Jangan Menghakimi Orang Lain

Viewed : 4,680 views

Matius 7:1-2
Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

Kita sering begitu peka menilai orang lain, terlebih jika mereka melakukan apa yang menurut kita salah. Kita sering menjadi hakim atas orang lain. Kitapun memakai ukuran kita mengukur apa yang orang lain perbuat.

Di sisi lain, kita membenarkan diri sendiri. Ukuran yang kita pakai untuk menilai orang lain tidak sama dengan mengukur diri sendiri. Standar untuk kita, kita buat menjadi lebih rendah, atau mungkin kita tiadakan.

Apa yang Tuhan Yesus katakan dalam ayat di atas, kiranya dapat membuat kita lebih mengoreksi diri. Biarlah sebelum menilai orang lain, kira periksalah dulu diri kita.

Galatia 6:4
Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.

Jika kita menemukan diri kita bersalah, akuilah itu di hadapan Tuhan, dan ambil langkah pertobatan.

Jika kita menemukan diri kita benar menurut standar firman Tuhan, bersyukur dan teruslah lakukan seperti itu. Berdoalah kepada Tuhan agar kita dimampukan untuk terus menjadi pelaku kebenaran.

Jika kita menemukan orang lain bersalah, doakan mereka. Bila ada kesempatan, bolehlah komunikasikan hal itu dengan maksud mereka berubah dan menjadi lebih baik. Bukan menjadi hakim, tapi bertindak sebagai sahabat untuk mengangkat mereka.

Yang lebih berat terkadang adalah bila orang lain berbuat apa yang salah menurut kita, dan kita merasa tidak nyaman dan dirugikan.

Untuk yang satu ini butuh kekuatan ekstra dari Tuhan. Untuk hal seperti ini sering butuh waktu untuk betul-betul kita dapat memaafkan. Butuh kebesaran hati dan jiwa untuk melupakannya. Sering pula ada bekasnya walau kita sudah memaafkan. Dapat bangkit lagi perasaan dikecewakan. Ibarat luka yang telah sembuh, ada bekasnya. Ini fakta dan nyata adanya. Tidak ideal memang. Di sinilah kita sering melihat betapa kerdilnya kita. Betapa tak berdayanya kita menerima orang apa adanya.

Sahabat yang budiman…
Walau kata-kata di atas terasa kurang berkenan dalam penulisannya sebab kurang sempurna dan memang tidak sempurna sama sekali, atau dirasa terlalu ideal, mohonlah penulisnya dimaafkan. Maksudnya tidak lain adalah agar kita menjadi pribadi yang lebih baik dan hubungan sesama kita menjadi lebih erat satu sama lain. Bila hal ini terjadi, maka penulisnya akan merasa damai yang mendalam.
Terpujilah Kristus kekal selamanya.

Selamat beraktivitas.
Tetap semangat dan tetap jaga kesehatan!

Tuhan Yesus Kristus menjaga dan memberkati kita.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Image by mohamed Hassan from Pixabay

Comments

comments