Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference. (Robert Frost)
Dua jalan bercabang di hutan, dan aku—
Aku ambil jalan yang jarang dilalui,
Dan itu telah membuat semuanya jadi berbeda.
Perjalanan hidup ini, sejatinya adalah perjalanan hati. Setiap orang harus menjalani. Jalan tak henti hingga nanti. Terserah, itu disadari ataupun disangkali. Yang pasti, setiap orang harus tentukan sendiri. Langkah kaki. Tarian hati. Di setiap cabang jalan yang di hadapi. Ke kakan ataukah ke kiri.
Pilih yang kelihatan aman terkendali? Sila ikuti jalan yang ramai dilalui. Ataukah berani berpetualang? Ambil jalan setapak yang jarang dilalui! Jalan mendaki yang tak disukai. Lintasan berduri, tak populer, dan beda sendiri.
Setiap pilihan mengarah ke hutan rimba. Ujungnya jauh di kaki cakrawala. Tak ketahuan hentinya dimana. Sayang, belum ada yang pernah sampai di sana. Namun, dikau harus tentukan ikuti jalan yang mana. Jalan ramai bak jalan arteri. Ataukah rintisan sempit yang harus dilalui sendiri?
Cinta itu pilihan. Adam dan Hawa telah tentukan. Pilihan yang membuat cinta sederhana ditinggalkan. Sang Cinta diabaikan. Dan Dia Diam. Dia dilupakan. Faktanya, daku dan dikau dapat cinta gadungan. Cinta yang lain. Cinta yang lebih kelihatan. Cinta sekelas patung-patung tuangan. Sedih! Dengan itu, daku dan dikau sudah merasa terpuaskan. Bukankah ini yang namanya zinah rohani yang telah lama diperingatkan (Immat 17:7)?
Sebab engkau telah melakukan perbuatan jahat lebih dari semua orang yang mendahului engkau dan telah membuat bagimu allah lain dan patung-patung tuangan, sehingga engkau menimbulkan sakit hati-Ku, bahkan engkau telah membelakangi Aku. (1Raja Raja 14:9)
Sang Cinta menjadi kabur. Dia samar-samar. Allah jadi abstrak, tak nyata. Hati dingin. Enggan tegor sapa. Mau kemana romantika cinta ini dibawa? Siapa yang tahan dalam hubungan asmara yang tak ada cinta?
Jalan ramai, jalan patung tuangan. Sang Cinta diwujudnyatakan. Dia konkritkan sehingga dapat diletakkan sesuai dengan kemauan. Daku dan dikau bermain cinta, cinta buatan. Sang Cinta, sejati, disingkirkan.
Tragedi Allah yang samar-samar ini menyakitkan.
Kita cenderung untuk mewujudkan apa yang tidak kelihatan. Melalui ritual ibadah, yang tak kelihatan menjadi nyata karena Dia dirasa dapat dipaksa untuk dihadirkan. Dengan kidung pujian kita lega sebab merasa Dia sudah senang dielu-elukan. Karena persembahan, anggap sudah menjalankan hukum yang diperintahkan. Dan, aaahhh, Dia tersingkirkan.
Bukankah dengan hafal banyak ayat merasa paling tahu yang tak kelihatan? Semua juga angguk-angguk setuju. Bahwa yang ikut pemuridanlah yang paling tahu jalan. Kepada siapa bertanya kalau ada pilihan? Yes, semua akan berpaling kepada kaum elite rohaniawan. Nada liar di dada diabaikan. Dan, aaahhh, Dia tersingkirkan.
Ilmu pengetahuan menambahkan. Sir Isaac Newton bangga dengan temuan, mechanistic universe. Yang menyatakan bahwa alam semesta ini dikendalikan. Semesta ini dikontrol oleh hukum alam yang masuk akal jika dijelaskan. Stephen Hawking menyempurnakan. Dari kursi rodanya, dia tertatih-tatih menyuarakan. Allah tak dibutuhkan! Dia tak diperlukan. Dan Dia disingkirkan.
Bagaimanapun, sejatinya, ini kisah cinta yang diselewengkan. Ternyata cinta gadungan tak dapat diandalkan. Hati jadi kosong keroncongan. Kesepian. Haus tak terpuaskan. Sang Cinta satu-satunya yang dapat memuaskan hasrat hati yang tak terucapkan. Namun, Dia disingkirkan. Dia dibuang dari kehidupan.
Dia terluka! Dia diam Syukurlah, The Deepest Secret tidak bungkam!
Sediakah berpetualang? Ambil jalan sempit, lintasan sepi, dihiasi duri dan kanan kiri jurang. Pengembaraan tak karuan di hamparan padang luas membentang. Ritual kehidupan yang dihindari orang. Siapkah dikau jika dituduh yang bukan-bukan oleh mereka yang terpandang? Karena dengan sikapmu itu tokoh dan pemuka agama akan meradang.
Perjalan jauh sepanjang kehidupan. Jalan ramai dan sepi, bedanya tipis. Itu bukan beda kelas bak jalan bebas hambatan dan jalan desa. Bukan pula karena pilihan pileg yang berbeda. Itu ibarat mendengar suara nada liar, wild longing, di dada.
Jalan sempit itu bak api yang menghanguskan. Cinta yang memabukan. Gejolak cinta tak karuan. Untuk Sang Cinta, apapun dilakukan! Yang tak mungkinpun dikerjakan. Pernahkah dikau rasakan jatuh cinta habis-habisan? Ini bagai orang edan karena gak ikut aturan! Adakah yang mau ikutan? Jalan setapak ke dalam hutan.
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. (Matius 5:39)
Ups! Wah, jujur, aku cenderung pilih jalan tol bebas hambatan. Jalan cinta gadungan. Ikuti ritual buatan kaum rohaniawan. Moga dikau tidak demikian. Ambil sikap tidak asal-asalan. Walau sakit, pilih yang bukan kw-kwan. Selamat memilih jalan. Moga dapat cinta yang memuaskan hati yang tak terucapkan. Semoga! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by Kirk Fisher from Pixabay



