359. Kelincahan Injil

Viewed : 434 views

Kenyataan bahwa Injil sudah diberitakan kepada Abraham, bahkan narasi Berita Sukacita itu jauh sudah ada sebelum Abraham dilahirkan (Galatia 3:8; Yohanes 8: 58) memperkaya pemahaman. Pengertian yang juga mungkin akan menembus ke luar batas wawasan evanglical movement, yang selama ini daku paham.

Bukankah Berita Gembira itu sudah disampaikan sebelum ada ritual, agama-agama samawi pun belum dikenal? Injil tidak ada hubungan dengan ritual, demikian juga dengan perkara-perkara yang selama ini dianggap sakral.

Pula tidak kait mengkait dengan aturan-aturan, dogma yang peduli dengan mana yang boleh dan tidak dimakan. Atau pun gandrung memperhatikan hari-hari kudus, waktu yang diperlakukan secara khusus. Tak ada hubungan dengan berbagai ragam bentuk kebaktian, pembaptisan, maupun khatan.

‘Christianity is not a religion; it is the announcement of the end of religion’ (Robert Capon)

Kalau begitu adanya, apakah berita Injil tidak berhubungan dengan suatu agama? Dia bebas di atas segala aliran denominasi, dapat hadir dalam segala bentuk tradisi, cocok pula dalam berbagai budaya.

Apakah dengan demikian, Injil tidak akan melahirkan suatu agama baru? Agama ataupun aliran yang akan mengekang kelincahan Injil, the mobility of the Gospel. Dengan begitu, Injil dapat ditemui oleh semua insan.

Insan seperti dikau yang terlahir, dibesarkan, bahkan mungkin diyakinkan sejak balita bahwa agamakulah yang paling benar dan anggap yang lain sudah ke sasar. Daku yang tidak seagama, dijamin pasti menjadi penghuni neraka. Daku menjadi sasaran, diperebutkan untuk dipindahkan, dari tidak seagama menjadi seiman.

Berita Injil tidaklah demikian. Injil tidak terpaut dengan keagamaan. Daku dan dikau yang tidak seagama pun, ada kesempatan setara dalam menerima Berita Sukacita. Karena ini bukan isu doktrin kekristenan, namun perkara hubungan.

Relasi dengan Satu Pribadi, pribadi yang jauh sudah ada sebelum tercipta bumi. Pribadi yang merupakan kunci memahami rahasia Sang Ilahi (Kolese 2:2,3). Misteri yang telah tersembunyi dari generasi ke generasi, sekarang dinyatakkan dalam Satu Pribadi (Efesus 3:4-6)

Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu. (Galatia 3:14)

Sebar sebar sebar! Ini kabar akbar! Ini bukan isu mana agama yang paling benar. Ini perkara relasi dengan Sang Benar. Yes! Daku dan dikau tidak salah dengar. Fakta ini menjadi terobosan besar!

Karena Injil bukanlah aturan-aturan, maka Berita Sukacita yang disampaikan kepada Abraham (Galatia 3:8), yaitu berkat yang dijanjikan (Kejadian 12:3) dapat sampai kepada semua insan. Insan yang terlahir di berbagai suku, bahasa, bangsa, dan latar belakang agama.

Wow wow wow! Suku, budaya, dan bahasa akan kekal hingga di dunia yang datang (Wahyu 7:9), jadi Injil tidak merubah identitas lahiriah. Yang untuk kondisi tanah air, itu juga identik dengan agama. Begitukah?

Dikau tidak harus mengikuti budaya baru, daku tidak harus fasih bahasa yang asing bagi kalbu, atau pun menjadi penganut agama itu, semua dapat mengenal Sang Batu Penjuru (1 Petrus 2:6). Untuk itulah daku dan dikau terlahir dari suku, budaya, bahkan agama tertentu (Galatia 3:28; Kolose 3:11).

Injil lincah bergerak di berbagai tempat. Pas untuk dikau yang terlahir dari suku Batak, kena pun bagi daku yang dari bangsa Arab. Ok juga bagi yang dibesarkan di Sumatera Barat, akur dengan generasi yang tidak peduli lagi dengan mana agama yang akurat.

Berita Sukacita yang disampaikan kepada Abraham, Injil yang bebas dari ikatan aturan apalagi belenggu berbagai variasi keyakinan. Ini harapan satu-satunya di era akhir zaman, kala agama justru menimbulkan pertentangan. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments