Di Babel-lah untuk pertama kali peradaban mufakat dalam suara bulat—sebuah deklarasi global atas arah kebudayaan. Di kota inilah digaungkan proklamasi hidup, menuju masyarakat beradab yang berpijak pada daya kemampuan sendiri sebagai satu-satunya fondasi kemajuan kebudayaan.
Alih-alih memuliakan nama YHWH, peradaban sejak saat itu justru bertekad membesarkan nama bagi diri sendiri (Kejadian 11:4). Eksistensi kemanusiaan dianggap semata bertumpu pada kemajuan peradaban—bukan pada yang lain, apalagi pada Yang Ilahi! Bertahan atau punahnya jejak generasi mendatang sepenuhnya digantungkan pada kecakapan intelektual insani dan daya peran setiap individu dalam mengembangkan diri.
Secara politik, ideologi, tekad, dan kehendak, umat manusia telah memilih untuk mengikuti kemauan hati sendiri. Kini, kemampuan daya pikir dan keinginan hati menjadi pengendali utama kehidupan bermasyarakat. Pemenuhan ego maupun nafsu manusiawi pun tampil sebagai penggerak utama kemajuan sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
The other side of the coin, trailer Babel secara terang benderang menyingkap keputusan moral umat manusia untuk melepaskan diri dari YHWH. Babel tampil sebagai metafora dari maklumat kolektif umat manusia untuk menanggalkan ketundukan kepada pemerintahan-NYA. Humanity secara bersama telah memilih untuk mandiri, mengurus diri dengan kemampuan sendiri.
Babel menjadi simbol umat manusia yang melepaskan diri dari otoritas ilahi—menolak cawe-cawe Sang Maha Tinggi dan memilih hidup dikendalikan oleh pikiran serta keinginan hati sendiri. Alih-alih berada di bawah naungan Kerajaan YHWH, peradaban justru bermegah dalam membangun kerajaan menurut versi insani.
…Babel, kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.” (Wahyu 14:8)
Ini bukan semata isu perkembangan teknologi atau kemajuan peradaban—melainkan menyangkut motivasi yang mendasarinya. Daya penggerak utama kemasyhuran Babel adalah keinginan untuk mengharumkan nama sendiri! Dalam pandangan Alkitab, kota itu dibangun di atas fondasi yang secara rohani disebut sebagai perbuatan cabul—yaitu zinah rohani!
Jangan lupa kepada TUHAN Allahmu dan jangan berbalik kepada ilah-ilah lain untuk memuja dan mengabdi kepada mereka. (Ulangan 8:19 BIS)
Manusia secara keseluruhan meninggalkan tunangannya dan memilih pasangan lain (2 Korintus 11:2–3). Di Babel, makhluk ciptaan-NYA sepakat melupakan-NYA—dan mengarahkan hati kepada sosok lain! Alih-alih memuja YHWH, peradaban justru mengidolakan serta mengabdi kepada allah lain: yaitu diri sendiri.
Apa mau dikata!
Gagasan tentang allah lain itu kelak disambut dengan antusias oleh bangsa-bangsa. Suku, bahasa, kaum, dan bangsa bersukacita dalam pesta pora sambil merangkul paham sang allah baru ini. Seolah manusia menemukan apa yang selama ini diidamkan—mereka pun bermabuk-mabukkan dalam pelukan pola pikir: “Marilah kita mencari nama bagi diri kita sendiri!” (Kejadian 11:4, AYT).
Allah lain bagi peradaban kuno mungkin mudah dikenali—karena kerap tampil dalam wujud benda. Namun jangan salah sangka! Sejak era Babel, allah lain itu justru kian sulit terdeteksi: ia berkeliaran dalam alam pikiran dan nafsu hati, sebagai dorongan tersembunyi untuk ‘mencari nama’ demi ketenaran diri sendiri!
Ini bukan sekadar soal pencapaian prestasi—melainkan soal motivasi yang tersembunyi di baliknya.
Bisa saja hasil pelayananku dalam perkara rohani membuat umat berdecak kagum. Teman-teman pun terheran-heran menyaksikan bagaimana DIA memberkati segala usahaku. Seolah apa pun yang kusentuh berubah menjadi emas di hadapan banyak orang. Bila aku berbicara, umat ternganga!
Maaf… tunggu dulu! Aaahhh… waspadalah akan kehadiran allah lain di dalam kalbu!
“Jika bukan karena aku, siapa lagi? Bukankah aku yang… aku… aku… aku!” Sebentuk motivasi terselubung untuk menjadi tenar—obsesi agar nama harum tercantum di daftar hall of fame! Nama yang melegenda dan dikenang sepanjang masa!
Itulah sosok allah lain di Babel—yang daya tariknya terus menggoda Adinda hingga kini. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |


