206. ’Dark Valley’

Viewed : 944 views

Adam dan Hawa berat hati melangkah. Keluar dari taman yang penuh berkah. Hidup di dunia yang dilanda wabah. Alam yang tak ramah. Ikuti naskah.

Manuskrip pilihan. Cerita hidup yang ujungnya perpisahan. Kematian yang menyakitkan. Itulah nasib setiap insan.

Pohon kehidupan telah ditinggal di belakang. Pedang api menjaga dengan menyambar melayang-layang. Akses ke pohon telah terhalang. Itu tinggal bayang-bayang. Taman Surga telah hilang.

Eden tinggal kenangan. Kenangan yang memilukan. Kangen yang tidak akan pernah terpuaskan. Kembali seperti di Eden tinggal impian.

Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan. (Kejadian 3:24)

Kini! Hidup terpatri. Ikuti naskah pilihan sendiri. Riwayat hidup manusiawi. Lahir dan kemudian mati. Drama kehidupan yang tak henti-henti.

Menangis dan tertawa. Kecewa dan bangga. Sengsara dan sejahtera. Kalah dan juara. Pergi dan kembali. Itu terjadi setiap hari. Romansa yang menyakitkan hati.

The whole earth is wrapped in darkness, all people sunk in deep darkness, (Yesaya 60:2,
The Message, terjemahan bebas: Seluruh bumi terperangkap dalam kegelapan. Semua insan tenggelam di dalam gelapnya malam.)

Di setiap halaman dibungkus gelapnya malam. Adegan-adegan kelam. Tak ada senda gurau di jalan lembah kelam. Semuanya terlihat hitam. Gelap gulita menyelimuti alam. Semuanya tenggelam. Terbenam. Dalam buku narasi pilihan Adam.

… berjalan dalam lembah kekelaman, (Mazmur 23:4, The Message: the way goes through Death Valley,)

Selamat jalan, teman! Di lembah gelap nan kelam. Ayo jangan diam. Kiri kanan hitam. Tidak ada yang kelihatan. Melangkah sendiri tidak ada teman. Setiap tapak jantung berdetak deg-degan. Tak ada patokan. Seakan meraba-raba dalam kegegelapan. Tak tahu apa yang di depan. Tetaplah melangkah, kawan. Semua menuju kepada titik penghabisan. Kematian!

Darimanakah datangnya kegegelapan? Apakah itu diciptakan? Ataukah itu ada karena terang ditinggalkan?

Kala terang mulai redup maka gelap menggantikannya. Adam dan Hawa mengabaikan Dia. Sumber terang bercahaya. Sang Terang rela dikau ambil jalan suka-suka. Lalu kegelapan menguasai dunia.

Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. (1 Yohanes 1:5)

Apes! Begitulah nasib yang menimpa umat manusia. Kematian sebagai akhir tujuan. Itulah naskah asing, manuskrip pilihan. Cerita tanpa kehadiran Pohon Kehidupan. Sendiri melangkah tertatih-tatih di jalan. Kegelapan menjerat setiap kehidupan insan.

Bagaimanakah mungkin melihat dalam kegelapan? Ataukah lebih pas? Daku dan dikau tak dapat lagi memandang. Apalagi bicara muka dengan muka dengan Sang Terang! Terlalu silau untuk dipandang. Memori tegor sapa di Taman Eden tinggal sebatas dikenang.

Lagi firman-Nya: “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” (keluaran 33:20)

Di lembah kelam, wajah-Nya terlihat buram. Raut rupa-Nya sudah pudar. Suara-Nya samar-samar. Tak jelas didengar.

Setiap orang dapat menyangka. Daku dan dikau dapat merasa. Bertemu dengan Sang Pencipta. Sudah berbicara dengan Sang Kuasa. Mengalami kehadiran-Nya. Mendengar suara-Nya.

‘Sila saja!’ Ikuti yang diduga. Bukankah setiap orang dapat bilang cinta?

Bukankah usaha itu menjadi dasar semua agama? Itulah akidah ataupun dogma utama. Menghadirkan wajah-Nya yang sudah pudar walau harus dengan cara paksa. Ikuti prosesi ritual agama. Yang hanya dapat dilakukan oleh tokoh-tokoh istimewa. Dengan demikian umat dapat percaya. Diyakinkan bahwa Dia hadir di tengah-tengah mereka.

‘Sila saja!’ Ikuti yang direka-reka. Bukankah setiap orang dapat bilang cinta?

Celaka! Bisa jadi Allah yang dipuja-puja. Dia yang disembah oleh umat percaya. Sama saja dengan Allah yang tidak dipercayai oleh kaum ateis (mereka yang percaya adanya Tuhan). Dua-duanya itu bukan Allah yang disembah Musa!

Bukankah? Masing-masing ada kebebasan memilih sesuai selera. Daku dan dikau dapat mereka-reka. Mencipta sendiri allah yang disuka!

‘Sila saja!’ Ikuti selera. Bukankah setiap orang dapat bilang cinta?

Aaahhh! Kerinduan untuk kembali seperti di Taman Surga. Bersendagurau dengan Sang Cinta. Merasakan ikatan asmara. Emosi bergejolak di dada. Kerinduan tiada tara.

Teringat romantika cinta dengan Sang Cinta. Bercengkrama bak berhadapan muka. Tegor sapa tanpa perantara. Dapat bicara apa adanya. Tidak harus ikut urutan-urutan sakral untuk berbicara. Tak ada ritual agama. Jauh dari rasa bersalah karena dosa. Apalagi rasa malu karena tak berbusana. Saat berdehempun adalah sebuah doa. Kapankah itu kembali? Seperti dulu lagi. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by PDPhotos from Pixabay

Comments

comments