497. Prank!

Viewed : 279 views

Dunia ini panggung tipu-menipu: yang keliru justru diburu, yang nomor satu hanya dianggap sebatas isu. Sejak awal hingga deepfake menjadi penemuan fenomenal, peradaban selalu tergiur oleh yang abal-abal. Tak lagi jelas bedanya antara yang palsu dan yang bermutu. Ilusi tampak sejati, hakiki dianggap mimpi. Inilah alam tempat daku dan dikau mencari sesuap nasi dan berjuang hingga nafas terhenti!

Ambisi Babel membangun menara yang mencakar langit, dengan anak tangga menjulang tinggi sebagai simbol kemampuan insan untuk menggapai Sang Kuasa dan sekaligus menurunkan-NYA dari tahta. Seakan YHWH dapat dikendalikan menurut kehendak manusia, layaknya alam baka bisa ditarik turun ke genggaman tangan fana.

Dengan mantera dan dupa menyala, peristiwa Babel terbilang sukses menjinakkan para Dewa, menghadirkan alam adi-kodrati di bumi. Dengan sederetan ritual korban, mereka berhasil memanggil surga untuk hadir di dunia. Namun yang datang seolah yang SEJATI, tak tahunya bayangan dari alam GELAP, sebuah ilusi yang menjerat sekaligus memperbudak.

Drama menara Babel dalam peradaban Mesopotamia kuno, berlaksa-laksa tahun kemudian dipinjam sebagai dasar penjelasan ambisi manusia untuk mengatur kehadiran YHWH menurut keinginan hati. Narasi Babel bagi penulis kitab Kejadian, khususnya pasal 11:1–9, adalah upaya peradaban untuk menjinakkan YHWH. Seakan DIA dapat dikendalikan oleh usaha manusia, seakan alam baka tunduk pada ranah fana.

Kelak, apa yang terjadi di Babel menjadi dasar berdirinya berbagai agama—usaha manusia untuk menggapai tahta Sang Raja. Menara Babel bukan sekadar tumpukan batu bata, melainkan perlambang tekad manusia untuk mencapai nirwana dengan kekuatan dirinya sendiri. Sebuah monumen ambisi, yang ingin menembus batas antara bumi dan dimensi ilahi.

Kehadiran berbagai bentuk agama dapat dilihat sebagai ikhtiar manusia mengendalikan Sang Ilahi seturut kemauan sendiri. Seakan YHWH dapat diatur kapan, bilamana, dan di mana DIA harus disapa. Diletakkan pula fondasi tentang tata cara DIA dipuja dan disembah, bahkan ditentukan mantra yang harus dilafalkan—layaknya bahasa sandi dalam komunikasi dunia intelejen. Seakan rahasia surga dapat dipaksa tunduk pada kode morse manusia.

TUHAN berkata, “Orang-orang itu hanya menyembah Aku dengan kata-kata, tetapi hati mereka jauh dari Aku. Agama mereka hanya peraturan manusia yang dihafalkan. (Yesaya 29:13, BIS)

Tidaklah berlebihan bila dikatakan narasi menara Babel berhasil mengecoh peradaban dengan strategi jitu deepfake-nya: agama! Agama yang bertumpu pada upaya insani untuk menggapai Sang Ilahi, berlandaskan aturan dan hafalan buatan sendiri. Semakin sukar aturan, semakin bangga bila berhasil dijalani. Semakin banyak anak tangga ditapaki, semakin terasa mulia di hadapan diri sendiri.

Sepanjang peradaban, berduyun -duyun umat diperbudak oleh ritual dan aturan agama hasil buatan manusia. Apa mau dikata, aturan ini memang sesuai selera, disambut tanpa bertanya. Begitu disebut aturan agama, dogma, yang cerdik dan berpendidikan pun tak berdaya. Semua seakan menjadi budak agama, terikat pada tali yang tak terlihat, namun menjerat hati, pikiran, dan tabiat.

Deepfake ala drama Babel sukses mengelabui peradaban melalui lahirnya berbagai agama. Anda akan dianggap tak normal jika mengaku tak beragama. Dari sekitar 8,2 milyar penduduk dunia, mayoritas dipastikan beragama. Misteri Babel telah menguasai kebudayaan, menjadi bayangan yang terus menentukan arah hidup manusia dan peradaban.

Ini jebakan!

Deepfake ini kelak terbukti tak lebih dari sekadar prank! Penipuan yang menyakitkan, karena seberapa banyak pun anak tangga ditapaki, upaya itu takkan pernah berhasil menggapai surga. Yang fana tetap bersifat sementara, dan ilusi takkan pernah menjadi jalan menuju Sang Ilahi.

Agama sibuk pada aturan dan hafalan, namun DIA lebih tertarik pada isi hati. Manusia berbangga dengan capaian, tetapi DIA melihat transformasi nurani.

Walau demikian, pilihan untuk tidak kena prank tetap ada di tangan Puan dan Tuan. Pilihlah yang murni, atau terjebak dalam ilusi. Karena hanya hati yang jernih menjadi altar sejati di hadirat SANG ILAHI. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments