Dari dahulu hingga sekarang, pertanyaan anak kecil hingga filsuf terpandang. Misteri sejak penciptaan hingga ketidakpuasan jawaban ilmu pengetahuan. Pertanyaan yang mengusik hati manusia hingga penafsiran liar setiap agama.
Mengapa daku dan dikau kok ada di dunia? Adakah maksud di balik keberadaan makhluk yang disebut manusia? Hidup ini layaknya hanya sebatas napas di kandung badankah? Berhenti berfungsi organ tubuh, berhenti pulalah riwayat daku dan dikau. Itu sajakah?
Apakah dunia ini hanya yang nyata terlihat oleh panca indra ataukah lebih luas dari yang kuduga? Adakah yang lain di balik alam semesta ataukah semua hanya sebatas yang dapat dijelaskan oleh kaum cendekia?
Berdoalah demikian, ‘Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. (Matius 6:9-10 AYT)
Sang Raja tidak membiarkan daku lebih lama bertanya-tanya. Penyataan yang lugas mudah dicerna, siapa saja dapat menangkap maksud-NYA. Walau kalimat akhirnya lebih dianggap sebagai bagian dari kredo doa, namun pesannya sangat sederhana.
Entah ayat-ayat itu telah berubah makna, berperan dengan fungsi yang berbeda. Boleh-boleh saja itu telah berubah menjadi kalimat sakral, diucapkan sebagai penutup doa. Namun beritanya akan tetap sama!
Umat terus diingatkan, setiap ibadah minggu di gereja dilantunkan. Minimal seminggu sekali, sepanjang masa permohonan ini diucapkan tak henti-henti. Mayoritas jema’at mengutip Doa Bapa Kami di luar kepala. Hingga akhirnya, daku tidak lagi paham maksudnya.
Permohonan yang pertama, kerinduan yang utama. Mungkinkah tersembunyi keinginan-NYA dalam rangkaian kata yang sebagian umat telah menjadikan itu sebagai mantra? Maksud semula, adanya daku dan dikau di dunia.
Ada bumi ada sorga, yang nyata secara fisis, yang maya di alam metafisis. Dapat diurai dengan kaidah ilmu yang dikenal, namun juga memuaskan hati manusia walau pun itu transendental. Dua dunia, berbeda rupa, tidak sama, goib namun nyata karena berhubungan satu dengan yang lainnya.
Ini perkara kerajaan, kekuasaan, sistem pemerintahan yang berlaku di kedua alam. Masing-masing unik dengan karakteristiknya, serupa tapi tidak sama. Dan dalam kalimat sederhana, Sang Raja menyampaikan isi hati-NYA: ’Datanglah kerajaanM!’
Daku dan dikau, setiap umat sepanjang abad, tak putus harap. Umat sejak dahulu, bertalu-talu berseru hingga sekarang pun masih seperti itu. Entah dikau tahu atau pun daku menyangka itu hanya pelengkap ritual baku. Sejak dulu, tak henti-henti umat panjatkan: ‘Datanglah kerajanMu!’
Kerajaan yang akan menghadirkan keinginan hati-NYA nyata di bumi layaknya di sorga. Kerinduan tersembunyi dalam penggalan kalimat doa, rahasia di balik alasan mengapa daku dan dikau ada. Misteri yang sepanjang masa ada dalam kabut tak kasat mata.
Mungkinkah kehendak-NYA agar bersatunya dimensi dunia ini dengan yang di sana? Di bumi seperti di sorga, Sang Raja menjadi penguasa di alam nyata dan begitu pula di yang maya. Bergabungnya dua dunia, dua alam, dua yang berbeda namun keduanya nyata ada.
Kalau begitu ada apa dengan dunia. Sehingga sepanjang masa umat berseru-seru agar di bumi serasa di sorga. Mungkinkah pandanganku telah didominasi oleh indra yang dikuasai dunia sehingga tidak mampu lagi mengendus alam yang di sana?
Walau di era digital, penyataan ini terasa janggal. Namun, apakah itu alasan dikau dan daku ada? Agar Kerajaan Sorga dapat diwujudnyatakan di dunia. Sebagai pengingat sepanjang masa, bahwa ada hubungan bumi-sorga, natural-spiritual. Ke duanya menyatu baru hidup ini normal! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |

