Berharganya Manusia Sebagai Asset Utama

Viewed : 201 views

1 Tesalonika 2:19-20
Sebab siapakah pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu?
Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan sukacita kami.

Beberapa waktu lalu, malalui media massa kita melihat banyak orang membeli emas ramai-ramai. Harga emaspun melonjak naik.

Untuk apa emas itu dibeli?
Untuk dipakaikah?
Karena kelebihan uangkah?

Kemungkinan besar adalah diperuntukkan sebagai asset. Agar nilai uang yang dimiliki tidak jatuh. Nilai uang dapat menyesuaikan diri dengan harga emas di pasar. Orang merasa aman uangnya disimpan dalam bentuk emas.

Berbagai jenis dan bentuk asset yang dipikirkan dan diusahakan orang. Ada orang mengusahakan asset dalam bentuk emas seperti dikisahkan di atas. Dalam bentuk tanah, uang, bisnis, dan sebagainya. Tentu semua itu baik dan kalau bisa mengapa tidak? Usahakanlah!

Namun jangan sampai kita lupa bahwa asset kita sesungguhnya adalah manusia. Berdasarkan ayat di atas, ketika Yesus datang nanti, Dia berurusan dengan kita adalah soal asset yang satu ini.

Apa yang kita wariskan untuk manusia ke depan?, terlebih untuk anak kita. Juga untuk orang-orang yang dipercayakan Tuhan untuk kita bina.
Cukupkah harta benda duniawi saja?

Dalam hidup-Nya, Yesus mengerahkan segenap upaya-Nya habis-habisan untuk asset berupa manusia, yang diletakkan dalam diri murid-murid-Nya.

Ketika Yesus naik ke Surga, Dia sama sekali tidak berbicara soal asset harta dunia ini, meski dunia ini adalah milik dan ciptaan-Nya. Kita saja yang sering pusing karena berlebihan memikirkan harta dunia ini. Kita sering tidak fokus kepada Tuhan dihalangi oleh harta kebendaan dunia fana ini. Saya minta maaf untuk berkata seperti ini… πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»

Betapa berharganya manusia sebagau asset utama kita. Rasul Paulus mengungkapkan bahwa kemegahannya yang utama adalah orang-orang yang telah dibawanya kepada Yesus. Itulah mahkotanya. Itulah assetnya.

Kembali lagi, bagaimana dengan kita?
Kita letakkan di manakah asset kita?
Di tempat yang tepatkah?
Di tempat yang kelirukah?
Di tempat setengah tepat dan setengah kelirukah?

Di antara kesibukan dalam pekerjaan dan tanggung jawab yang diemban, atau kita sudah purna tugas, sudahkah kita bersiap dan terus menerus sedang mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan soal asset ini?
Mari kita renungkan sejenak dan berilah jawaban.

Selamat bekerja
Selamat beraktivitas.
Selamat melayani.

Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kita. Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahΓΊn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Illustration created using DALLE-3 on Bing Image Creator

Comments

comments