511. Eden Baru

Di sebelah timur Eden, terhamparlah sebuah taman purba. Sebuah sungai tunggal mengalir di sana, lalu membelah menjadi empat cabang utama (Kejadian 2:10). Sungai-air sebagai perlambang kesuburan dan kehidupan mengalir deras ke empat penjuru mata angin. Membawa sari pati ‘sorga di bumi’ ke seluruh hamparan negeri. Dalam lidah Ibrani, kata ‘Eden’ berbisik tentang satu makna: kesenangan….

510. Mempelai Purba

“Napas Eden adalah janji setia, loyalitas sukma, sebuah ikatan pertunangan suci yang merindukan kepulangan setiap jiwa kembali ke pelukan-NYA.” Entahlah, agaknya telah menjadi suratan yang terpahat dalam setiap eksistensi; bahwa pada setiap pribadi, senantiasa melekat kerinduan purba untuk dikenal dan mengenal, untuk dicintai dan mencintai. Lumrah kalau dikatakan: ”Tak kenal maka tak sayang.” Jalinan ‘kenal-cinta’…

509. Undangan Agung

“Adinda bukan sekadar makhluk yang tercipta, melainkan insan yang dirindukan hadir untuk larut kedalam sedapnya madu koinonia Sang BAPA-ANAK.” Tiada yang tahu; misteri ini akan selamanya terkunci, menjadi satu rahasia purba yang tersembunyi abadi di kedalaman diri Sang ILAHI! Andai DIA tidak melabuhkan seuntai isyarat, niscaya maksud keberadaanku hanyalah tanda tanya pekat yang terus menghimpit…

508. Router Ilahi

Amanat bertambah banyak dan beranak cucu bermaksud agar Taman Eden semakin luas. Apa gerangan yang ada di luar Taman? Bumi ditaklukkan dengan kehadiran imago Dei sehingga signal kerajaan-NYA “ON” di seluruh negeri. Ibarat Proyek Strategis Nasional berskala kosmik, Taman Eden menjadi kantor pusat manajemen ilahi. Proyek besar untuk meluaskan taman hingga meliputi seluruh negeri. Kerinduan-NYA…

507. Melting Point

Meski Eden hilang dari pandangan, gema cinta-NYA tetap berdenyut dalam sejarah. Markas Sidang Ilahi di bumi telah dijarah. Proyek perluasan Taman Eden ke segala arah terhentilah sudah. Namun hati-NYA tidak berubah. Dengan tangan terbuka DIA mengundang peradaban untuk kembali pulang ke rumah. Diperkirakan alam semesta lahir sekitar 15,5 miliar tahun silam, sejak dentuman besar, big…

506. Cinta Tanpa Suara

“Pemberontakan di Taman Eden seakan meruntuhkan semua impian-NYA, namun hati Sang BAPA tak pernah berubah. Bulan memeluk malam, bintang berbisik lembut, angin membawa pesan tanpa suara. Hanya hati yang merindu yang mampu memeluk cinta tanpa kata-kata.” The first rebellion terjadi di dalam rumah-NYA, bagai pemberontakan anak-anak terhadap Sang Kepala Keluarga. Kehadiran mereka di tengah rumah…

505. Hate to Say Good Bye!

“Cinta pertama di Eden berakhirlah sudah, relasi terluka parah. Namun hati-NYA tidak berubah, meski harus menunggu sepanjang sejarah. Sang BAPA tetap menanti dengan tangan ramah, siap menyambut Adinda yang pulang kembali ke rumah.” Aaahhh… dasar manusia tidak tahu dirasa. Adam dan Hawa memilih berpaling dari Sang ADA, meninggalkan pelukan kasih dan bermain-main dengan api asmara….

504. Universal Divorce

“Cinta-lah landasan relasi dari awal segala kisah. Namun cinta pertama berakhir duka, berulang kali ternoda, dari Eden hingga Babel. Meski luka menikam kalbu, DIA tetap menunggu, sebab cinta sejati tak pernah membeku” Jika in the beginning tidak ada agama, tiada ritual, apalagi prosesi korban untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta, maka bagaimana digambarkan relasi manusia dengan-NYA?…

503. Talak Tiga!

“Dari Eden hingga Babel, riwayat manusia terjalin dalam drama cinta dan pengkhianatan. Namun, Sang Kekasih SEJATI tak pernah melupakan tunangan-NYA, manusia. Di Babel peradaban dipersilakan berjalan sendiri. Namun, gema rencana-NYA tetap berdenyut di balik gulungan waktu. Jalan buntu ataukah Kerajaan-NYA akan tersingkap dalam bentuk horizon baru?” Entah bagaimana mula kisahnya, hingga DIA berkeputusan menciptakan Adam…

502. Communion

“Sedari Eden, kerinduan-NYA ‘curhat’ dari hati ke hati. Bukan hubungan kaku melalui ritual baku. Communion yang tak mengenal sekat dan perantara, di mana hidup kekal berarti terus mengenal Sang Kekasih SEJATI.” Bagaimana jika di balik berbagai agama, keyakinan, dan aneka isme/ paham yang bertebaran di abad ke-21, sesungguhnya tidak lahir dari benih ide murni manusia?…

501. Aturan Main

“Ketika manusia menulis aturan main, yang kudus dipaksa tunduk pada ritual buatan manusia. Tanpa tarian-NYA, Eden menjauh, dan misteri Babel pun lahir dalam bentuk agama.” Aaahhh, kalender dinding dengan berat hati diturunkan. Walau setiap hari begitu bermakna, namun kini tinggal sebatas kenangan. Memori masa lalu tak mungkin diulangi, yang sudah terjadi tak dapat diralat kembali….

500. Utopia Dystopia

Di balik bangunan megah Menara Babel tersembunyi misterius sebuah gagasan: ide tentang kemandirian, keyakinan manusia mampu kembali menyentuh ranah Taman Surga. Dengan kekuatan sendiri, manusia yakin mampu membalikkan peristiwa Eden yang menyakitkan. Diusir paksa meninggalkan alam istimewa, alam berdimensi tiada duanya, suasana persilangan antara bumi dan surga. Surga terasa di bumi, bumi pun bernafas di…