207. ’A Long Road’

Viewed : 633 views

Sang Cinta seakan berdiri sambil memandang tertegun. Pandangan ke depan polos Dia serasa melamun. Bukankah sejak semula semuanya rukun-rukun? Setiap ekspresi cinta dirangkai dalam tutur kata sopan nan santun.

Bukankah masih terngiang-ngiang ucapan janji setia? Tekad untuk senantiasa menyenangkan hati Sang Cinta. Cinta bertabur tegor sapa nan mesra. Setiap kerlingan mata menggoda. Kata-kata bak puisi cinta mengalir deras dari Adinda berdua. Hangatnya cinta terasa lama. Semuanya bak cinta pertama pengantin muda belia.

“Pergi dan serukanlah pesan ini di jalan-jalan Yerusalem bahwa TUHAN telah berfirman begini: Aku ingat ketika dahulu, seperti pengantin muda, engkau ingin sekali menyenangkan hati-Ku. Engkau sangat mengasihi Aku dan mengikuti Aku bahkan melalui padang pasir yang gersang sekalipun. (Yeremia 2:2 FAYH)

Mengapa perpisahan ini harus terjadi? Mengenaskan kisah cinta polos nan murni. Siapa duga cinta demikian dikhianati. Rasanya baru bulan madu kemarin namun harus diakhiri. Cinta berakhir bak mimpi. Hangatnya cinta ini kok singkat sekali. Kenyataan ini sakit bak nyeri tertusuk ulu hati. Dan itu terasa hingga kini.

‘Apa salah-Ku?’ kata Sang Cinta. Tak menyangka. Seakan Dia bertanya. Ragu-ragu dengan fakta yang ada. Geleng-geleng kepala tak percaya. Adam dan Hawa pergi meninggalkan Dia. Kekasih main mata. Mengkhianati cinta. Betapa ngilu hati yang lara. Menahan sakit hati yang terluka.

‘Apa? Aku curang?’ keluh-Nya. Walau Dia diduga. Dituduh sebagai biang segala perkara. Daku dan dikau mencurigai-Nya. Namun, Dia diam seribu bahasa. Bak gigit bibir Dia tak bersuara. Kertakkan gigi sabar tak berdaya.

‘Ooo Aku dijauhi!’ guman-Nya kecewa. Cinta-Nya yang seluas samudera. Kasih-Nya yang tak terkira. Kesetian-Nya yang tak lekang karena cuaca. Bagaimana mungkin masih juga daku dan dikau pergi meninggalkan-Nya? Menuduh Dia kambing hitam segala perkara. Walau tak terucap, bukankah itu yang terlontar dari sikap?

Beginilah firman TUHAN: Apakah kecurangan yang didapati nenek moyangmu pada-Ku, sehingga mereka menjauh dari pada-Ku, mengikuti dewa kesia-siaan, sampai mereka menjadi sia-sia? (Yeremia 2:5)

Kisah cinta Taman Eden tinggal kenangan. Itu sudah sirna terbawa angin malam. Perlahan tapi pasti. Adam dan Hawa harus pergi. Melangkah di jalan kelam yang sepi. Berdua menapaki. Tidak ada teman harus jalan sendiri. Ikuti pilihan hati. Lembah kelam menanti. Kaki melangkah kapankah akan terhenti?

Jalan ini panjang teman
Banyak kelokan nan terjal kawan
Ujungnya entah di mana
Tak tahu itu akan berakhir di mana

Melangkah dengan beban berat
Sarat kepedihan hati jiwa yang penat
Tetaplah maju walau sekarat
Di ujung sana kisah ini juga akan tamat

Jalan kelam penuh lara
Begitulah hati setiap manusia
Meluber dengan nestapa
Melangkah sendiri tak peduli sesama

Jalan ini panjang nan sulit teman
Tiap langkah tak dapat ditarik kembali kawan
Sementara melangkah ke dunia sana
Marilah mulai berbagi beban dengan Saudara

(inspired by He Ain’t Heavy, He’s My Brother)

Bukankah hati-Nya pahit sekali? Melihat mereka harus keluar dari Taman Eden. Bak anak sendiri berjalan ke ujung kematian. Mana ada orang tua yang tega membiarkan. Sebagai orangtua walau penuh kelemahan. Siapakah yang tahan? Setiap yang masih ada hati pasti prihatin. Memandang anak sendiri tertunduk lusuh berjalan di lembah kelam. Di depan bahaya siap sedia mengancam. Namun tak seperti orangtua, Dia diam.

Demikianlah, ketika mereka menjauhkan diri dari Allah dan bahkan tidak mau mengakui-Nya, Allah membiarkan mereka melakukan apa saja yang terlintas dalam pikiran mereka yang jahat itu. (Roma 1:28 FAYH)

Cinta memang pilihan. Ternyata Dia bukan diam. Justru, daku dan dikau dipersilakan. Mengikuti hati dan pikiran. Karena cinta Dia rela daku dan dikau ambil jalan. Jalan panjang nan kelam. Jalan yang Dia tidak harapkan. Bahkan itu tidak pernah muncul dalam angan-angan. Apalagi Dia rencanakan.

Selamat datang di dunia rekaan. Alam buatan. Menurut pilihan. Daku dan dikaulah yang menentukan. Selamat datang di dunia yang penuh kegelapan. Sumber terang telah ditinggalkan. Jangan heran. Biasa saja kawan. Karena akhirnya semua berhenti di ujung kematian. Sebab semua menjauh dari sumber kehidupan.

Seakan Dia bungkam sejak itu. Senda gurau mesra di Taman Eden telah berlalu. Kisah asmara telah berubah menjadi dingin membeku. Membatu!

Aaahhh!

Mungkinkah cinta ini dapat kembali seperti dulu? Kala selalu rindu untuk bertemu. Bukankah begitu di Taman yang telah berlalu. Ataukah itu hanya khayalan palsu? Yang setiap agama menggebu-gebu. Setiap denominasi mengaku-ngaku. Yang paling dapat membantu. Mengembalikan kerinduan itu.

Hati-hati! Jangan tertipu teman! Jalan masih panjang kawan. Jalan sulit nan kelam. Marilah berbagi beban. Mengasihi sesama insan. Bisa jadi itulah jalan. Jalan kembali untuk ke Taman Eden! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Johannes Plenio from Pixabay

Comments

comments