407. Cerita Kehidupan

Viewed : 305 views

Siapakah sangka? Kaidah-kaidah utama dalam memahami DIA tersembunyi dalam drama keluarga, cerita perang, kisah asmara, puisi ungkapan hati yang memikat jiwa. Dari kisah mengenaskan, seperti konflik abang adik, hingga pengkhianatan sohib, sahabat karib menusuk dari belakang. Itu terbungkus rapi dalam drama kehidupan.

Ini strategi cerdik, taktik jitu bagi kalbu nan dahaga. Mengapa? Mungkinkah karena manusia cenderung mencari formula, definisi, atau bahkan aksioma untuk menjelaskan segala perkara? Akan tetapi, dari suatu cerita, siapa saja yang membaca dapat mengambil kesimpulan yang beraneka. Cerita membuka peluang untuk masing-masing bebas mengambil makna.

DIA senang menyembunyikan nilai-nilai utama dalam berbagai bentuk dan rupa kisah hidup nyata manusia. Fondamental idea justru terungkap dalam drama perebutan -mempertahankan- kekuasaan. Kisah pilu peradaban, sejak dahulu bahkan hingga sekarang, persoalan politik, ya sekitar itu-itu melulu.

Ini kisah bak permainan anak-anak, petak umpet. Pelarian Daud dan gengnya dari dendam hati seorang raja, Saul. Siapa duga, dalam perburuan musuh bubuyutan ini terkandung suatu misteri cara kerja antar antribut di dalam diri-NYA. Bagaimana relasi harmonis tiada tara antara kemahakuasaan dan kemahatahuan, serta kedaulatan-NYA dalam kaitan dengan tanggungjawab manusia sebagai insan bermoral, makhluk yang memiliki kehendak bebas.

Pengertian misteri hubungan foreknowledge – predestination – free will tidak dikau dapat dalam bentuk penyataan kalimat-kalimat filsafat yang hebat-hebat. Apalagi dalam format maklumat doktrin yang harus dipegang erat-erat. Sebaliknya, itu tersamar dalam drama kehidupan, terselip dalam kisah nyata umat manusia sepanjang peradaban.

Lebih seru lagi, Mesias membungkus misteri pengajaran-NYA dalam perumpamaan-perumpamaan dari kehidupan nyata sehari-hari. Bagi golongan yang merasa cendikia, sulit menangkap artinya (Yohanes 10:6). Namun bagi jiwa yang haus nan dahaga, cerita sehari-hari itu tepat nian dengan kerinduan sukma akan DIA.

Jikalah demikian, maka dari kisah kota Kahila dapat dipetik prinsip bahwa pengetuahuan-NYA akan masa depan tidaklah mengharuskan peristiwa itu telah ditentukan pasti terjadi sebelumnya (1 Samuel 23: 6-13). Di sisi lain, pengetahuan-NYA akan masa depan yang terjadi, mungkin sudah ataupun mungkin juga tidak ditentukan sebelumnya (1 Samuel 23:1-5).

So, foreknowledge dan predestination itu dua hal yang terpisah. Yang pasti, DIA memahami kemungkinan semua peristiwa yang terjadi dengan teliti dengan berbagai batasan kondisi (prinsip: jika, maka). Bukankah bagi DIA tidak ada teka-teki? Semua terbuka bak di siang hari (Iberani 4:12)

DIA paham betul apa yang akan terjadi di Taman Eden. DIA tahu segala kemungkinan yang akan berlangsung. Apakah hanya Hawa, misalnya, yang akan memakan buah itu? Ataukah sejoli, dua-duanya, sepakat melawan titah-NYA? Ataupun kemungkinan Adam Hawa menolak bujuk rayu si ular seperti yang dikehendaki-NYA!

Meskipun begitu, terang benderang bahwa pengetahuan-NYA tentang apa yang akan berlaku di Taman Eden tidak mendorong peristiwa pengkhianatan terhadap diri-NYA itu terjadi (Hosea 6:7)! Sebaliknya, justru karena pengetahuan itulah, DIA siap menyediakan solusinya!

Penyelesaian dari pemberontakan manusia ini telah ada di dalam benak-NYA jauh sebelum alam semesta tercipta. Jawaban terhadap ketidaktaatan Adam Hawa adalah suatu resiko yang sangat mengerikan!

Bagi daku, membayangkan saja pemecahan persoalan ruwet kejatuhan manusia pertama itu sudah menakutkan! Terbayang, DIA yang kudus suci, tak berdosa, harus dianiaya hingga mati mengenaskan di atas kayu salib (1 Petrus 1:18-20)!

Jika DIA sudah maklum apa yang akan terjadi di Eden, mengapa DIA terus dengan rencana penciptaan dan merelakan manusia mengambil pilihan sendiri? Jika jalan keluar begitu menyesakkan, apakah gunanya menciptakan manusia?

Ya… apa untung-MU, ya TUHAN? Entahlah, daku tidak tahu! (Mazmur 8:3,4).

Yang dijamin pasti, DIA rela berkorban diri! Asal dikau dan daku hadir di muka bumi! Walau ancaman resiko yang begitu ngeri siap menanti, seakan-akan DIA tidak peduli. Bukankah itu esensi cinta ilahi yang selalu memberi memberi dan memberi?

Begitu kesemsemkah DIA dengan Adinda, sehingga memilih dikau dan daku hadir di dunia? Supaya melalui cerita hidupmu, kemurahan-NYA dialami oleh sesama! Begitukah? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments