Makhluk sorga pun ternyata tidak sepenuhnya DIA dapat percayai dan tidak luput dari salah, apalagi manusia yang berasal dari debu tanah (Ayub 4:17-19). Makhluk ciptaan tetaplah ciptaan, tidak sempurna. Secara definisi, ketidaksempurnaan mengindikasikan ada potensi untuk berbelok ke kanan ataupun ke kiri.
Demikian juga mereka yang ada di alam sana, sama-sama makhluk ciptaan. Sama saja, ada kemungkinan untuk balik kanan, melawan. Dengan bahasa lain, semua makhluk ciptaan ada pilihan untuk ke kiri ke kanan atau tetap dalam barisan.
Walau Adam Hawa sebagai pembawa citra Sang Pencipta, namun mereka tetaplah makhluk ciptaan, bukan Allah. Oleh karena itu baik manusia maupun makhluk-makhluk adikodrati ada kemungkinan untuk menyimpang maupun tidak setia.
Do you think it’s possible for any mere mortal to be sinless in God’s sight, for anyone born of a human mother to get it all together? Why, God can’t even trust his holy angels. He sees the flaws in the very heavens themselves, (Ayub 15:14-15 M)
Elifas sebagai sahabat Ayub dalam ayat-ayat tersebut, mengulangi lagi akan fakta bahwa bahkan makhluk-makhluk supernatural juga dapat menyimpang, alam sorgawi pun tidak luput dari ktidaksempurnaan. Apalagi manusia yang terbuat dari debu tanah (Ayub 4:17-19).
Daku sungguh sulit mencerna fakta ini. Jika DIA tahu bahwa menghadirkan manusia di bumi ada kemungkinan akan mendatangkan tragedi, mengapakah DIA kekeh menghadirkan alam insani? Tidakkah ada alternatif lainnya yang lebih piawai?
Sialnya! Kemalangan itu tidak hanya menghantui dunia sini, namun juga merambat ke dunia yang di sana. Dua alam yang ternyata menyatu dalam diri manusia. Intrik-intrik melawan DIA di alam sini, apakah demikian juga adanya di alam sana?
Mungkinkah sebab musabab semua ini karena di dalam diri pembawa citra ilahi ada atribut sejati? Free will, kemampuan yang menandakan bahwa makhluk itu tercipta menurut gambar dan rupa ilahi (Kejadian 1:26). Kehendak bebas untuk mengambil pilihan jalan sendiri.
Kemampuan untuk membuat pilihan sendiri merupakan anugerah dari Sang Ilahi. Bolehlah dikatakan, kemampuan unik itu dimiliki oleh manusia di bumi, begitu pun mereka yang menjadi anggota sidang ilahi di alam sorgawi (Mazmur 82:1, 89:6).
Dengan demikian, jika Adam Hawa di Eden memilih jalan rayuan si ular, apakah ini juga menunjukkan bahwa di alam sana juga tidak ada jaminan bahwa makhluk-makhluk sorgawi tidak akan dapat menyimpang?
Bukankah itu dengan jelas dipertontonkan dalam trailer di Taman Eden? Dan DIA diam, seakan-akan berpangku tangan sambil mengamati free will diwujudnyatakan dalam tindakan. DIA tidak intervensi, sebaliknya mempersilakan makhluk dari ke dua alam menjalankan identitas asli sebagai makhluk pembawa citra ilahi, kebebasan mengambil pilihan sendiri.
Setiap tindakan campur tangan sekecil apapun terhadap kebebasan itu, menunjukkan kebebasan itu dicederai. Apalagi jika adegan di Eden diatur sedemikian rupa, tak ubahnya itu hanya sandiwara sementara pemainnya bak robot belaka yang mengikuti skenario sutradara.
Aaahhh..! Kalau demikian, bukankah atribut kehendak bebas itu dapat mendatangkan resiko bagi Sang Pencipta? Namun di sisi lain, itu pulalah yang membuat daku dan dikau sebagai manusia! Tanpa atribut itu maka Adinda bukanlah makhluk yang tercipta menurut rupa dan gambar Sang Kuasa.
Entah bagaimana, tidak tahu yang ada di pikiran-NYA, bagaimana suasana hati-NYA, tatkala DIA memutuskan untuk memulai mencipta. Dengan status sebagai makhluk tidak sempurna, hanya DIA yang sempurna, penciptaan manusia dengan kehendak bebas ada potensi akan melewati batas.
Rasa-rasanya DIA rela menghadapi kemungkinan resiko itu hanya untuk agar Puan dan Tuan terlahir di dunia! DIA memilih menghadirkan peradaban daripada Adinda ada dalam mode eternal absence! DIA berkenan menghadirkan daku dan dikau di Persada Nusantara walau bayang-bayang Golgota terwujud di depan mata (Efesus 1:9)! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |

