263. Kotak-kotak Kehidupan

Viewed : 535 views

Situasinya semakin tidak pasti. Serangan si virus semakin menjadi-jadi. Tadinya dianggap itu akan pelan-pelan segera berhenti. Faktanya itu sudah sampai di lingkaran inti, bahkan sudah menghampiri diri sendiri. Tidak tahu bagaimanakah keadaan di kemudian hari, jika si Corona tidak juga mau pergi-pergi? Mungkinkah masa-masa seperti dulu akan kembali?

Dari pada hidup dalam khayalan, terus menerus harap-harap cemas masa silam kembali menjadi kenyataan. Mungkin lebih berguna menerima arahan hidup dari si virus yang tidak kelihatan. Menyesuaikan tingkah laku, seturut dengan pedoman aturan baru.

Penyesuaian ini tentu tidaklah mudah, khususnya kalau itu sudah menyangkut perkara ibadah. Jika tradisi ibadat sudah bak pembulu darah, masih mungkinkah itu akan diubah?

Ooo, begitu kuasanya sang wabah. Tidak ada satu otoritas pun yang dapat membantah! Semuanya bak terkapar, umat Tuhan dipaksa sadar. Baik kelompok yang merasa pakar, maupun minder merasa tak terpelajar. Semua didorong dengan kasar, agar jema’at kembali kepada kebenaran dasar.

Clergy system does more to undermine the canonical authority of the New Testament than other heresies. (James D. G. Dunn, New Testament scholar).

Pernyataan di atas kasar, dari seorang pakar! Anggapan pekerjaan rohani terpisah dari kegiatan duniawi, merusak lebih berat dari pada doktrin yang salah dimengerti. Perkara dikotomi tersebut bak luka parah tertusuk belati yang tajam, demikianlah umat sejak belasan abad yang lalu dibiarkan salah faham. Hingga si Corona mengucapkan: ’Salam!’

Selama itulah, kehidupan umat terkotak-kotak alias terpisah-pisah. Itu seumpama gelas yang pecah, hidup terbelah-belah. Tidak disadari, jenis kegiatan menjadi penentu kwalitas rohani. Tercabik-cabiklah kehidupan umat, hampir-hampir mustahil kembali itu direkat. Sampai seluruh dunia dilanda bulan-bulan penat.

Sudah sekitar 17 abad, kehidupan umat digiring ke dalam kotak-kotak.

Bukankah semua jema’at hampir sepakat? Bahwa kegiatan membaca Alkitab itu jauh lebih rohani dari pada mempelajari buku manual pengoperasian alat berat? Yang pertama diyakini sebagai kegiatan rohani, sedangkan yang lain itu perkara-perkara jasmani. Yang ini bersifat kekal, yang itu temporal.

Bukankah spontan akan dianggap? Mereka yang kidungkan puji-pujian di depan altar, itu jauh lebih berkenan di hati Tuhan dibandingkan dengan teriakan serak para pedagang kebutuhan rumah tangga di pasar? Yang ini persembahan yang wangi di hadirat Tuhan. Yang itu hanya memikirkan kebutuhan keseharian.

Bukankah tidak ada lagi yang berpendapat lain? Jikalau di hari Minggu pergi beribadah ke gereja, itu jauh lebih mulia dari pada hari Senin pagi pergi bekerja. Yang ini berhubungan dengan kehidupan sorga. Sedangkan yang itu hanya menyangkut perkara dunia.

Apa pun yang Saudara lakukan —Saudara makan atau Saudara minum— lakukanlah semuanya itu untuk memuliakan Allah. (1 Korintus 10:31, BIS)

Si virus menyadarkan daku dan dikau bahwa anggapan itu bukanlah demikian. Kerohanian dikau tidaklah bergantung kepada jenis kegiatan. Isi hatilah yang menentukan, bukan jenis pekerjaan. Bahkan yang paling duniawi pun -karena hanya berhubungan dengan perut- dapat juga digunakan untuk kemulian Tuhan.

Kebenaran ini memberi harapan. Kembali bergairah kehidupan orang beriman. Pecahan gelas itu sekali lagi direkat menjadi satu kesatuan. Gugurlah kotak-kotak kehidupan. Tidak ada lagi dikotomi yang saling bertentangan.

Entah daku seorang rohaniawan, ataupun dikau bekerja di restoran. Barangkali daku sedang lantunkan puji-pujian, ataupun dikau sedang menyetrika pakaian. Di hadapan Tuhan, sekali lagi! Di hadapan Tuhan, itu tidak ada perbedaan. Semuanya ada potensi besar untuk memuliakan Tuhan. Karena itu bergantung kepada hati tuan dan puan. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Photo by Rod Long on Unsplash

Comments

comments