Dampak misteri Menara Babel terhadap daku—dan besar kemungkinan juga terhadap dikau—jauh melampaui apa yang sekadar tersurat. Peristiwa dari kisah purba ini mengandung makna yang kelak akan mengguncang umat dengan dahsyat. Narasinya menjangkau lebih jauh daripada sekadar riwayat lahirnya beragam bahasa dan logat. Di Babel-lah, untuk pertama kalinya, fondasi berdirinya agama terlihat.
Bertolak dari kerinduan-NYA agar mandat Eden kembali terwujud, justru peradaban bersikap tidak tunduk. Mandat Eden adalah titik mula pemerintahan, laksana kickstart kehadiran kerajaan-NYA yang kelak melingkupi seluruh bumi. Namun, peradaban pasca air bah dengan suara bulat menentang; alih-alih menyebar, mereka memilih berkumpul di dataran Sinear, demi kelak agar nama mereka tenar (Kejadian 11:2).
Maka mereka pun mendirikan menara—ziggurat—sebuah kompleks kuil purba di jantung Mesopotamia kuno, wilayah yang kini dikenal sebagai Irak modern. Ziggurat itu menjulang, seakan hendak menembus langit, menggapai para dewa. Lingkungan suci ini menjadi lambang upaya menjemput para dewa, agar berdiam di tempat yang dapat dijangkau manusia.
Sebuah ikhtiar dengan kekuatan manusia untuk meraih pintu surga! Bukan semata menggedor gerbang langit, melainkan juga membawa para dewa turun, agar bersemayam di rumah yang telah mereka persiapkan. Usaha menapaki surga ini bertumpu sepenuhnya pada hikmat manusia, yang cukup jumawa menantang cakrawala surga.
Ritual kudus dipimpin para imam yang memegang mandat mengelola kemah suci. Setiap tahapan prosesi diatur dengan rinci, sebagai ikhtiar menghadirkan alam kodrati di muka bumi. Babel menyingkap ambisi hati—bukan sekadar menyetarakan diri, melainkan pula berupaya “menjinakkan” Sang Abadi.
Bayangan Babel seakan berseru memanggil umat: “Hai, datanglah kemari! Jika ingin bertemu dan berbicara dengan YHWH yang sejati, engkau harus melangkah ke sini!” Ikutilah seremoni suci—laksana mantra yang memanggil dewa-dewi—maka engkau akan berjumpa dengan Tuhan yang sejati. Demikianlah bujuk rayu dari misteri Babel, menggoda hati yang haus akan kehadiran unsur ilahi.
Babel menancapkan fondasi bagi lahirnya pengertian tentang agama! Meski kisah itu berasal dari masa lampau, bukankah dikau masih dapat mengendus aromanya di setiap agama? Inilah usaha manusia untuk menjangkau Sang Kuasa.
Agama menghadirkan tangga yang menjulur ke langit, seakan membuka jalan menuju surga. Setiap kewajiban yang tertunaikan berarti satu anak tangga lagi lebih dekat ke hadirat Ilahi. Mereka yang telah berada di atas dipandang sebagai kasta rohani lebih tinggi, yang doanya diyakini lebih manjur daripada mereka yang masih tertatih bergulat dengan perkara duniawi.
Kasta sedemikian tinggi sehingga dipandang sebagai golongan elite rohani—kaum imam, penjaga gerbang pintu surga. Kelompok ini dikenal dengan berbagai sebutan di dalam tiap agama, namun peran mereka tetap satu: penghubung antara bumi dan takhta surgawi. Label yang disematkan pada seseorang menandakan posisi dalam hirarki kerohanian, dan semakin tinggi kedudukannya, semakin ia dianggap dekat dengan Sang Maha Tinggi.
Golongan imam memegang peran utama dalam menyelenggarakan ritual suci, sebagai pelaksana liturgi yang dianggap mampu menjembatani langit dan bumi. Sementara itu, mereka yang tidak terlibat langsung dalam prosesi dianggap sebagai kaum awam—karena berada di luar lingkaran sakral. Peradaban Babel melahirkan struktur rohani yang membelah umat: kaum rohaniawan dan kaum awam, dua kutub saling membutuhkan namun hidup dalam alam yang berlawanan.
Seakan Babel berhasil mempertontonkan bagaimana kaum imam mengatur Sang Kuasa. DIA digambarkan dapat diarahkan, dikendalikan, bahkan dimanipulasi demi memenuhi hasrat terdalam manusia. Misteri Babel pun menjelma sebagai cikal bakal lahirnya berbagai agama—usaha manusia menjangkau alam nirwana.
Kasta Bangsawan, para imam dengan dada membusung dan mata menantang, berseru lantang: “Manusia telah sukses menjinakkan Sang Kuasa!”
Apakah Anda merasa termasuk kasta bawahan, kaum awam yang hanya berperan sebagai figuran? Bukankah Puan dan Tuan dapat merasakan hirarki ini dalam kehidupan umat beriman? Mengapa DIA diam? Daku tidak paham! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
