498. Idols

Viewed : 285 views

Bagaimana jika di balik tampilnya berbagai agama atau aliran kepercayaan, bukan sekadar hikmat manusia, melainkan sosok bayangan gelap yang tak henti menggoda peradaban? Demikian pula lahirnya Ateisme dan Deisme, dari Agnostisisme hingga Materialisme, dari Eksistensialisme hingga Nihilisme, hingga pesatnya teknologi AI dengan deepfake-nya tak luput dari bisikan si ular (2 Korintus 11:3).

Di balik menara, ritual korban, mantera dan nyala dupa, aturan-aturan dan dogma, bahkan pemikiran cemerlang kaum filsuf tampak penuh hikmat. Namun di belakang layar terendus jejak pemberontakan insan, dan mbalelonya makhluk tak kasat mata. Makhluk adi-kodrati yang senantiasa mengintip dan menggoda hati agar berpaling dari Kekasih yang SEJATI.

Drama menara Babel menjadi cikal bakal lahirnya berbagai agama untuk menggapai alam surga. Boleh dikatakan peristiwa ini adalah deklarasi awal berdirinya Kerajaan Agama dengan segala isme-nya di muka bumi. Kerajaan yang merambat cepat bak api liar melahap seluruh suku, bahasa, kaum, dan bangsa.

Dari ide Aristoteles tentang Static Universe: alam semesta abadi, tanpa awal dan tanpa akhir, sudah ada sejak kekal. Hingga jeritan William Shakespeare: “Dunia ini hanyalah panggung sandiwara.” Segala upaya manusia, dari filsafat hingga drama, adalah pencarian makna hidup di tengah misteri yang tak terjawab.

Dari piramida Giza yang megah di Mesir, hingga candi Prambanan menjulang hampir 50 meter, kokoh berdiri berabad-abad, tak lekang oleh zaman. Teknologi konstruksinya tetap misteri: bagaimana mungkin balok batu seberat puluhan ton dapat diletakkan tepat pada tempatnya? Keajaiban itu masih menggema, menjadi teka-teki lintas generasi.

Jika sudah menyentuh dunia adi-kodrati, hasil karya manusia acapkali melampaui eranya. Kerinduan akan keabadian melahirkan bangunan monumental dan pemikiran cemerlang. Dari purba hingga kini, dikau masih dapat menyaksikan keajaiban dunia sebagai upaya manusia mengurai misteri kekekalan.

Kegelisahan hati manusia untuk menggapai keabadian terpatri dalam DNA-nya (Pengkhotbah 3:11). Hati tak tenang, jiwa gundah gulana, segala terasa hampa—karena ada ruang kosong yang hanya puas bila diisi oleh Yang Ilahi.

Oleh sebab itu Allah membiarkan mereka dikuasai oleh keinginan hati mereka… (Roma 1:24, BIS)

Bilamana hati yang kosong menjauh dari Sang SEJATI, berbagai tipuan deepfake dari alam lain berlomba mengisinya. Kerinduan akan yang abadi berubah wujud menjadi penyembahan berhala. Dan DIA mempersilahkan peradaban mengikuti keinginan untuk menyembah allah yang dapat dimanipulasi sekehendak hati.

Jika kerinduan akan yang baka mengenyampingkan Sang ABADI, lahirlah berbagai ragam allah baru— idols! Alih-alih peradaban menyembah DIA, manusia justru terperangkap untuk memuja dan mengidolakan logika, bangunan, bahkan ritual. Bayangan menggantikan Yang SEJATI, dan hati pun tersesat dalam ilusi sendiri.

Segala yang tak masuk akal dianggap abal-abal. Yang tak logis ditanggapi dengan sinis. Jangan heran, kelak teknologi AI menjadi idola generasi masa depan! Doa dianggap usang, seperti berbicara dengan bayang-bayang. Sebaliknya, AI instan merespon setiap isu kehidupan. Pelan namun pasti, posisi DIA diganti oleh AI.

Di ranah agama pun setali tiga uang. Posisi DIA digeser oleh perlombaan kemegahan bangunan dan kesempurnaan ritual. Karena doktrin umat terbelah, demi agama, saudara kandung pun tak lagi semeja makan. Perpecahan menjadi altar baru, dan kasih pun terbuang di jalanan dogma.

Dan DIA diam. DIA mempersilahkan daku dan dikau mengambil keputusan: pilih DIA atau idols? Hati menjadi medan pertempuran, antara yang sejati dan yang semu. Pilihan itu bukan sekadar wacana, melainkan jalan hidup menuju kekekalan atau akhirnya kena prank! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments