Bless The Broken Road

Viewed : 2,015 views

Apakah kita pernah kecewa? Pernah merasa sendirian dalam hidup? Merasa hidup tidak adil? Lebih ekstremnya lagi menyalahkan Tuhan dan kecewa kepada-Nya.

Bless the Broken Road merupakan lagu yang dirilis pada tahun 1998, kemudian ditafsirkan menjadi sebuah film yang berjudul “God Bless the Broken Road”. Film ini dirilis pada tahun 2018.

Apa hubungannya kecewa, merasa sendiri dan hidup terasa tidak adil dengan lagu dan film? Mari kita bingung sejenak πŸ˜…

Lagu dengan nada lembut ini secara tidak sengaja terdengar olehku pertama kali, saat memutar playlist secara random lagu dari Music Travel Love. Mereka banyak cover lagu, dan salah satunya *Bless the Broken Road*. Lagunya sedap didengar dan ditambah lagi video clip menampilkan indahnya alam Bedugul.

Selain menikmati lagunya, timbul rasa penasaran selanjutnya, apa makna dari lagu ini? Saat coba mencari tahu lebih banyak tentang lagu ini, muncul juga informasi mengenai film yang diadaptasi dari lagu ini. Semakin penasaran.

Kita bahas sedikit filmnya. Pemeran utamanya bernama Amber. Dia kehilangan suami saat tugas militer, kehilangan rumah, dan kehilangan kepercayaan dari anaknya. Amber awalnya seorang Kristen yang taat. Sangat bersemangat melayani Tuhan. Tugasnya sebagai paduan suara di gereja.

Bagaimana ekspresi kekecewaannya? Dia mulai tidak ke gereja lagi, menjauhi persekutuan dan hidupnya tidak ada damai lagi. Dia berjuang sendiri untuk memenuhi tagihan hutang dan pada akhirnya harus kehilangan rumah karena disita oleh bank. Puncak kekecewaannya saat anaknya kabur dari rumah setelah mereka berdebat. Anaknya lebih memilih tinggal sama neneknya setelah ditemukan saat hilang. Dia meluapkan kemarahannya dan menyalahkan Tuhan atas semuanya itu.

Pada akhirnya dia sendiri luluh dan mulai berbalik lagi kepada Tuhan. Mulai sharing jujur dengan komunitas, memperbaiki hubungannya dengan anak dan mertuanya, dan kembali lagi bernyanyi di gereja. Damai sejahtera kembali lagi menghampirinya.

“Broken road” yang dihadapi Amber sangat tidak mudah. Pasti kita juga memiliki “broken road” dengan versi yang berbeda.

April-Juni 2021 adalah “broken road” terparah dalam hidupku. Mempertanyakan kembali maksud Tuhan. Puncaknya saat kami bertiga kena covid.

Markus 5:28 “Sebab katanya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”

Ayat ini dikirimkan sama mas Pras pas aku lagi isolasi mandiri saat itu. Iman untuk sembuh. Iman untuk berjuang dan Tuhan ada untuk menolong. Iman bahwa masa depan sungguh ada dan dia akan mempersiapkan pekerjaan yang terbaik.

Efesus 2:10 adalah ayat janji bagiku. Pekerjaan baik yang diberikan Tuhan untuk menjadi tukang roti πŸ˜„. Persiapan dan penyertaan Tuhan bagi kami selama menjalankan usaha ini sungguh nyata kami rasakan. Sampai detik ini kami merasakan semua karena anugerah dan kasih karunia-Nya. Kami sering melontarkan pertanyaan, kok bisa ya kita buat seperti ini? Jawabannya karena ada Tuhan yang menolong kami πŸ˜ŠπŸ™πŸ½.

Tuhan belum selesai saat kami mendapat “broken road”. Dia tahu kualitas jalan yang baik. Dia selalu ada asal mau kembali kepada-Nya. Bersama Tuhan tidak ada yang mustahil.

Bagi kami sekarang apa yang kami jalani sekarang bukanlah dampak dari pandemi, melainkan berkah dari pandemi πŸ˜„. Kesempatan kami semakin banyak memperkatakan bahwa Tuhan baik dan Dia akan selalu setia menolong. Seberapa parah pun “broken road”, Tuhan sanggup memulihkan semuanya.

“No matter where life takes you, faith takes you further.”

“That God blessed the broken road that led me straight to you.”

Tuhan memberkati
Denpasar,221123

Ian Bangun, Couplepreneur dengan istri di bidang Bakery dengan brand Memori Cake Bali. Dari jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Unpad dan sekarang jadi tukang roti. Di sela kesibukan baking dan mengurus anak masih sangat senang untuk menulis. Fokus menulis untuk menceritakan kebaikan Tuhan dari setiap proses kehidupan yang dialami.

Comments

comments