286. Spiritual Exit

Viewed : 856 views

Gelombang ke 2 hantaman si Corona, jauh lebih dahsyat dari yang pertama. Yang terdahulu, pandemi lebih berbahaya kepada golongan tua. Kali ini si virus tidak mau peduli, lepas kendali, liar bak kuda lepas dari tali, semua golongan umur ditendang. Dan semua lapisan tengah meradang, awan kelabu tengah meliputi semua orang.

Berjatuhanlah korban. Siang malam tak henti-henti bunyi sirine ambulans, isyaratkan ada lagi yang menuju tempat peristirahatan yang penghabisan. Tidak mengenal ada urutan, siapa saja tiba-tiba dapat putaran, menuju akhir kehidupan. Siapa saja dapat jadi korban, gemetar ketakutan melanda semua insan.

Pernahkah terdengar dalam peradaban, untuk penguburan pun harus antri menunggu giliran? Adakah dalam sejarah gereja, prosesi pemakaman pun tidak ada lagi kebaktian? Ritual tabur bunga, ritual bpk Pendeta menggegam tanah untuk ingatkan fananya kehidupan, dan salaman dengan keluarga yang ditinggalkan, itu semua tinggal kenangan.

Ritual penghormatan akhir yang begitu sakral bagi umat kristiani, itu sekarang ditinggal pergi. Di era wabah, semua kebiasaan turut juga berubah.

Bukan hanya berhubungan dengan akhir kehidupan, prosesi pernikahan pun tidak dikecualikan. Ritual yang biasanya memakan waktu berhari-hari, sekarang itu telah diganti, dan baik jema’at maupun pihak gereja menerima dengan senang hati.

Ritual yang begitu suci, yang menjadi dasar pernikahan kristiani, sekarang itu ditinggal pergi. Di era wabah, semua kebiasaan turut juga berubah.

Bukankah begitu juga dengan yang lainnya? Ritual ibadah setiap hari Minggu, perayaan hari-hari besar keagamaan, semuanya sudah berlalu. Era itu seolah-olah sudah di masa lampau. Jema’at seakan-akan dipaksa ataupun sukarela, ataukah ini pilihan satu-satunya, untuk keluar dari kebiasaan lama?

Jema’at digiring keluar, melepaskan diri dari lilitan semak belukar. Ikatan kebiasaan ritual yang 17 abad lebih sudah begitu mengakar. Selama ini sepertinya itu begitu kekar, siapa sangka dengan datangnya si virus ternyata itu begitu mudah terbakar.

Ini celah sempit dalam peradaban, peluang yang amat sangat langka dalam perjalanan iman. Kesempatan singkat, bak siapa cepat dia dapat. Yang menyambut, dia dapat turut. Keluar dari ikatan ritual, itu yang selama ini sudah begitu dianggap sakral. Menjadi satu-satunya pintu masuk dalam berjumpa dengan Tuhan.

Apabila kemuliaan-Ku lewat, Aku akan menyembunyikan engkau di sela-sela batu karang itu dan melindungi engkau dengan tangan-Ku sampai Aku lewat. Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat punggung-Ku, bukan wajah-Ku.” (Keluaran 33: 22,23 FAYH)

Mungkinkah pandemi mendorong umat untuk melihat DIA dari sisi yang berbeda? Layaknya Musa, tanpa ritual, tidak ada prosesi penyucian, tidak ada seremoni penyembelihan korban, apalagi harus di tempat kudus yang dikeramatkan. Walau hanya melalui celah sempit di gunung gersang bebatuan, namun ada pengalaman memandang Tuhan yang takkan terlupakan. Bertemu DIA dengan cara belum pernah dirasakan.

Spiritual exit, celah sempit, pintu keluar dari keadaan rohani yang terjepit. Bukankah era pandemi adalah celah sempit untuk dikau dan daku untuk keluar dari kebiasaan iman? Dan merasakan kesempatan memandang DIA dari sela-sela bebatuan.

Berkelit, sambil merangkak melalui celah sempit, di antara batu cadas yang tajam, hingga keluar dari kebiasaan. Berdiri di atas bukit kelepasan, kutarik napas dalam-dalam, sambil lepas memandang ke pegunungan.

Aaahhh, terasa udara segar, ruang terbuka lebar. Betapa piciknya daku selama ini, memandang DIA hanya dari kebiasaan. Sekarang terasa bebas dari ikatan, tersedia ruang berbagai kesempatan. Peluang melihat ke dalam diri, untuk mencari arti hidup di masa pandemi.

‘Ya TUHAN, walau tidak mudah. Kiranya di era wabah, daku selangkah lagi maju dalam memahami arti ibadah. Meskipun hanya memandang punggungMU. Itupun sudahlah puas jiwaku.’ (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Photo by Ola Dybul on Unsplash

Comments

comments