291. Spiritual Instinct

Viewed : 556 views

Perjalanan ini terasa masih panjang, kiri kanan menganga jurang. Setiap langkah begitu berat, saban sukses lewat tikungan itu sungguh suatu berkat. Tidak sedikit handaitolan, dipaksa berhenti di tengan jalan. Yang terus bergerak ikut rombongan, namun sendiri-sendiri menghadapi era ketidakpastian. Dan gelap gulita masih menanti di depan.

Berapa lama masa-masa kebingungan ini akan bertahan? Mungkinkah perjalanan ini masih tahunan? Ataukah akan begitu selama-lamnya hingga daku dan dikau dihabiskan? Bak perjalanan umat Israel dari Mesir menuju ke tanah Kanaan, seharusnya dapat ditempuh dalam hitungan mingguan. Namun baru tiba setelah satu generasi dilenyapkan.

Tidaklah mudah untuk mengalami perubahan, itu tidak secepat membalik tangan. Apalagi kalau sudah menyangkut hati, prosesnya pelan-pelan menguras habis emosi. Terasa itu sakit sekali, bak sedikit demi sedikit diri dikuliti. Begitukah untuk keluar dari kebiasaan, dan mulai sesuatu yang baru dalam beralasi dengan Tuhan? Mestikah untuk berubah, harus daku dan dikau ditimpa wabah?

Kalau saja ada kawan seiring sejalan, yang dapat merasakan sesaknya dada tak terucapkan. Bergandengan tangan, bersama-sama berjalan di tengah gelapnya malam. Segenap tidak ada yang kelihatan, jangan harapkan ada arahan bahkan dari kaum rohaniawan, semuanya juga gelagapan.

Setiap langkah hanya andalkan perasaan, spritual instinct yang sudah sangat lama dilupakan. Begitu berkuasanya kebiasaan, selama berabad-abad itu dianggap sebagai panduan dalam berbakti kepada Tuhan. Tiba-tiba itu sirna tidak lagi dapat digunakan sebagai pedoman, tinggalah intuisi spiritual yang menjadi andalan.

Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus. (1 Korintus 2:16)

Kehilangan naluri spiritual, itu bagi daku dan dikau kerugian yang sangat besar. Pikiran Kristus telah lama ditinggal, kebiasaan tampil menggantikan perkara yang paling mendasar. Begitu lama umat kesampingkan yang fundamental, di era pandemi baru daku sadar.

Kesadaran itu ibarat pengalaman disapa si virus yang tidak kelihatan, lantas alami gejala anosmia alias kehilangan indra penciuman. Kontan terasa ada yang berbeda, lalu tergesa-gesa mencari berbagai macam aroma, untuk dicium dengan penuh rasa. Segera dapat diduga, hidung menjadi pusat perhatian.

Walau organ hidung selama ini menempel di muka, sejak lahir itu tidak ke mana-mana. Dalam kehidupan normal sehari-hari, sungguh kehadirannya tidak disadari. Namun kala tidak lagi mampu membedakan aroma, semua bau-buan wanginya tidak ada. Barulah sadar ada sesuatu yang tidak biasa, dan kehadiran hidung menjadi nyata.

Mungkinkah juga demikian, spiritual instinct baru sadar diperlukan, terutama di waktu-waktu berjalan dalam kegelapan. Ketika tidak ada lagi petunjuk jalan, tidak terlihat tanda-tanda tikungan, bak semua kebiasaan ditinggalkan. Tinggallah daya endus rohani yang menentukan, bagaimana langkah ke depan.

Mau kata apa, jikalau selama ratusan tahun organ naluri spiritual diabaikan. Walau selama ini itu tersimpan di dalam dada, namun tidak sadar itu ada. Daya cium spiritual umat dilumpuhkan, karena selama ini daku dan mungkin juga dikau lebih cenderung ikut-ikutan.

Lamakah untuk memulihkan kemampuan penciuman? Untuk umat Israel perlu berputar-putar selama 40 tahunan. Selama itukah waktu yang dibutuhkan agar spritual instinct kembali dapat tampil ke permukaan? Apakah sejarah akan kembali terulang, ataukah itu bergantung kepada puan dan tuan?

Semua seakan-akan dipaksa berjalan dalam lorong perubahan, namun setiap langkah ditentukan oleh perorangan. Bagaimakah dapat mendengarkan pikiran Kristus? Itu sebagai pedoman baru bagi umat yang telah ditebus. Petunjuk mutakhir dalam berelasi dengan TUHAN. Semoga dikau dan daku masih merindukan, spiritual instinct yang telah lama diabaikan! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Photo by Battlecreek Coffee Roasters on Unsplash

Comments

comments