Perubahan dalam bidang apa saja tidaklah mudah, apalagi dalam beribadah. Belajar dari hidup di bawah bayangan wabah, perkara yang dulu dianggap tetap ternyata juga dapat berubah. Walau tidak ada yang baru di bawah langit (Pengkhotbah 1:9,10), namun perubahan itu pahit.
Kenyataan bahwa Injil sudah diberitakan ke bapa Abraham, menjungkirbalikkan apa yang daku, atau pun mungkin juga yang dikau, paham. Apakah itu artinya Injil sudah ada jauh sebelum muncul konflik antar agama? Belum ada isu mana lebih afdol cara baptis percik ataukah selam?
Bukankah sudah lama sekali bahkan hingga kini, Injil itu diasosiasikan dengan agama Nasrani? Jadi ini bukan isu seputar denominasi, ini perkara inti pati. Tak terbayangkan, sulit dilukiskan, jika ternyata Injil sudah ada sebelum Sang Raja disalibkan.
Daku merasa cerita Injil itu dimulai di era Perjanjian Baru, ternyata narasi Injil sudah ada sejak dahulu. Jauh sebelum lahir bangsa Israel, belum dikenal prosesi ritual, sesungguhnya Injil sudah dikenal.
Ini berita besar! Mungkinkah Injil bukanlah hanya apa yang selama ini daku dengar?
Jika demikian, apakah Injil tidak ada hubungan dengan agama yang selama ini dianggap secara eksklusif sebagai pemilik Injil? Tidak ada sangkut paut dengan ritual, tidak ada relasinya dengan khatan, apa lagi dengan sumber konflik sepanjang zaman, rebutan Tanah Perjanjian.
Wow wow wow! Ini agama ataukah bukan?
When Christianity was born, it was the only religion on planet that had no sacred objects, no sacred persons, and no sacred spaces’ (James DG Dunn).
Injil tidak berkaitan dengan banda-benda kudus yang harus diperlakukan secara khusus. Juga tidak mengenal jenjang hirarki rohani dan anggap golongan orang suci yang harus dijunjung tinggi. Dalam Kerajaan Allah tidak ada strata, daku dan dikau itu saudara bersaudara (Matius 23: 8).
Juga Injil lepas dari isu-isu tanah suci, lokasi yang diperebutkan oleh semua agama samawi (Yohanes 4: 20-24). Tempat ibadah, yang di tanah air, dapat menjadi sumber konflik yang berdarah-darah.
Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan “kepada keturunan-keturunannya” seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: “dan kepada keturunanmu,” yaitu Kristus. (Galatia 3:16)
Apakah janji berkat (Galatia 3:8) yang disampaikan kepada bapa Abraham itu menunjuk kepada pribadi Kristus? Wajar sekali, kala itu emosi orang-orang Yahudi tidak terkendali, ketika Mesias berkata: ’AKU sudah bertemu dengan Abraham!’ Dan kepanikan semakin menjadi-jadi dengan pengakuan Mesias bahwa DIA sudah ada sebelum Abraham jadi (Yohanes 8: 56-59).
Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku [Kristus] dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” (Yohanes 8:56)
Dengan demikian, rasa-rasanya aman jika disimpulkan bahwa Injil yang disampaikan kepada Abraham itu narasinya tentang pertemuan dengan Kristus. Janji berkat yang diujudnyatakan dalam pribadi Sang Penebus.
Injil, berita sukacita, kabar baik, yang keindahan – kebaikan – kebenarannya ditemukan dalam Satu Pribadi. Jadi, Injil, itulah Kristus, tidak lebih, dan tidak kurang. Jika lebih, maka daku akan bertemu dengan aturan-aturan, terperangkap dalam kerajaan agama. Jika kurang? Setali tiga uang, sama saja.
Dengan kata lain, pertobatan berarti bukan saja berubahnya arah kehidupan, namun juga berubahnya status relasi dengan Sang Pribadi. Jadi, ini masalah hubungan dan bukan aturan-aturan. Ini isu relasi, dari lawan menjadi teman! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |


