360. 1001 ?

Viewed : 433 views

Kenyataan bahwa Injil sudah disampaikan kepada bapa Abraham menimbulkan seribu satu macam pertanyaan. Tanda tanya yang dapat saja menimbulkan kebingungan yang, insha Allah, akan berakhir dengan pencerahan. Walau tidak mudah, ayo terus melangkah. Karena di berbagai kejadian, pertanyaanlah yang lebih menjelaskan dari pada jawaban.

Injil macam manakah yang didengar Abraham? Apakah mungkin Injil yang daku paham berbeda dengan yang didengar bapa Abraham (Injil Abraham, IA)? Mungkinkah narasi Injil yang didengar selama ini barulah sebagian dari the whole story? Bagaimanakah menselaraskan IA dengan Injil yang disampaikan oleh murid-murid?

Mengapa Injil seakan-akan dimulai dari bapa Abraham (Galatia 3:8)? Mengapakah rasul Paulus mengkaitkan berita Injil dengan bapa Abraham? Ada apa dengan bapa Abraham sehingga dia menjadi focal point Injil? Titik referensi dari the whole story Berita Sukacita tersebut.

Apakah latar belakang cerita sehingga Abraham dipilih? Mungkinkah ada suatu gejolak seru di belakang layar yang tak kasat mata sehingga pilihan dijatuhkan kepada bapa orang beriman? Dan mungkinkah IA itulah menjadi sumber sukacita bagi bangsa-bangsa (Kejadian 12:3)?

Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau. Dan karena engkau Aku akan memberkati semua bangsa di bumi.” (Kejadian 12:3 BIS)

Ada apa dengan bangsa-bangsa? Mengapa bangsa-bangsa menjadi fokus IA? Apa hubungan bapa Abraham dengan berkat bagi bangsa-bangsa? Mungkinkah IA disampaikan agar bangsa-bangsa kembali ke relasi semula dengan Sang Pencipta?

Bukankah bangsa pilihan belum menjelma ketika IA disampaikan? Mungkinkah bangsa Israel ada agar berkat janji itu akhirnya sampai juga ke seluruh dunia? Mengapa bangsa Israel yang dipilih dan bukan yang lainnya? Apakah sesungguhnya yang terjadi dengan bangsa-bangsa?

Bagaimanakah pertalian semua ini?

Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu. (Galatia 3:14)

Wow wow wow! Yesus Kristus-lah yang memungkinkan berkat Abraham sampai kepada suku-suku bangsa. Melalui Satu Pribadi bukan melalui aturan, ritual, mau pun agama. Apalagi melalui kebiasaan, tradisi, ataupun budaya.

Setiap suku sudah ada budaya masing-masing yang tentu dianggap nomor satu. Demikian pula dengan agama, yakin imannya yang paling jitu. Sudahlah dapat dibayangkan, kalau penyebarluasan agama akan mengundang perang, konflik tak berkesudahan.

Tidak demikian dengan IA, karena ini isu relasi. Hubungan dengan Satu Pribadi. Bukan tentang makanan, jenis baptisan, khatan, yang semuanya hal-hal fisik yang kelihatan. Ini bicara ihwal kehidupan, bukan isu dogma apalagi doktrin yang debatnya tidak ada habis-habisnya.

Akan tetapi, malaikat itu berkata kepada mereka, “Jangan takut sebab dengarlah, Aku memberitakan kepadamu kabar baik tentang sukacita besar yang diperuntukkan bagi semua bangsa. (Lukas 2:10 AYT)

Itukah sebabnya Injil disebut sebagai Berita Sukacita, sukacita luar biasa, bagi seluruh umat manusia? Insan dari suku dan budaya mana saja, bahkan juga daku dan dikau serta yang lainnya dari penganut agama yang berbeda-beda. Melalui Sang Raja, ada jalan dan kesempatan untuk datang kepada BAPA! (Efesus 2:17,18)

Aaahhh! Mungkinkah selama ini daku hanya memahami Injil yang terbungkus dalam bingkai agama tertentu? Sehingga percaya kepada Injil sekaligus juga otomatis dianggap menjadi penganut agama itu? Apakah begitu?

Apakah dengan demikan akan timbul beragam pertanyaan? Ingatlah! Sering kali, pertanyaanlah yang menjelaskan, bukan jawaban! Sila Puan Tuan kemukan apa yang menjadi kebingungan! Moga akhirnya daku dan dikau tercerahkan. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments