150. ’Cinta Rindu Cinta Pilu’

Viewed : 973 views

Sudahlah! Tak perlu sedih. Tak ada guna meratapi. Ini telah terjadi. ‘Nasi telah jadi bubur.’ Sejarah habis ditoreh. Nasib. Takdir setiap insan telah pasti. Tak dapat diulangi. Yang lalu tak mungkin kembali. Adam telah tentukan pilihan. Ritme dan nada telah diputuskan. Tarian setiap insan. Tarian duka. Tarian manusia. Sepanjang masa.

Adam yang memilih. Tentukan nasib seluruh umat manusia. Insan yang sudah berlalu diiringi dengan tarian itu. Aku dan dikau juga hidup dalam bingkai itu. Mereka, keturunan yang akan datang, tak juga dapat menghindar. Dulu begitu. Sekarangpun berlaku. Selamanya seperti itu. Semuanya ikuti irama Adam. Tarian kehidupan.

Cinta itu masalah hubungan. Bukannya hanya perasaan satu pihak. Namun, relasi antara Adam dan Sang Cinta. Ikatan hati-Nya dengan hati umat manusia. Kesetiaan terhadap janji. Bak ikrar sehidup semati. Itu cinta sejati. Cinta atas pilihan sendiri. Murni. Itu yang Dia cari.

Cinta terluka, maka hubunganpun cidera. Kasih mesra berubah saling curiga. Kemesraan berujung enggan tegur sapa. Rindu berbalik jadi benci. Kata-kata lembut nan syahdu. Tiba-tiba menjadi kasar nan kaku. Buluh perindu berubah jadi irama pilu.

Jika itu terjadi? Maka ada yang tak beres di antara dua hati! Dua hati yang saling jatuh cinta. Cinta terciderai. Sakit sekali. Hingga ulu hati! Komunikasi jadi berantakan. Ucapan sering jadi salah pengertian. Tidak nyambung. Diam, salah! Bicara, apalagi! Apapun ujungnya jadi saling menyerang.

Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” (Kejadian 3:10)

Tadinya, kangen berjumpa. Wajah-Nya senantiasa menjelma. Rindu bercengkrama. Kekasih hati. Kekasih jiwa. Mencintai-Mu adalah kehidupanku. Tak mungkin hidup tanpa-Mu. Lebih baik tidak makan apa-apa. Dari pada abai menyapa. Di sisi-Mu. Itu kesenanganku selalu. Detak jantung. Nafas hidup. Sejujurnya, Engkaulah segala-galanya. Hangatnya cinta. Itulah cinta semula.

Sekarang? Jadi enggan bersua. Tak tahu berkata apa. Jadi bingung harus bagaimana. Tak tahu harus mulai dari mana. Cinta membeku. Kaku. Dingin. Hangat cinta telah berlalu. Wajah mesra jadi angker menakutkan. Mata sayu jadi tajam menyeramkan. Mata itu seakan garang curiga. Bak penyelidik KPK memperhatikan ujung rambut hingga kaki. Dan aku didapati telanjang. Aku kena OTT (Operasi Tangkap Tangan). Aku malu. Muka, mau dikemanakan? Akhirnya sembunyi. Berusaha melupakan.

Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. (Kejadian 3:23)

Ooo cinta. Cinta yang dilukai.

Tadinya, kekasih hati. Menjadi satu-satunya pusat curahan hati. Senantiasa rindu peluk mesra. Seakan tak mau berpisah. Tak dapat diceraikan. Ibarat slogan ‘hingga maut memisahkan.’ Seolah seperti cinta pertama. Sekali untuk selamanya. Yang Satu berkata: ‘Engkau jantung hati-Ku. Kekasih-Ku. Gambaran jiwa-Ku. Peta dan rupa-Ku.’ Yang lain menyambut: ‘Engkau hidupku. Roti. Air. Makanan jiwaku. Tempat aku berteduh. Gunung batuku. Engkau yang memberi makna hidup. Tanpa-Mu, hilanglah arti keberadaanku.’ Itu diucakpan dengan bisikan. Rayuan yang menghanyutkan. Merdu. Lemah lembut. Itu cinta yang lagi dimabuk asmara. Cinta pertama.

Sekarang? Jadi kasar. Tega. Seolah menjadi musuh utama. Bahkan hingga keluar kata-kata: ‘Sayang! Tak dapat lagi dipertahankan hubungan ini! Kau sudah keterlaluan. Apa yang kurang? Teganya kau menusuk dari belakang. Selamat tinggal. Kau telah tentukan tarian. Silakan mainkan! Sesuai pilihan.’ Dan Dia diam. Merenung nasib sepanjang malam.

Ooo cinta. Cinta yang dinodai.

Tadinya, diberkati. Sediakan semua yang dibutuhkan. Di taman sorga, taman cinta, semua serba ada. Tak perlu belanja. Tidak dibutuhkan aqua. Air jenih di mana-mana. Tak dibutuhkan vaksin. Kadar gula, tak perlu diperiksa. Lemari es, tidak berguna. Makanan segar setiap saat tersedia. Sejahtera dan sehat senantiasa. Indahnya hidup di taman sorga. Siapa yang tak suka?

Sekarang? Jadi tulah di mana-mana. Diusir dari taman sorga. Bukan dengan bahasa halus. Tapi memaksa dengan pedang yang menyala-nyala (Kejadian 3:24). Seakan seperti Satpol PP mengusir pedagang kaki lima. Membiarkan kekasih menderita. Telanjang. Hidup seadanya. Hidup di alam liar. Onak dan duri di mana-mana. Peluh menjelma. Sakit luar biasa. Duka. Air mata. Itu nyata. Hingga sekarang. Bukankah itu dikau dapat rasa?

“TUHAN telah menetapkan matahari di langit, tetapi Ia memutuskan untuk diam dalam kekelaman. (1 Raja-Raja 8:12, The Message: GOD has told us that he lives in the dark where no one can see him; Terjemahan bebas: Allah telah menyampaikan kepada kita bahwa Dia tinggal dalam kekelaman yang tak seorangpun dapat melihat-Nya.)

Lengkaplah sudah. Aku lari. Dikau sembunyi. Yang lain kucing-kucingan. Dan Allah putuskan diam di tempat tak terhampiri. Cinta rindu jadi cinta pilu. Taman sorga jadi taman duka.

Kapankah cinta seperti ini akan berlalu? Mungkinkah pilu berubah jadi buluh perindu? Dendangkan lagu cinta seperti dulu? Aku tak tahu! Pilihan ada di tangan sendiri. Sila tentukan ritme dan nada tarian. Selamat menari! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Comments

comments