209. ’Expired Love’

Viewed : 839 views

Suasana ruangan terasa sepi. Tidak ada yang cukup tega mengeluarkan bunyi. Apalagi untuk interupsi. Semua mulut terkunci. Bingung, semua bertanya dalam hati. Masyaallah, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi. Tak percaya apa yang didengar sejak tadi. Masing-masing melihat kanan kiri. Akhirnya ada juga yang cukup berani. Bertanya untuk klarifikasi. Minta penjelasan agar tidak salah mengerti.

Semakin diuraikan makin kami ternganga. Siapa sangka? Selama ini mereka kelihatan begitu mesra. Siapa dapat duga? Hal seperti itu juga dapat menimpa orangtua. Tua renta di usia senja.

Setelah sekian dekade membina rumah tangga. Anak-anak semua sudah punya keluarga. Cucupun sudah ada. Tinggallah berdua. Suami istri di masa tua.

Cinta masa muda tinggal kenangan lama. Itu telah hilang entah kemana. Hangatnya cinta telah sirna. Kemesraan telah berlalu begitu saja. Hangatnya pelukan. Saling menyenangkan pasangan. Segalanya itu telah lenyap terbawa usia.

“Pergi dan serukanlah pesan ini di jalan-jalan Yerusalem bahwa TUHAN telah berfirman begini: Aku ingat ketika dahulu, seperti pengantin muda, engkau ingin sekali menyenangkan hati-Ku. Engkau sangat mengasihi Aku dan mengikuti Aku bahkan melalui padang pasir yang gersang sekalipun. (Yeremia 2:2 FAYH)

’Expired Love!’ ucap pak tua berulang-ulang dengan nada bergetar. Kami yang mendengar. Semuanya tercengang tak menduga. Tak percaya. Mendengar kata-kata. Kalimat polos apa adanya. Itu ajek dapat keluar dari mulut pak tua. ‘Sekarang saya urus diri sendiri. Pasangan sibuk dengan kegiatan itu ini. Ambil jalan masing-masing. Walau sakit, dia tidak peduli. Meskipun serumah, sejatinya kami terpisah. Apalagi yang dapat diharapkan dari… expired love!’ keluhnya tak henti.

Pak tua tertunduk. Bak meratapi nasib buruk. Wajah pucat berkerut. Terlihat jelas beban hidup. Tanda-tanda kelelahan tampak bak lampu habis minyak dan segera akan redup.

Kami yang menyimak ikut larut dalam emosi. Merasakan sakitnya hati. Kala kekasih tidak lagi peduli. Cinta menjadi dingin sekali. Janji tinggal janji. Ikrar yang diucapkan di depan kaum elite rohani. Itu seakan tak berbekas sama sekali.

Dan itu semua mulai terjadi kala dia purnabakti. Tidak lagi terima gaji. Tinggal ikut kegiatan-kegiatan rohani. Begitulah hidupnya dari hari ke sehari. Dia merasa seperti tidak ada lagi arti. Walau semua terpenuhi. Namun tanpa cinta semuanya tak berarti. Kalau hidup sudah seperti ini. Mau apa lagi?

Dapatkah dikau rasakan pahitnya hati? Kala kekasih tidak lagi peduli. Dunia runtuh. Kekasih hati sudah tak acuh. Seakan dia ada dan tiada. Itu tidak lagi berbeda. Seolah bicarapun tidak lagi ada guna. Tegor sapa tak ada makna. Akhirnya enggan bicara. Masing-masing ambil jalan sesukanya. ‘Aku ke sini, sila kau kesana!’ Malangnya hidup tanpa cinta!

Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat [itu seperti hubungan suami sitri] (Efesus 5:32).

Bukankah begitu relasi daku dan dikau dengan Sang Cinta?

Pengalaman di Taman Eden tinggal kenangan lama. Itu memori masa silam. Hanya nyata terbatas dalam debat di kelompok PA. Itu sejarah masa lalu sekadar bahan pelipur rindu. Dan umat percaya terbuai dengan bumbu yang dulu-dulu.

Relasi cinta bak pengalaman Adam dan Hawa. Tegor sapa di Taman Sorga. Berdua mereka tertawa. Menikmati hubungan mesra. Sang Cinta berjalan bersama mereka. Itu tinggal kenangan belaka. Menarik hanya terbatas disampaikan dari mimbar gereja.

Parah!

Tegor sapa dengan Sang Cinta berubah bentuk menjadi doa. Ungkapan hati yang rasanya tinggal kata-kata. Kalimat-kalimat indah yang terlontar ke udara. Diulang-ulang berharap Dia terjaga. Dan mendengar dari sana. Tak tahunya itu tak lebih sebagai alat peraga. Agar tokoh agama terpesona. Dan pelantunnya dikira akrab dengan Dia.

Ucapan mesra berubah ujud formil kaku. Setiap kata diurut bak kancing baju. Itu agar tertata menjadi baku. Sehingga umat mudah dipandu. Dituntun bagaimana cara ungkapkan isi kalbu.

Relasi cinta akhirnya menjelma menjadi ritual agama. Itu kelak menjadi resep berkomunikasi dengan Sang Cinta. Rumusan yang dipegang teguh oleh umat percaya. Mencoba menghadirkan-Nya dengan cara paksa.

Malang! Tak ada yang sempat bertanya. Ataukah semua sudah mengiyakannya? Ikut aturan agama. Aturan yang dengan ketat ditetapkan oleh pakar sorga. Dan Dia diam. Laksana Dia berkata: ‘Sila kalu itu maumu!’

Sejatinya! Daku dan dikau telah ambil jalan kelam. Membelakangi-Nya, Sang Sumber Terang. ’Kalau itu maumu. Itu keputusanmu. Sila ikuti jalanmu. Jadilah yang kau mau!’ Dan dikau dan daku pergi berlalu. Tinggallah Dia pilu. Melihat tingkah laku ku. Walau geram. Diam diam.

Expired Love! Cinta kedaluarsa. Sang Cinta seakan ada dan tiada. Keduanya tidak ada beda. Entah Dia dianggap ada. Ataupun kehadiran-Nya tidak dirasa. Dua-duanya bukankah hampir tidak ada pengaruhnya? Apalagi yang dapat diharapkan dari expired love? Manusia telah ambil jalan tanpa Dia! Moga dikau berbeda! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Image by Manuel Alvarez from Pixabay

Comments

comments