287. Spiritual Exodus

Viewed : 441 views

Ini era yang menimpa seluruh negeri, melibas seluruh negara di seantero bumi. Tidak ada yang terkecuali, dari negara miskin nan papa hingga yang terkemuka dengan teknologi. Lebih dari 7 milyar manusia dilanda kecemasan awan pandemi.

Sudah lebih dari 18 bulan, masyarakat hidup dalam era perubahan. Semua lapisan dan bidang kehidupan, dipaksa beralih oleh virus yang tidak kelihatan. Tidak ada ampun, yang tidak turut diancam dengan kematian. Siapakah yang tidak takut, kalau itu sudah berhubungan dengan hayat di kandung badan?

Bermula cara dikau berpakaian hingga berdandan. Lalu tata cara tegor sapa dengan tetangga hingga pola berjumpa dengan handaitolan. Ikut meluas ke protokol berjualan hingga jalan-jalan. Kemudian semua orang dipaksa tinggal di rumah seharian. Bahkan akhirnya menyangkut yang paling dalam dan pribadi dari semua insan.

Semua umat beragama dilarang beribadah seperti biasa. Si virus tidak mau tahu dikau siapa, penganut agama yang mana. Apakah daku tokoh agama, ataukah hanya umat biasa-biasa? Daku dan dikau dipaksa keluar dari kebiasaan lama dalam menjalankan syariat agama. Kalau pun ada yang membandel tidak apa-apa, hanya taruhannya nyawa!

Bak operasi intelijen, senyap dan diam-diam. Umat pun tanpa perlawanan, seakan takluk sebelum berperang. Tidak ada unjuk rasa, apalagi pengerahan masa besar-besaran. Namun, strateginya begitu ampuh, umat dibuatnya lumpuh, tak berdaya hingga jema’at patuh. Rasa kecemasan merengut semua insan, dan umat dipaksa dengan tangan kuat untuk tinggalkan kelaziman.

LALU TUHAN berfirman kepada Musa, “Sekarang engkau akan melihat apa yang akan Kubuat terhadap Firaun. Ia akan dipaksa untuk membiarkan umat-Ku pergi. Dan ia bukan saja akan membiarkan mereka pergi, malah akan mengusir mereka dari negerinya! (Keluaran 6:1 FAYH)

Ok-kah kalau dipikir-pikir, era ini bak era umat Israel di Mesir? Selama sekitar 400 tahun mereka menjadi kurir. Bangsa pilihan yang seakan-akan telah diapkir. Namun dengan tangan yang kuat mereka diusir. Dipaksa menyingkir, layaknya bagai mobil rongsok yang sudah 4 abad diparkir. Kebiasaan hidup sebagai budak yang begitu lama mulai berakhir.

Apakah tangan pemerintah tengah memaksa jema’at keluar dari ritual? Daku dan dikau diusir pergi untuk keluar dari kebiasaan selama ratusan tahun yang sudah begitu dianggap sakral. Mungkinkah tanpa paksaan, umat akan betah beribadah di zona nyaman ‘perbudakan’? Kenyamanan yang terlalu sulit untuk ditinggalkan, apalagi dilupakan.

Spiritual Exodus, pergerakan massal umat keluar dari jeratan perbudakan aturan. Jebakan Mesir yang meniadakan kebebasan. Jema’at tinggal turut urutan, melanggar maka telah tersedia berbagai ancaman. Wabah menyebabkan kebiasaan menjadi berantakan.

Masa pandemi, era secara rohani, umat ramai-ramai keluar dari kebiasaan, berjamaah tidak lagi ikuti aturan. Tokoh agama yang bak penjaga syariat iman, sama juga dengan umat kebanyakan, semua juga sudah tidak ikuti kebiasaan. Masa kekacauan aturan dalam menjalankan iman, itu melanda semua lapisan denominasi kekristenan.

Walau ini era pergerakan massal rohani, namun daku dan dikau bebas merdeka tentukan sendiri, apa yang cocok di hati. Melepaskan diri dari belenggu, ataukah diam membatu? Pergumulan ini bersifat unik bagi setiap pribadi. Karenanya, tak guna bandingkan dengan yang di kanan maupun yang di kiri. Semuanya juga tengah mencari-cari.

Sila tentukan sendiri! Yang pasti, Allah tengah menuntun jema’at keluar dari kebiasaan iman selama ini. Bak umat Israel yang mengandai-ngandai, daku sering bermimpi untuk kembali ke kebiasaan yang lama lagi. Sejatinya, apakah yang daku dan dikau cari? Sila tentukan sendiri! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Photo by Brett Jordan on Unsplash

Comments

comments