyalah ilusi, ini bukan pandemi namun plandemi, konspirasi global tingkat tinggi.
Era-era ini, setiap orang dipaksa untuk memutuskan sendiri. Pandemi ataukah plandemi alias konspirasi? Yang pasti, kabar duka didengar tak henti-henti. Rumah sakit kewalahan melayani, harga-harga obat membumbung tinggi. Ini fakta setiap hari, tidak dapat mengelak, itu yang daku dan dikau hadapi.
Situasi mendorong daku dan dikau mencari sendiri, bagaimana cara jitu menghadapi pandemi. Spontan setiap pribadi belajar sendiri, melengkapi diri sendiri. Terasa mulai bermunculan ahli, bagaimana mendeteksi gejala si virus sejak dini. Karena semakin cepat diketahui, semakin besar pula peluang terobati.
Sekarang sudah maklum, ini sudah menjadi pengetahuan umum. Jika dikau tidak dapat lagi membedakan aroma parfum dan bau terasi, kehilangan kemampuan merasa manisnya madu dan pahitnya empedu, itu tanda pasti si virus sudah menghampiri.
Anosmia, kehilangan indera pengecap dan tidak lagi pekanya indera penciuman. Tidak dapat lagi membedakan berbagai macam rasa dan aroma, istilah ini menjadi momok di masa si Corona. Apa saja dikau makan, bahkan semua jenis bau-bauan, tidak dapat lagi dibedakan, sama saja. Semua hambar, di mulut makanan hanya terasa halus kasar.
Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! (Mazmur 34:9)
Spiritual anosmia, apakah gejela sejenis itu sedang lagi melanda umat percaya? Kehilangan rasa dalam beribadah. Sulitnya mengendus maksud Tuhan dengan datangnya wabah.
Kehidupan kerohanian mulai terasa hambar, semua persekutuan ataupun pertemuan zoom terasa datar. Kalau secara rohani sudah terkapar, masihkah semangat mengecap perkara di luar nalar?
Daku ataupun juga dikau ada gejala kehilangan gairah. Apakah karena tidak siap untuk berubah? Betapa rindu suasana bersekutu sebelum ada wabah. Yang dulu-dulu rasanya lebih meriah.
Si virus rasanya belum ada tanda-tanda menyerah, ataukah keadaan menanti daku dan dikau sampai pasrah? Hingga siap merasakan, menghirup aroma baru yang akan datang. Mungkinkah hal-hal yang belum pernah dialami dalam beribadah sedang menanti jema’at di depan? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM |
Photo by Nicole Elliott on Unsplash




