Hakekat Allah adalah kasih. Adam dan Hawa tercipta karena cinta. Saudara ada juga karena cinta-Nya. Tak ada sesuatupun yang ada di luar cinta-Nya. Segala sesuatu ada dari tiada. Karena cinta maka itu ada. Jadi, jauhlah dari kenyataan bahwa dikau tercipta karena kecelakaan. Tidaklah juga, dikau ada karena kebetulan. Bukan pula dikau ada tidak untuk apa-apa. Apalagi Sahabat ada karena mengada-ada.
Allah kesengsem untuk dicintai. Dia rindu dicintai. Bukan berarti Dia memerlukan cintaku. Tidak juga Dia membutuhkan cintamu. Jauhlah dari kebenaran bahwa Allah menuntut ciptaan untuk mencintai-Nya. Tidak pula Dia mengancam. Apalagi menakut-namuti, agar mausia mencintai-NYA. Namun, halaman-halaman Alkitab cukup memberi fakta bahwa Dia rindu akan cintamu!
Aaahhh, bagaimanakah dapat memahami ini?
Ibarat seorang ayah yang menantikan kabar. Berita dari anak sulung. Si nakal. Pemberontak yang telah lama meninggalkan kampung. Namun demikian, dia tetap dicinta. Terus dicari. Disayang tak terkira.
Lihatlah! Sang ayah. Hati gelisah. Tidur susah. Makan payah. Rindu baca SMS walau satu kata. Hancur hati. Sayang! Tidak ada kabar. Tiada berita. Setiap jam. Setiap hari. Dia menanti tak henti-henti. Bilakah dia akan kembali? Dapatkah dikau rasa? Hati ayah yang nestapa. Menunggu, tak tahu berapa lama. Kerinduan tak terkira terhadap ananda. Tegor sapa tetangga. Tak ada arti apa-apa. Begitulah cinta-Nya kepada Anda. Mampukah dikau rasa? Hati Bapa!
Seumpama sejoli. Melawan semua logika. Bertentangan dengan norma agama. Tetap mencinta walau si jantung hati berubah setia. Selingkuh! Di depan mata! Bukan hanya sekali. Itu terjadi berkali-kali. Hati getir. Kalbu merintih. Betapa pahitnya hati! Cinta dihiyanati. Tapi dia tetap mencintai. Cinta tak berubah. Stabil tak henti. Menanti tanpa tahu kapan si jantung hati akan kembali. Begitulah cinta-Nya. Tidakkah dapat dikau rasa?
’Man is God’s risk.’
Dalam hubungan dengan manusia, Tuhan rasakan rindu duka dan suka. Gejolak emosi terjal bak gunung dan jurang. Memang dalam cinta terkandung resiko segudang. Kemungkinan tak terbilang.
Cinta tak dapat dipaksakan. Dia biarkan cinta bersemi karena kerelaan. Dia ciptakan manusia ada kemampuan moral. Kebebasan tentukan pilihan. Membiarkan cinta-Nya kemungkinan ditendang! Dan Dia diam! Dia biarkan. Sila, dikau tentukan pilihan.
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, (Kejadian 2:16,17)
Dulu begitu. Sekarangpun demikian.
Pilihan cinta? Ada di tangan dikau seorang. Sang Kuasa-pun tak berdaya mengendalikan pilihan cintamu. Cinta tak dapat diatur. Tak dapat dikendalikan. Bahkan oleh Sang Kuasa sekalipun! Sang Maha Kuasa dapat melakukan apa saja. Alam semesta tercipta dengan perintah-Nya. Tak ada yang mustahil bagi Dia. Akan tetapi, dalam hal cinta, pilihan ada di tangamu. Kekuatan. Kekuasaan. Tak ada yang dapat mengkontrol cinta. Kekuasaan Sang Maha Kuasapun, sepertinya, tak cukup untuk membujuk hatimu untuk mencintai-Nya.
Ups! Itu kan dulu. Zaman purba sudah lama berlalu. Tidak. Itu masih berlaku. Sekarangpun masih begitu!
Pilihan cinta? Ada di tanganmu. Entah dikau memilih ibadah sejati yang kena di hati-Nya. Ataukah ritual ibadah yang tak pernah timbul di hati-Nya? Itu pilihan. Hi hi hi ngeri! Dan Dia diam.
Hanya dari pilihan sukarela timbul cinta murni. Cinta sejati. Itu cinta yang Dia nanti. Dari dikau seorang diri. Moga Dia menemukan cintaku asli. Dan hatimu murni. Cinta sejati. (nsm).
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |



