Bagi sebagaian besar umat, Perjanjian Lama bukanlah bacaan yang menarik minat. Walau sekitar 75 persen isi Alkitab, namun ke 39 kitab pertama dianggap hanya untuk mereka yang hendak menjadi kandidat ahli Taurat. Seakan-akan mulai dari kitab Kejadian hingga Perjanjian Lama tamat, itu hanyalah sebagai pelengkap.
Sebagian yang lain merasa itu hanyalah cerita, kisah dari masa dahula kala. Yang sekali dibaca, sudah tahu semua. Bukankah sejak di Sekolah Minggu, isi ceritanya hanya berkisar yang itu-itu saja? Merasa tidak ada yang baru, sama saja dengan buku sejarah lainya.
Alhasil, daku dan mungkin juga dikau kehilangan latar belakang atau pun konteks dari yang disampaikan Perjanjian Baru. Baik Yohanes pembaptis maupun Sang Raja, Mesias, sama-sama beseru jelas tanpa kata-kata diplomatis.
“Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Matius 3:2)
Mungkinkah Kerajaan Allah (KA)-lah menjad tema utama keseluruhan isi Alkitab? Bukankah juga, kala murid-murid ‘menodong’ Sang Raja untuk mengajari mereka berdoa, berkata: ’Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga’? (Matius 6:10)
Mungkinkah itu berarti sejak awal kerinduan Sang Pencipta, hadirnya kerajaan tak kasat mata nyata di dunia? Kehendak-NYA berlaku juga di sini, di bumi bak di taburi aroma semerbak sorgawi. Alam sorga di kehidupan Adinda, damai sejahtera ada di mana-mana.
Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:28)
Perintah hakiki, berkuasa dan penuhilah bumi! Mungkinkah kerinduan-Nya dari halaman pertama Alkitab agar Kerajaan-NYA meluas hingga memenuhi bumi? Mulai dari Taman Eden hingga ke seluruh pelosok negeri.
Bukankah KA berarti juga bahwa pemerintahan dan kekuasaan Allah? Bisa jadi kerinduan-NYA sejak semula untuk memerintah di alam tak kasat mata, demikian juga berlaku dengan di dunia yang nyata. Kerajaan-NYA di ke dua alam yang berbeda, menyatu dalam Mesias Sang Raja.
Ke dua alam, maya dan nyata, tidaklah secara eksklusif terpisah berbeda. Atau pun yang satu hanyalah menjadi pelengkap yang lainnya. Tidak! By design, terencana dari semula, ke dua semesta saling kait mengkait. Keduanya saling mempengaruhi, dari dulu, sekarang, hingga mendatang.
Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan. (Mazmur 145:13)
Di alam maya, kerajaan-NYA sudah ada sejak lama. Di alam nyata, mungkinkah pemerintahan-NYA dimulai dari Taman Sorga? Perintah-NYA jelas tak perlu membanding-bandingkan tafsir yang berbeda-beda. Taman Eden hendaklah melebar ke mana-mana hingga menyelimuti semua negara, suku bangsa, dan agama.
Jika pembaca penganut salah satu agama samawi, semua mengakui, drama di Taman Sorga membuyarkan rencana Sang Ilahi. Alih-alih KA meluas ke mana-mana, duka nan nestapa merajalela di seantero dunia.
Mulai dari ketidaksetiaan manusia pertama (Kejadian 3), kesewenangan anak-anak Allah dari alam ‘sana’, yang melewati batas domainnya (Kejadian 6:1-4). Hingga kesatuan hati umat manusia menolak rencana Sang Pencipta (Kejadian 11:1-9). Semuanya mencoba untuk menggagalkan kehadiran KA di dunia.
Di menara Babel-lah cikal bakal bangsa-bangsa menolak Sang Pencipta sebagai Raja. Dan DIA mempersilakan bangsa-bangsa berjalan sesuai selera. Sejak itu kerajaan yang lain menguasai dunia (1 Yohanes 5:19).
Namun DIA tidak putus asa, tetap pada rencana semula, KA hadir di dunia. Tidak perlu berlama-lama, setelah bangsa-bangsa memalingkan muka dalam pasal 11 dari kitab Kejadian, DIA memilih bapa Abraham di pasal 12 menjadi milik-NYA.
Era baru di mulai lagi dari bapa Abraham untuk menghadirkan KA yang tertunda. Dan di dalam Kristus, daku dan dikau menjadi keturunan Abraham (Galatia 3:29). Adinda ada peran yang luar biasa untuk turut serta menghadirkan KA di dunia. Astaga..! Daku pikir peran itu hanya untuk golongan ahli agama! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |

