90. ‘Kisah Sorga’

Viewed : 624 views

Sobat sekalian. Sejauh ini kita berikhtiar untuk fokus. Itu tidak mudah karena begitu banyaknya hal yang lebih menarik di ‘luar sana’. Di era digital dan serba instant ini, umumnya umat terkesan segan untuk tafakur. Hidup serba cepat dan sibuk, tidaklah mudah berkontemplasi untuk merenungkan apa yang dibaca.

Kita sedang berupaya bersama-sama dan merenungkan demi mencari jawaban atas pertanyaan fundamental: ‘Mengapa dikau ada di dunia ini?’ Adakah alasan mengapa Saudara ada di abad ke 21 ini? Kalau rumah, mobil, deposito, karier bahkan suami sitri anak, semua yang ada di muka bumi ini akan ditinggalkan. Jika semua juga akan berakhir, aaahhh, untuk apa hidup?   

‘Kalau hidup hanya sekedar bidup, kera di hutanpun hidup. Kalau hidup hanya sekedar bekerja, kerbau di sawahpun bekerja,’ kata ustad kondang alm. Buya Hamka.

Agama, bahkan semua keyakinan, tak terkecuali agama Nasarani berusaha menjawab kegelisahan hati manusia itu sepanjang masa. Sepertinya upaya-upaya tersebut mentok di luar tembok Taman Eden. Ooo, apakah maksudnya semua agama tertahan di luar taman tersebut? Maaf, belum nyambung! Kok rasanya kurang setuju. Bukankah semua agama mengajarkan jalan menuju Sorga?  Setuju, semua agama mengajarkan jalan ke Firdaus (bahasa Yunani) or jannah (dalam bahasa Arab) ataupun kehidupan yang lebih baik di kehidupan berikutnya (reinkarnasi).

Namun, bagi jiwa yang dahaga, agama tidak memberi jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan yang fundamental tersebut. Agama ‘bisnis’nya mulai di luar tembok tersebut alias setelah manusia pertama memakan buah ‘apel’. Agama berangkat dari kejatuhan manusia ke dalam dosa dan bergelut bagaimana agar dia dapat masuk kembali ke dalam taman tersebut. Kalau begitu, apakah mungkin kuncinya ada di dalam taman misterius tersebut?

Ooo, pantesan untuk memahami ‘mengapa dikau ada di dunia ini?’ tidak dapat dimulai dengan kisah kejatuhan manusia kedalam dosa. Tak ada pilihan lain, kaki harus dilangkahkan. Sadar, betapa muskilnya maju melangkah walau hanya setapak mendekati gerbang Eden. Jika logika sudah buntu, biarlah hati yang rindu tampil di depan. Kendati samar-samar, kisah romantika Adam Hawa sebelum memakan buah ‘apel’ itu mulai terungkap!

Wow wow wow! Allah sudah mencintai dikau sebelum ada buah ‘apel’ bahkan sebelum ada Taman Eden! Sebelum ada waktu, Dia sudah terpincut dengan dirimu. Dikau itu kekasih-Nya. Cinta-Nya kepadamu itu penuh. Ini artinya tak berbagi dengan insan lainnya. Seakan-akan hanya Saudara yang ada di bumi ini.  Sejatinya, dikau itu diciptakan dengan cinta, dalam cinta, dan untuk cinta. Wah wah wah, keberadaanmu itu adalah Kisah Cinta, Kisah Sorga.

Walau s’ribu tahun t’lah berlalu                                                                      
Kisah cintaku tak kan beku                                                                         
Andai kisah cinta sekuntum bunga bunga                                                            
Ditelan masa takkan layu

Kisah cinta kisah sorga Tak mungkin lagi aku akan berpisah…                                       (dari lagu ’Kisah Cinta’ oleh Lilis Suryani)

Yes, ini kisah cinta yang takkan pernah beku ditelan waktu. Ini kisah cinta yang takkan layu dilibas waktu. Ini kisah cinta kekal abadi. Ini Kisah Sorga, kisah tentang Allah sendiri. Dan dikau ada di dalam kisah misterius ini! Ingat, dikau bukan kera apalagi kerbau. Hidupmu adalah kisah sorga!(nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Gordon Johnson from Pixabay

Comments

comments