136. ‘Kena Hati-Nya’

Viewed : 1,267 views

Sahabat! Dunia sedang cepat berubah. Jangan gegabah. Dunia sedang dipenuhi berbagai informasi. Sikapi dengan jeli. Saatnya berpikir tangkas. Bertindak cerdas. Ingat! Semua bisa saja mengikuti. Sayang! Itu belum tentu kebenaran yang hakiki. Dewasa ini era keterbukaan. Semua dipertanyakan. Perioda ’sudah begitu dari dulu,’ disangsikan. Tak ada yang tabu untuk diragukan. Di dunia rohanipun tak terkecualikan. Kebenaran sejati memerdekakan. Yang KW akan ditinggalkan.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Matius 22:37)

Ups! Akal budi. Daya nalar. Daya pikir. Logika. Dalam kerohanian itu tersingkirkan. Dinomor duakan. Bahkan sering diabaikan. Terlupakan. Tak diapa-apakan. Dibiarkan. Dianggap berlawanan. Bertentangan dengan iman. Jadi? Jangan bertanya! Terima begitu saja. Itu sudah dari sono-nya. Ssssttt, itu tabu untuk sekedar didiskusikan.

Sebaliknya!

Dalam bisnis itu dimainkan. Apalagi di bidang penelitian? Itu dimaksimalkan. Setiap data dianalisa. Setiap langkah dipertimbangkan. Semua tindakan telah lebih dulu melewati pendalaman. Investigasi. Observasi. Evaluasi. Semua dipertanyakan. Setiap informasi berharga sebagai bahan kajian. Perusahaan yang bertahan dalam belantara penuh persaingan. Perusahaan yang berani berubah walau tidak mengenakkan. Siap belajar dari awal. Mereka yang terpaku dan berasumsi: ‘Dari dulu juga begitu!’ Maaf, ditinggalkan! Atau akan tinggal kenangan dilibas zaman.

Bagaimana ini? Kok, bisa begini?

Para ahli. Rombongan Phd dari top universiti. Kaum awam berpendidikan. CEO berpengalaman. Politikus kawakan. Pakar dan para intelektual yang beriman. Mengapa? Ya, mengapa? Kalau diskusi diet dan kesehatan semua berminat mendengarkan. Ada saja temuan baru yang didambakan. Diskusi kurs dollar, takkan dapat dihentikan. Prospek bisnis tahun depan. Kemajuan research AI (artificial Intelligence) yang dikhawatirkan. Apalagi wacana pilpres yang akan datang. Semua ada pikiran. Merasa yang lain perlu mendengarkan.

Mengapa? Ya, mengapa?

Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.” (Yeremia 1:3. The Message: The ox knows who’s boss, the mule knows the hand that feeds him. But not Israel. My people don’t know up from down: Lembu paham siapa bosnya, keledai tahu tangan yang memberinya makan. Tapi bukan Israel. Umat-Ku tak tahu apa-apa).

Jika berhadapan dengan ibadah. Mendengar pengajaran dasar-dasar iman. Semua yang menyangkut isu agama. Kalau sudah bicara masalah ritual. Semua diam seperti tak ada akal. Bagai kerbau dicocok hidung. Lakukan semua tanpa mempertanyakan. Maaf, dalam yang satu ini. Lembu lebih pintar dari cendikiawan. Keledai mumpuni dari yang berpendidikan. Paling tidak, mereka paham. Mereka tahu. Siapa boss dan yang memelihara kehidupan!

suatu hal yang tidak pernah Kuperintahkan dan yang tidak pernah timbul dalam hati-Ku. (Yeremia 7:31. Versi Ingrris, NLT: it never even crossed my mind to command such a thing!: itu tidak pernah terlintas dalam pikiran-Ku untuk memerintahkan hal semacam itu.)

Ada kemungkinan Yeremia 1 dan 7 itu terjadi kala umat sudah tak bertanya lagi. Ini sudah dari dulu begini. Dari generasi ke generasi. Ikut saja apa kata ahli elite rohani. Tapi, siapa yang berani? Intropeksi. Sekedar bertanya kepada diri. Apakah ritual ini? Untuk apa semua ini? Gagasan dari mana semua ini? Mengapa harus begini?

Hi hi hi ngeri! Bentuk ibadah. Ritual korban. Bahkan itu tak terlintas dipikiran Sang Ilahi! Hal-hal yang tak terlintas di hati-Nya.

Think smart! Gunakan akal budi. Kenal Sang Ilahi. Jangan mau kalah dengan sapi. Apalagi dengan keledai dan biri-biri. Tapi, siapa yang mau peduli? ‘Dari dulu juga begini.’

Hi hi hi ngeri! Ritual ibadah zaman now adakah itu seperti di hati-Nya? Puji-pujian gegap gempita di Minggu pagi. Tarian korban persembahan seperti yang diinginkan-Nya? Seperti yang diperintahkan-Nya?

Hi hi hi ngeri!

Jangan hanya mengembek kepada yang menyebut diri ‘hamba Ilahi.’ Gunakan akal budi. Saatnya kaum awam ambil kendali. Pilihan di tangan sendiri. Pilih yang ada di hati Sang Ilahi. Itu cinta sejati. Tak terwakili. Walau oleh kaum elite rohani. Moga itu kena hati-Nya. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.

Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Comments

comments