Kisah 20:24
Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah”
“Untuk apa manusia hidup?”
Begitulah sering muncul pertanyaan menyangkut hakekat hidup manusia. Atau lebih khusus lagi mungkin kita bertanya kepada diri sendiri, “Untuk apa saya hidup?”
Jawaban atas pertanyaan ini adalah penting, karena akan berhubungan dengan kualitas hidup yang kita hasilkan. Atau setidak-tidaknya mengingatkan kita bahwa hidup ini hanyalah terbatas dan membuat kita terdorong melakukan sesuatu yang bermanfaat dan bermakna.
Kalau ditanya ulang pertanyaan untuk apa kita hidup, maka salah satu jawaban umum adalah untuk memuliakan Tuhan. Jawaban ini sering kita dengar atau itu merupakan jawaban kita juga. Jawaban ini tentulah baik, namun agaknya terlalu umum… kurang spesifik. Apa jawaban yang khusus tentu berbeda-beda bagi setiap orang.
Allah telah mengaruniakan hidup kekal kepada kita. Yesus telah menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus kita. Dia telah dan akan memberikan apa yang terbaik kepada kita. Lantas bagi kita, apa yang layak dan pantas kita lakukan untuk merespons kasih-Nya itu? Apakah kita akan berdiam diri dan hidup untuk diri sendiri saja?
Setelah Yesus bangkit dan sebelum Dia naik ke Surga, Dia berpesan agar kita memberitakan dan mewartakan Amanat-Nya yang Agung. Kita disuruh menyampaikan kabar keselamatan kepada semua orang. Dia menyuruh kita menjadi saksi-Nya. Itulah pesan dan perintah-Nya.
Jadi untuk apa kita hidup?
Jawaban tepatnya adalah berpatokan kepada apa yang telah Dia lakukan dan kepada apa yang dia suruh.
Kita dirindukan Allah untuk menikmati keselamatan dan memberitakan kabar keselamatan itu kepada setiap orang. Untuk inilah kita hidup.
Hendaknya tujuan hidup kita bukan lagi sekedar sukses dunia, karena makna suksespun sangatlah relatif.
Tujuan hidup kita mestinya jauh di atas sukses menurut definisi dunia ini. Hidup kita adalah untuk menjadi teman sekerja Allah dalam menyampaikan rencana dan kehendak-Nya atas dunia ini.
Sebab itu marilah kita tetap bersemangat menyampaikan berita kabar baik tanpa jemu dan tanpa kenal lelah sesuai panggilan kita masing-masing.
Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kita. Amin.
Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |
Photo by Austin Schmid on Unsplash




