Belasan bulan ini, menjadi bulan-bulan yang luar biasa. Di era pandemi, semua dipaksa melakukan sesuatu dengan cara tidak biasa. Tidak ada yang terkecuali, semua segi kehidupan tidak ada lagi yang sama. Semua ikuti irama sang wabah, termasuk dalam perkara beribadah. Ini melanda semua denominasi, tunduk pasrah harus berubah.
Dikau bisa saja sedang sibuk work from home, tak sempat lagi menikmati mentari pagi. Yang lain, lagi menikmati hidangan tengah hari tanpa peduli apa yang tengah terjadi. Sebagian terus tertekan dengan bisnis yang tak kunjung jalan-jalan, esok masihkah ada harapan?
Ataupun sedang duduk-duduk sendiri, bingung melihat kenyataan hidup di masa pandemi. Berapa lama keadaan akan seperti ini, mungkinkah kehidupan lebih buruk di depan sedang menanti? Jangankan memikirkan jauh ke depan, tidak sedikit kelompok masyarakat sekadar memikirkan sepiring nasi untuk hari ini.
Boleh saja daku dari kelompok elit rohani, yang bingung dengan apa yang sesungguhnya tengah terjadi. Tradisi ritual yang kokoh ratusan tahun, hanya dalam hitungan bulan itu dilupakan. Ataupun kaum awam yang dalam ibadah selama ini terpaut mati ikuti liturgi, sekarang bebas sesuka hati. Tata cara ibadah jema’at sudah tidak lagi terkendali. Lalu, dikemanakan mereka yang berfungsi bak suku Lewi?
Entah dikau sedang bekerja, atau leha-leha. Terus memikirkan peluang bisnis on line di masa pandemi, maupun hanya bisa menjerit-jerit kepada Sang Ilahi. Berpikir keras arti era pandemi bagi perkembangan ritual kristiani, ataupun sibuk dengan teori konspirasi. Dari golongan petinggi organisasi misi, atau hanya jema’at biasa yang tidak peduli perkara rohani.
Sekaliannya tidak ada yang terkecuali, mau mager (malas bergerak) atau harus dipaksa angkat kaki. Semua harus pergi, menuju gersangnya perjalanan spiritual di padang pasir. Itu mirip dengan umat Israel terusir dari negeri Mesir. Digiring pelan-pelan tapi pasti, mengarah ke padang gurun tanpa berpikir. Umat tinggal ikuti ritme langkah kaki si pandemi.
Kami harus pergi berjalan selama tiga hari ke padang gurun dan di situ kami akan mempersembahkan kurban kepada TUHAN, Allah kami, seperti yang telah diperintahkan-Nya.” (Keluaran 8:27 FAYH)
Spiritual deserts, pengalaman spiritual setiap insan kala keluar dari kebiasaan ratusan tahun. Dari tradisi patuh taat kepada aturan, lalu tanpa duga, tiba-tiba ada di alam bebas merdeka tanpa ada lagi paksaan. Bebas tentukan, sila pilih yang berkenan, semua dapat dilakukan sesuai dengan yang diinginkan.
Spiritual deserts, terasa semua gamang, serba tidak pasti dan lama-kelamaan jadi gersang. Jika dikau berasal dari denominasi yang disiplin dalam hal ritual, terasa akan gelisah keadaan sekarang. Kalau saja dikau terbiasa dengan ibadah mingguan, karena itu suatu keharusan, selamat datang di padang gurun kebebasan.
When God wants to change us, he often takes us on a journey. (Richard Stern)
Apakah DIA menginginkan daku dan dikau alami perubahan? Untuk berubah, haruskah melewati padang gurun gersang yang tak bertuan? Tanpa ada tanda-tanda jalan, apalagi impian agar ditemukan petunjuk dari kaum elite rohaniawan.
Yang ada hanya onak dan rerumputan, tanah tandus sebagai saksi kehidupan. Terik matahari dan kehausan, mungkinkah hal-hal seperti ini yang akan mendorong daku dan dikau tulus mencari TUHAN? Tanpa paksaan, rela karena kebingungan.
Pengalaman spiritual yang tandus nan gersang, tak tahu arah tujuan. Ancaman si virus yang tak kelihatan, semua jadi ketakutan. Iman jema’at dalam ujian.
Era serba tidak ada kepastian. Moga daku dan dikau tidak akan menyia-nyiakan, kesempatan bertumbuh dalam iman. Mengenal DIA dari hati yang terdalam, bukan karena kebiasaan! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM |
Photo by Ryan Cheng on Unsplash




