151. ’Pahitnya Cinta’

Viewed : 885 views

Cinta ternodai. Cinta Terluka. Belahan hati tak setia. Hati mendua. Betapa sakitnya! Ketika kekasih hati ingkar janji, tak tahu lagi kemana harus pergi! Langit runtuh. Impian berlalu. Jiwa layu. Kalbu kelabu. Ke siapa harus mengadu?

Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” (Kejadian 3:12,13)

Sahabat! Tatkala cinta mendua. Selagi kekasih serong. Selingkuh. Semasa hati kekasih beralih. Dapatkah dikau rasakan nada dan emosi dialog Sang Pencipta dengan manusia pertama? Bukankah itu jauh dari harmonis. Tak ada canda tawa. Apalagi kata-kata mesra. Semuanya reaksi cepat tangkisan semata-mata.

Tarian cinta telah berubah jadi saling curiga. Tegor sapa beralih berprasangka. Belaian lembut ganti ujud syak wasangka. Di mana canda? Mengapa dikau begitu waspada. Dikau Kulihat berubah seketika. Dikau tak seperti Dia kenal dulu kala. Aku. Dikau. Semua keturunan Adam, manusia pertama. Semuanya sudah berubah setia. Di taman sorga begitu. Sekarangpun seperti itu. Tak berubah hingga masa berlalu.

Siapa yang menciptakan sang perempuan? Siapakah pula yang berulah menciptakan Ular? Tak tahulah. Aaahhh. Tahulah dikau kemana arah jawaban sang manusia. Mencari kambing hitam! Adam tak memegang kata. Sang manusia yang ingkar sabda. Dia yang pilih nada. Tentukan sendiri ketukan irama.

Dan dan dan. Allah yang menjadi terdakwa. Dipersalahkan. Biang segala malapetaka. Maaf! Allah bak pesakitan duduk kaku menerima tuduhan jaksa! Sang Kuasa dipidana! Begitulah sikapku dan sikapmu! Di taman sorga begitu. Sekarangpun seperti itu. Tak berubah hingga masa berlalu.

Siapa yang harus pergi?
Siapa yang akan kembali?
Siapa yang gelisah menanti?
Tak jelas lagi sejak kita tak punya hati! (CM)

Ya. Siapa yang harus pergi? Keadaan ini tidak bisa dibuat terus seperti ini. Cinta murni telah dikhianati. Cinta sejati telah dikangkangi. Aku telah dibohongi. Kepercayaan-Ku telah digadai. ‘Ok-lah, kalau begitu! Itu maumu. Pilihanmu.’ Silakan ambil jalan sendiri. Sekehendak hati, jika dikau masih memiliki. Taman sorga bukan untuk manusia mendua hati. Tidak seperti insan yang dulu Kuingini.

Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden… Ia menghalau manusia itu…(Kejadian 3:23,24)

Ups! Siapa yang akan kembali? Taman sorga tinggal kenangan. Eden hanya khayalan. Silakan bermimpi! Namun harap diingat, itu tak akan jadi. Aku. Dikau. Semua keturunan Adam sepanjang zaman sudah diusir dari Eden, taman sorgawi. Tak ada yang mampu kembali. Walau dikau rindu setengah mati. Agama tidak mumpuni. Ilmu pengetahuan, apalagi! Jalan ke Pohon kehidupan telah dibentingi. Mustahil manusia menembus pedang yang berapi-api.

…ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan. (Kejadian 3:24)

Aaahhh! Siapa yang gelisah menanti? Allah! Bak kisah Bapa yang menanti anak sulung kembali ke pangkuan (Lukas 15: 11-32). Kitab Kejadian hingga Wahyu. Kisah miris bapa-bapa leluhur Nuh dan Abraham. Sejarah bangsa Israel. Drama keluarga dan romantika percintaan Simson-Delila. Lika liku kehidupan Yusuf. Nasib malang Ayub. Hingga drama manusia dengan konspirasi jahat dalam seorang tokoh Daud. Kidung, puisi, dan mazmur. Serta reinkarnasi Sang Firman. Bukankah itu semua menggambarkan tentang Allah yang gelisah menanti kembalinya keturunan Adam?

Gawat! Celaka! Tak jelas lagi sejak kita tak punya hati! Aku kehilangan hati! Gelisah? Maaf, aku tak rasa apa-apa. Memangnya ada apa? Semuanya baik-baik saja. Dari dulu juga serupa saja. Berjalan seperti biasa. Aman-aman saja. Hingga bahkan bertanya: Memangnya Dia ada?

Dia tersingkir. Ditendang dari hati. Diabaikan. Dianggap pengganggu seperti benalu. Beban yang memberatkan. Dan dilupakan. Bahkan di hal-hal religiuspun Dia dinomorduakan. Seolah-olah dibutuhkan, tak tahunya hanya pelengkap tampilan. Dia hanya sebagai penghias ucapan! Penggenap ritual. Agar tampilan elite rohani menawan. Dia tak ubah seperti pakaian rombengan. Diingat kalau dibutuhkan. Bak rongsokan. Dicari jika tak ada yang lain. Bukankah Allah dibuat demikian? Diperlukan jika dan hanya jika dibutuhkan.

Dia merana. Sedih. Pedih. Sendiri menanti. Menunggu aku dan dikau. Maaf! Jangan bayangkan Dia menanti sambil duduk-duduk di kursi goyang dengan ditemani secangkir kopi. Dia miris. Gelisah. Cinta sejati-Nya dikhianati. Dia sakit hati karena dikibuli. Itu terjadi berulang kali. Sepanjang hari. Cinta ternodai memang pahit sekali. Dikau akan rasa kalau masih punya hati. Dan aku, dikau, suku-suku bangsa, serta seluruh bani Adam dalam Efraim terwakili.

Efraim telah menimbulkan sakit hati-Nya secara pahit, (Hosea 12:15) …suku bangsa yang menyakitkan hati-Ku (Yesaya 65:3)

Moga masih ada yang punya hati. Sehingga dapat merasakan denyut nadi. Nadi cinta ilahi. Jikalau itu terjadi, sejatinya denyut itu tinggi. Dua hati menderita sakit sekali. Yang dicederai maupun yang menodai. Sama-sama nyeri di hulu hati. Masih adakah yang peduli? Lihatlah! Kekasih hati gelisah menanti.

Wah! Bagaimana ini? Adakah yang tersisa? Yang sedia. Dengarkan nadi cinta-Nya di tengah-tengah kebisingan dunia. Celaka! Aku budek, tak dengar apa-apa. Moga dikau masih peka. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Comments

comments