284. Spiritual Thermometer

Viewed : 388 views

Pemerintah kembali memaksa masyarakat untuk semua tinggal di rumah. Si virus semakin liar, varian baru bermunculan keluar. Ini jenis-jenis teranyar, tipe yang semakin pintar. Sudah semakin banyak yang tersambar, sekarang semua umur rentan terpapar. Tidak ada yang kebal, utamakan protokol kesehatan agar tidak menyesal.

Tidak ada seorang pun yang tahu, mengapa yang seorang terpapar langsung layu. Sedangkan yang lainnya, melewatinya dengan biasa-biasa saja. Peristiwa ini terjadi di semua golongan usia, baik mereka dengan komorbid maupun mereka yang telah divaksin terlebih dahulu.

Suasana jadi mencekam, karena merasa semua ada dalam keadaan terancam. Jalan-jalan utama kembali lengang, tidak ada pengendara bahkan orang yang lalu lalang. Aktifitas bisnis kembali ke titik nadir. Tak usah dihiraukan teman yang janji mentraktir, karena yang bandel ke resto pun akan diusir.

Setiap orang didorong untuk pegang kendali, belajar lagi untuk menguasai diri. Sila siap sedia untuk senantiasa mendeteksi, sigap mengamati, gejala si Corona sejak dini. Adakah batuk pilek? Penting menyadari gejala anosmia. Jangan lengah perhatikan temperatur jasmani. Dan kalau sudah terinfeksi, perhatikan saturasi. Jadilah gun thermometer dan oximeter laris manis dibeli. Dua alat ukur yang dicari-cari di era pandemi.

Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Sebagian pula berkata: “Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?” Maka timbullah pertentangan di antara mereka. (Yohanes 9:16)

Bagi golongan elite rohaniawan abad-abad pertama, ketaatan kepada tradisi nenek moyang adalah alat ukur utama. Alat ukurnya bak gun thermometer, itu sangat nyata. Sakit tidaknya dikau dan daku secara rohani, itu diukur dari sejauh mana tradisi yang diwariskan Musa mampu dikau dan daku taati.

Jika dinilai gagal memenuhi standar, maka secara rohani yang bersangkutan dianggap telah terpapar. Walau yang dilakukan sungguh mulia, tetap saja itu melanggar kebiasaan dari dahulu kala. Walau pun tindakkan itu menyelamatkan nyawa manusia, tetap saja itu dianggap pelanggaran aturan agama. Yang diujung sana, itu sama saja berani melawan titah Sang Kuasa. Tidak ada ampun bagi pelanggarnya.

Spiritual thermometer pun berlaku tanpa mengenal kasta ilahi, Kristus juga harus mengalami. Tali pengukur telah diluruskan, dan Kristus tersandung karena belenggu kebiasaan. Walau orang buta dicelikkan, tetap saja DIA melanggar hari Sabat yang dikeramatkan. Mesias dianggap tidak lulus, karena itu dianggap golongan tidak kudus!

Bagi daku dan dikau, yang hidup di era tidak menentu, ukuran rohani semacam itupun berlaku. Disengaja ataupun tidak, tradisi 17 abad terakhir telah digunakan untuk menentukan standar baku rohani umat. Itu semacam kriteria penentu jenjang karier jema’at, untuk dapat duduk di posisi yang lebih terhormat.

Namun pengalaman yang belum pernah ada sebelumnya tiba-tiba hadir. Belum genap dua tahun pandemi melanda tanah air, kembali rutinitas ibadah umat dibuatnya kocar kacir. Semua tempat ibadah ditutup, jema’at dan apalagi golongan elite rohani kembali gugup.

Apakah pengalaman 14 bulan ini belum cukup? Bahwa rutinitas ibadah setiap hari Minggu bukanlah ukuran yang baku. Semua alat ukur yang selama ini berlaku, dilibas habis oleh si virus tanpa pandang bulu.

Jika kehadiran ibadah di gereja, mengikuti persekutuan doa, giat ikut paduan suara, ataupun rajin gabung dalam kelompok pemuridan kaum muda. Jika menjadi pekerja gereja, pejabat organisasi misi se dunia, ataupun menjadi pengkhotbah ternama. Itu tidak lagi dapat dipakai sebagai ukuran, untuk memastikan daku ataupun dikau siapa di hadapan Tuhan.

Kalau begitu, apakah kebiasaan selama ini tidak lagi perlu? Mungkinkah pandemi tengah mengarahkan umat ke hal-hal baru? Perkara baru yang sudah ada sejak dulu. Apakah begitu? Aku tidak tahu. Kamu? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Photo by Mockup Graphics on Unsplash

Comments

comments