Misteri begitu kental menyelubungi trailer di Taman Eden. Bagai awan tebal kumulonimbus, kapal terbang paling canggih pun sulit menembus. Beribu tanya tanya, tak terbilang diskusi akan terhenti hanya karena pertanyaan apa?
Taman Eden, si ular, pohon kehidupan, dan lain sebagainya, apakah itu sekadar perlambang ataukah nyata demikian adanya? Apakah zaman pra sejarah, sebelum dosa menjelma di dunia, binatang dapat berbicara? Ataukah tidak ada guna mencari dasar ilmiah untuk membuktikan bahwa dahulu kala ular punya kaki dan memakan debu tanah (Kejadian 3:14)?
Alkitab itu bak puzzles games, layaknya DIA senang menyembunyikan rahasia dalam cerita yang terenkripsi! Setiap kepingan berhubungan dengan lempengan yang lainnya. Setiap potongan gambar merupakan bagian dari gambar besar. Karena itu setiap serpihan jangan diabaikan, walau terlihat sementara itu justru membingungkan.
Bagi daku, yang paling sulit melepaskan kaca mata pengertian yang selama ini sudah berulang-ulang diajarkan dan menjadi keyakinan. Seakan-akan begitulah seharusnya beriman. Jika saja dikau mulai melihat gambar kasar yang mungkin masih samar-samar, yang kebetulan berbeda dengan pemahaman arus besar, siap-siaplah untuk berjalan sendirian!
Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga: yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. (Yehezkiel 28: 13,14)
Taman, gunung, batu-batu mulia, serta aliran sungai gemercik nan bening merupakan cara budaya kuno mengindikasikan kehadiran Sang Ilahi (Kejadian 2:9-12). Perlambang ini terbaca sepanjang Alkitab, bahkan konsisiten hingga nanti di era yang akan datang (Wahyu 21:20; 22:1,2).
Apakah yang kurang lagi? Si kerub senantiasa berada di gunung Ilahi, menjadi penjaga tahta Sang Yang Maha Tinggi. Nafsunya sangat menggoda untuk menjadi berdikari, menentukan nasib sendiri. Begitu dahaga dia akan hidup mandiri. Alih-alih di bawah perintah, dia berambisi untuk memerintah!
Hasrat hati si ular bergelora untuk terbang tinggi, mengatasi bintang-bintang ilahi, jauh di Utara di atas bumi (Yesaya 14: 13,14). Bahkan dorongan nafsu kelewat batas, berkehendak menjadi yang teratas.
Yang teratas hanya SATU, si ular kena batu!
Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur. (Yesaya 14:15)
Bukan ke tempat tinggi, namun di si ular terjun bebas ke perut bumi, menjadi makhluk pertama penghuni dunia orang mati. Si ular menjadi penguasa alam liang kubur, jauh di dalam perut bumi. Si ular terlempar dari sumber terang, dunia kegelapan menjadi tempatnya sekarang. Si ular mendapat posisi sebagai lurah alam kegelapan.
Bukankah itu gambaran yang tepat akan suasana di liang kubur? Negeri yang gelap gulita, kelam pekat. Di mana cahaya pun hanyalah seperti gelap (Ayub 10:21,22). Insan yang mati semua akan menuju alam kegelapan, liang kubur. Yang sudah pergi, tidak akan pernah kembali lagi. Tinggallah belatung yang menemani (Yesaya 14:11).
Bukankah itu nyata dari pengusiran Adam Hawa dari Taman Sorga?
Terbuang dari sumber kehidupan, artinya kematian. Tercampak dari sumber terang, artinya berada di alam kegelapan. Gelap segelap hidup di liang kubur, ditemani belatung yang tidak akan undur-undur. Bukankah itu penggambaran yang tepat untuk hidup terpisah dari Sang Sumber Terang? Dan itu pilihan, bukan DIA yang memaksakan.
Keterasingan, keterpisahan dari DIA memang sangat mengerikan. Namun apa daya, ketidaksetian manusia pertama telah menjerumuskan Adinda yang juga harus menuju alam liang kubur. Mungkinkah itu sebabnya Kristus pun tidak dikecualikan agar dapat merebut daku dan dikau dari kuasa liang kubur (Mazmur 103: 4)? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
