Sahabat! Cinta Tuhan kepada kita terlalu misterius untuk dapat diselami. Tingginya bagaikan bumi dari langit, tak terbatas. Dalamnya hingga ke dunia orang mati, tak dapat diseberangi. Itu di luar dimensi insani. Kalau logika sudah buntu, biarkan hati yang memandu!
”Mencintai adalah kata kerja,
Dicintai adalah kata sifat, Tapi cinta bukan kata benda, Cinta itu kata hati.” (Candra Malik)
Cintalah yang melahirkan karya gemilang nan fenomenal. Alam semesta, bumi dengan flora dan faunanya adalah hasil gemilang dari Sang Cinta. Perhatikanlah kitab Kejadian pasal 1 tentang penciptaan: ’Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi.’ Alam semesta, langit dan bumi beserta seluruh isinya baik yang kasat mata maupun tidak. Semua ada dengan sabda ’Jadilah, maka jadi!’
Namun ceriteranya lain, ketika itu berhubungan dengan manusia. Seolah-olah (atau memang begitu) sorga terdiam. Ada diskusi, ada sidang ilahi (Mazmur 82:1)! Berapa lama pembicaraan itu? Sehari, setahun, atau sampai 1.000 tahun? Wah, itu pertanyaan tidak pada tempatnya! Maksudnya? Begini! Diskusi hangat itu semuanya terjadi sebelum dikenal kata ‘kemarin, hari ini, dan lusa’! Itu terjadi dalam suatu ‘masa’ dalam keabadian. Lalu, apa yang dirundingkan? Topiknya tunggal. Agendanya hanya satu, tak lebih tak kurang. Pokok perhatian satu-satunya, tak lain dan tak bukan, adalah dikau!
Wow wow wow! Akhirnya mufakat tercapai dan Sang Cinta tersenyum lega: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,” (Kejadian 1:27). Maka ‘tampillah dikau’ dalam abad ke 21 ini dan menjadi bagian sejarah RI baik tercatat maupun hanya bak titik dalam data statistik. Itu tak mengurangi arti keberadaan Saudara. Mengapa? Karena cintalah yang melahirkan dikau. Dikau itu special design, bukan kodian. Apalagi karya coba-coba. Diciptakan dengan detail, teliti, akurat dan dengan polesan cinta. Di setiap helai rambut dan rumitnya susunan syaraf, jejak kaki dan sidik jari Sang Cinta terlihat. Dan ooo, riwayat hidupmu adalah kisah ‘hidup’ Sang Cinta itu!
Ribuan tahun kemudian setelah mufakat itu, dalam hubungan cinta yang jatuh bangun, nabi Yesaya sepertinya mengingatkan SANG CINTA, siapa dikau! ”Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” (Yesaya 64:8). Dan dalam penderitaan yang tak alang kepalang, Ayub menyingkapkan isi kalbu Sang Cinta yang misterius terhadap dikau:
”Engkau akan rindu kepada buatan tangan-Mu.” (Ayub 14:15); Homesick with longing for the creature You made, ( The Message: Allah rindu gunda gulana, kangen berat akan dikau! ).
Aaahhh! Dunia boleh mengabaikanmu. Secara ekonomi, edukasi, bahkan prestasi dikau boleh tak masuk hitungan. Bisa saja kau rasa hidupmu gagal, tak ada talenta, dan semua berantakan. Penyakit yang menahun, kelemahan tubuh yang menyiksa, dan akhir hidup tak seperti yang diharapkan hingga orang-orang menggeleng-gelengkan kepalanya! Ingat, dikau itu special design. Allah rindu habis akan dikau. Itu bagaikan Saudara rindu rumah setelah 2 bulan tugas di luar kota. Itu namanya homesick. Ibarat ‘home sweet home’, tak ada tempat senyaman rumah. Begitulah Dia nyaman disisimu! Ayo dengarkan kata hati (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by Ylanite Koppens from Pixabay




