Apa pun yang diulang-ulang, menjadi perkara lumrah yang berakhir usang. Pengulangan dapat berarti itu hal yang utama, namun ada kalanya ditangkap berarti sebaliknya. Yang istimewa pun menjadi biasa, begitu juga yang penting bergeser ke hanya senilai jari kelingking. Di ujung sana, berjalanya masa, itu berubah makna menjadi hanya ucapan basa basi, tidak ada arti.
BAPA kami yang di sorga, penggalan doa yang sudah begitu biasa. Diulang-ulang di setiap acara, sebagai bagian rangkaian doa agar dianggap sempurna. Dilantunkan sebagai tanda telah selesainya ibadah mingguan, diucapkan di kegiatan ritual kerohanian. Baik di kebaktian syukuran mau pun di momen keduakaan, itu untaian doa yang tidak terlewatkan.
Akibatnya nyata, itu hampir-hampir tidak ada lagi makna. Daku yang mengucapkan atau dikau yang menyenandungkan, kalimat itu nyaris tidak lagi ada arti apa-apa. Sudah biasa, malahan seakan-akan itu telah beralih fungsi sebagai mantra!
Bagaiamana pun pengalaman pembaca budiman, entah itu telah menjadi kebiasaan atau pun telah kehilangan makna sehingga dilupakan. Namun, Mesias mengingatkan bahwa DIA Sang Pencipta adalah BAPA kita!
Alkitab tidak ragu-ragu, sangat jelas tajam dan jitu, dalam hubungan dengan DIA menggunakan kosa kata yang berhubungan dengan keluarga, bapa. Rasanya sulit salah duga, Mesias layaknya ingin mengingatkan daku dan dikau, Sang BAPA menghendaki keluarga.
Bapa anak-anak dan saudara, istilah-istilah jamak relasi dalam satu keluarga. Mungkinkah cerita Alkitab itu kisah pelik satu keluarga? DIA bapa kita, kita ini anak-anakNYA, sesama kita itu saudara bersaudara. Apa pun maksud kata-kata itu, yang jelas ini terminologi dalam relasi suatu keluarga.
Ooops! Tunggu dulu. BAPA kami yang di sorga, apakah artinya ada juga anak-anak Allah di alam sana? Laksana daku dan dikau di bumi, apakah juga demikian ada mereka di alam adikodrati? Anak-anak Allah di dunia nyata, begitu jugakah ada anak-anak Allah di dunia tak kasatmata? Apakah kerinduan-NYA sejak semula agar di kedua alam kelak menjadi suatu keluarga?
Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian! Siapakah yang telah menetapkan ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya? — Atau siapakah yang telah merentangkan tali pengukur padanya? Atas apakah sendi-sendinya dilantak, dan siapakah yang memasang batu penjurunya pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai? (Ayub 38:4-7)
Wow wow wow! Anak-anak Allah di dunia sana bersorak sorai, tatkala menyaksikan DIA menciptakan alam semesta. Galaksi, tata surya, bumi, dan penciptaan manusia. Kagum takjub dan tak tertahankan anak-anak Allah sontak bertempik sorak, gemparlah alam sorga menyaksikan apa yang terjadi di depan mata.
Mereka hadir ketika alam semesta dicipta, kala Adam dan Hawa menjelma. Anak-anak Allah di alam maya, dan kita anak-anakNYA di dunia nyata. Apakah artinya sebelum ada masa, DIA telah menjadi BAPA bagi anak-anak di alam sana? Sebelum daku tercipta, mereka sudah ada di hadapan-NYA. Begitukah?
Jika demikian, bisa jadi penciptaan manusia sebagai kehendak-NYA untuk ada anak-anak di dunia nyata. Sekarang lengkaplah, ada anak-anak di alam panca indra dan anak-anak di alam tak kasatmata. Keluarga dari dua alam berbeda menyatu menjadi satu keluarga.
DIA menghendaki keluarga. Keluarga yang terdiri dari anak-anak manusia sebagai tambahan dari keluarga dari alam sorga. Keduanya menyatu harmonis tak terkira, hingga di suatu masa semua berubah menjadi bencana.
Dan DIA sabar menanti sebagai Sang BAPA, harap-harap cemas dan rindu tiada duanya. Bilakah sang anak hilang kembali ke pangkuan bapa? Dalam kepedihan hati-NYA, DIA meninggalkan satu-satunya pesan dalam ungkapan doa, agar bersatunya lagi bumi dan sorga. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |


