331. Dua Alam

Viewed : 783 views

’Di bumi seperti di sorga’ penggalan kalimat yang begitu biasa di telinga jema’at. Di bumi seperti di sorga, bumi-sorga. Dua alam yang tidak sama, berbeda rupa, tidak serasa. Yang satu natural, yang lain spiritual. Alam nyata alam maya, ke dua-duanya ada tapi berbeda.

Yang satu terlihat jelas, daku rasakan hidup ini begitu keras. Ke lima indra, semua bekerja. Alam ini begitu nyata, buana Adam Hawa tercipta. Tempat lahir, mengembangkan talenta, begitu juga tatkala tutup mata. Pengalaman sehari-hari dari bayi dewasa hingga tua, semuanya nyata.

Alam sana tak kasatmata, panca indra tidak dapat merasa apalagi meraba. Dunia maya yang acap kali tidak dapat diurai dengan kaidah logika, di luar jangkauan indra. Entah bagaimana, walau pun demikian umumnya hati manusia merasa alam itu ada.

Kalangan cerdik pandai, golongan yang berasaskan semua harus dapat diurai, menganggap itu khayalan. Angang-angan bagi mereka yang frustasi dengan kehidupan. Pelarian dari kenyataan, pengalihan dari isu-isu yang berat tak tertahankan.

Bagi kaum rohaniawan, isu tentang alam ini menjadi pekerjaan. Lazim pandangan umat sepangjang zaman, sangka tokoh agamalah kelompok satu-satunya yang punya kemampuan menerawang dunia bayang-bayang.

Kubu cendekia dengan golongan pemegang kunci sorga. Kaum awam plus mereka yang menyebut diri sebagai pakar sorga neraka. Bumi-sorga, sekuler-spiritual, duniawi-rohani, dua alam berbeda, terpisah karena tidak sama. Ini cara pandang agama mau pun orang biasa.

Kehidupan umat tersobek ke dalam dua alam, nyata dengan alam yang layaknya khayalan. Perkara di bawah dengan persoalan yang di atas. Alam yang terasing satu dengan yang lainnya. Yang satu duniawi, penuh dengan nafsu badani. Yang lain suci, alam kodrati yang beraromakan perkara sorgawi.

Alam duniawi dan alam adikodrati. Ke duanya tak tercampur karena berseberangan. Perkara yang di atas bermusuhan dengan perkara duniawi. Bak siang dan malam, terang dan gelap, demikianlah perbedaan ke dua alam. Saling berlawanan, sama-sama bertentangan, tidak mungkin disatukan.

Seperti di sorga, apakah maksudnya realita di sorga dapat juga dinyatakan di bumi? Di alam sorga begitu juga terjadi di alam dunia. Dua alam menjadi satu, bumi-sorga berpadu. Bumi layaknya di sorga. Dua alam saling bersilaturahmi. Yang terlihat berkaitan dengan yang tidak kasatmata.

Satu kesatuan dalam satu sistem pemerintahan, satu penguasa. Penguasa di bumi begitu juga adanya sebagai penguasa di sorga. Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Bergabungnya ke dua realita ke dalam suatu kesatuan yang harmonis tak terkatakan.

Kerajaan Allah, keinginan-NYA dari semula, untuk memerintah semua ciptaan-NYA. Baik di alam tataran dimensi ruang-waktu, bumi, mau pun di alam spiritual, alam roh. Alam yang di sini mau pun yang di sana.

Kehendak-NYA berlaku nyata di ke dua domain. Pemerintahan-NYA dijalankan melaui ciptaan-NYA, manusia yang hidup di alam nyata, mau pun melalui roh-roh di alam tak kasatmata. Ke dua alam saling berhubungan, tak terpisahkan.

Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, (Lukas 15:7)

Jangan terperangah! Adinda dapat membuat alam sana bersorak sorai atau pun sebaliknya. Dan apa yang terjadi di alam tak kasatmata, itulah juga yang daku dan dikau alami nyata sehari-hari di dunia.

Ini pandangan yang tidak biasa. Walau dikau merasa awam, orang kebanyakan, yang tidak paham ke dua alam. Namun kehadiran Adinda sangat bermakna karena dapat membuat gempar alam sorga! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments