Kemarin, aku merenungkan tentang bahagia. Hal ini terlintas ketika aku mengajak Blessa ikut mengantar roti. Karena jaraknya tidak terlalu jauh. Pas sampai tempat pengantaran aku bilang ke Blessa untuk tunggu di motor dan jangan turun. Dia mengikuti dan memegang erat spion motor.
Ternyata rotinya harus diantar ke dalam ruangan. Aku memanggil Blessa untuk ikut masuk. Dia langsung turun dari motor dan cepat-cepat menuju ke arahkku. Tidak lupa Blessa sambil tersenyum dan kami masuk ke dalam untuk mengantarkan roti.
Bukan pertama kali Blessa ikut mengantar roti. Sampai Blessa hafal apa yang diucapkan. Begitu sampai tempat pengantaran, dia langsung bilang “permisi.” dan setelah roti diterima dia juga langsung bilang “terima kasih, bye bye, see you soon.” Penerima roti biasanya langsung tertawa dan sangat bahagia melihat Blessa seperti ini.
Nah, pas di siang itu aku terpikir. Apakah Blessa bahagia dengan kondisi kami saat ini? Apakah dia akan protes dengan keadaan kami? Apakah dia mengharapkan lebih dari yang kami bisa berikan?
Beberapa hari yang lalu juga kami mengundang teman untuk makan malam bersama di rumah. Tujuan kami hanya mendengarkan bagaimana kehidupan yang dijalaninya sekarang. Apakah dia masih akan melanjutkan bisnisnya atau hal apa yang akan dicapainya?
Kami sangat terberkati dengan kisah teman ini. Dia kehilangan ayah dari kecil. Sebagai anak tertua, dia mengambil peran juga membantu cari nafkah bersama ibunya. Sampai dia bisa berkuliah, lulus dan sekarang baru keterima kerja di tempat sesuai jurusannya pas kuliah.
Satu hal yang membuatnya kuat adalah karena keadaan. Pernah satu waktu dia bilang salah satu hal yang paling berat dijalaninya, ketika di pantai dia melihat teman-temannya berbahagia bisa bermain karena lagi liburan dan dia saat itu di pantai lagi berjualan. Pasti berat rasanya mengalami hal tersebut.
Aku bilang ke dia bahwa mentalnya berjualan sudah sangat terasah. Soal teori kalau ada yang mau ditanyakan kita akan diskusikan bersama. Dia kuat juga karena keadaan. Dan hatinya untuk melayani dan terbeban untuk orang lain sangat besar. Mendengar pengalamannya seperti ini sangat memberkati kami.
Kembali lagi ke hal bahagia tadi. Kami sepakat bahwa Blessa bisa bahagia bukan dari materi yang kami berikan. Bukan karena kemewahan dia akan mendapatkan kebahagiaan. Tapi, bagaimana kami menunjukkan rasa bersyukur dengan apa yang ada. Blessa bisa melihat kami bersehati terus menjalani bisnis sekarang.
Memang kondisi bisnis kadang pasang surut. Saat orderan lagi sepi, disitulah saatnya quality time dengan Blessa. Dan memang benar. Saat sore hari kami keluar Blessa sangat senang. Dia langsung ambil helmnya baru kemudian helm kami. Sebelum berangkat tidak lupa Blessa langsung bilang “pray”. Sepanjang jalan dia akan bernyanyi dengan lagu yang dia suka 😁.
Memang bahagia itu kita yang menentukan. Apakah standarnya ke harta, kemewahan, jabatan, reputasi, dan lainnya? Atau hanya sekedar beryukur kepada Tuhan sudah sangat membuat bahagia dan damai?
Tuhan memberkati
Denpasar, 080623
![]() |
Ian Bangun, Couplepreneur dengan istri di bidang Bakery dengan brand Memori Cake Bali. Dari jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Unpad dan sekarang jadi tukang roti. Di sela kesibukan baking dan mengurus anak masih sangat senang untuk menulis. Fokus menulis untuk menceritakan kebaikan Tuhan dari setiap proses kehidupan yang dialami. |
Photo by Thiago Cerqueira on Unsplash



