Penciptaan manusia adalah langkah yang teramat serius. Itu bukan permainan lucu-lucuan bak menonton sirkus. Daku dan dikau tercipta dari cinta yang sangat tulus. Cinta yang keluar dari hati-Nya yang betul-betul kudus. Suci. Mulia. Begitu indah. Tak ada yang disembunyikan. Semua terang diungkapkan. Tidak pula itu berbelit-belit membingungkan. Karena semua jalan-Nya lurus.
Sebagaimana di Taman Surga. Daku dan dikaupun adalah bak cinta pertama-Nya. Hati-Nya dipenuhi amor terhadap Adinda. Bagi Da, dikau seakan belahan jiwa. Tak ada lagi yang Dia pikirkan kecuali mencintaimu.
Layaknya bagi kekasih yang lagi jatuh cinta. Tidur terbawa mimpi. Wajahnya terbayang dari hari ke hari. Semua yang dipikirkan. Sekalian yang dikhayalkan. Apapun yang dikerjakan. Tak bisa tidak, itu hanya untuk sang kekasih.
Dikau itu menguasai hidup-Nya.
Ini kisah cinta abadi. Stori ini tak akan henti. Di Eden ini bermula. Berlanjut hingga di dunia. Dan terus sampai tercapai akhir masa. Hingga nanti di Surga. Pengetahuan akan sirna. Harapan berakhir karena telah menjadi nyata. Namun cinta akan berlangsung terus sebagaimana Dia ada. Babak berikutnya? Siapakah nyana? Narasi ini akan berlanjut hingga di seberang sana? Di seberang surga! Dan dan dan.
Dikau itu kekasih-Nya! Tetap untuk seterusnya.
Satu-satunya! Seolah-olah hanya dikau seorang yang hidup di alam semesta. Yang lain? Bak figuran! Pelengkap ungkapan. Penghias lukisan. Dikaulah jiwa-Nya. Dikau menjadi pusat perhatian-Nya. Seakan semua yang Dia lakukan semata-mata hanya untuk dikau seorang. Fokus cinta-Nya. Cinta-Nya utuh. Satu. Bulat. Dan penuh. ‘I love you, full,’ bisik-Nya.
Selama-lamanya! Kasih setia-Nya tak lekang ditelan masa. Kehangatan cinta-nya tak adem ditiup waktu. Gelora hati-nya tak menjadi surut karena tingkahmu. Di Eden cinta-Nya bergelora. Sekarangpun cinta-Nya membara. Begitulah seterusnya. Tetap sepanjang masa. Tak henti hingga di Nirwana. Itu tak berubah hingga di sebarang surga nan baka!
Pengantin perempuan [dikau] adalah kepunyaan pengantin laki-laki [Sang Firman]. Sahabat pengantin laki-laki itu hanya berdiri mendampingi dan mendengarkan, dan ia senang kalau mendengar suara pengantin laki-laki. Begitu juga dengan saya [Yohanes Pembaptis]. Sekarang saya senang sekali. (Yohanes 3:29 bahasa Indonesia versi BIS)
Betapa tak gembira. Hari yang dinanti-nantikan telah tiba. Orangtua bahagia. Handai tolan suka cita. Alampun bersenandung ria. Sejoli ikat janji nan mesra. Ikrar sehidup semati di depan pendeta. Momen tiada dua. Saat yang diimpikan. Segera terjadi setelah begitu lama didambakan.
Di seberang sana. Dia, Sang Penganten Pria. Tak sabar bertemu kekasih-Nya. Dia melangkah gagah diiringi malaikat dengan tarian-tarian. Dia melangkah menuju Taman Surga. Taman Eden lokasi prosesi pernikahan.
Maka menangislah Yesus [Sang Firman]. (Yohanes 11:35)
Hari yang seharusnya gembira berubah kelabu. Momen mesra berbalik dingin kaku. Seakan semua yang hadir menyaksikan ikut pilu. Malaikatpun merasa haru. Itulah saatnya kala tarian lagu Maumere berubah menjadi kidung sendu. Waktu pertama sekali muncul rasa malu. Ketika daku dan dikau didapati bersanding dengan seteru!
‘Tenganya dikau bermain mata di depan-Ku! Aku kelu.’ Dan dan dan. Dia menangis! Menahan sakit ngilu. Hati nyeri bak tersayat sembilu. Dia berduka. Itu diungkapkan dengan air mata. Bak kepala-Nya ditaburi abu.
Di Eden begitu. Itu juga serupa di Perjanjian Baru. Dan hati-Nya akan tetap sendu. Hingga nanti ketika waktu berlalu.
Cinta membara dikau siram dengan air beku. Kehangatan kasih-Nya dikau tukar dengan sembilu. Walau begitu, dikau akan tetap di kalbu.
Cinta-Nya membuat Dia tidak tega. Dia tidak rela. Dikau ada dalam bahaya. Kekasih hati mana yang tega melihat belahan jiwa menderita.
Cinta akan selalu begitu. Rindu segera untuk bersatu. Apakah itu sebabnya dikau hidup di dunia kelabu? Dunia penuh duri dan sendu. Dan bukan di Eden yang seperti dulu.
GOD said, “… What if he now should reach out and take fruit from the Tree-of-Life and eat, and live forever? Never—this cannot happen!” So GOD expelled them from the Garden of Eden and sent them to work the ground, the same dirt out of which they’d been made. (Kejadian 3:22,23 bahasa Inggris versi the Message)
Terjemahan: ALLAH berkata, “… Bagaimana jika dia sekarang harus menjangkau dan mengambil buah dari Pohon Kehidupan dan makan, dan hidup selamanya? Tidak pernah — ini tidak bisa terjadi! ” Jadi, ALLAH mengusir mereka dari Taman Eden dan mengirim mereka ke tanah, tanah yang sama dari mana mereka dibuat.
Cinta membara (the burning love) tetap akan seperti itu. Tak berubah. Ajek teguh sepanjang waktu. Hangatnya cinta mendorong Dia bertindak seperti itu. Merelakan kekasih hidup dalam onak dan batu. Dunia yang ganas dan liar. Hidup dengan peluh. Penuh musuh dan musibah.
Tidak pernah – ini tidak bisa terjadi!
Tak mungkin Dia membiarkan dikau hidup selama-lamanya dengan sembilu. Walau itu mungkin hidup nyaman di taman itu. Cinta itu lebih memilih dikau hidup dengan onak dan batu. Dan hingga kembali ke debu. Agar segera dapat bersatu!
Walau terasa beban berat. Hidup penat. Waktu terasa berlalunya lambat. Mari jalani hidup karena itu hanya sekejab. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by Gerd Altmann from Pixabay




