Di balik bangunan megah Menara Babel tersembunyi misterius sebuah gagasan: ide tentang kemandirian, keyakinan manusia mampu kembali menyentuh ranah Taman Surga. Dengan kekuatan sendiri, manusia yakin mampu membalikkan peristiwa Eden yang menyakitkan.
Diusir paksa meninggalkan alam istimewa, alam berdimensi tiada duanya, suasana persilangan antara bumi dan surga. Surga terasa di bumi, bumi pun bernafas di surga (Kejadian 3:23–24). Walau tubuh terbuang secara fisik, jauh di lubuk hati ia tetap bersemayam (Pengkhotbah 3:11). Taman Eden akan selalu dirindu di setiap hati insan, karena di sanalah asal-usul insan sejak mula penciptaan.
Perkembangan peradaban dan kemajuan teknologi, baik di era purba dengan menara menjulang, maupun di era digital dengan kecanggihan AI, selalu berupaya mewujudkan impian yang hilang: alam tanpa air mata, jauh dari derita, umur panjang seakan hidup dalam kahyangan. Kerinduan purba itu tak pernah padam, menjadi nyala api yang membakar imajinasi manusia.
Agama tampil sebagai manifestasi usaha manusia untuk mencapai ranah surga, alih-alih nirwana yang dijumpa. Tak tahunya, peradaban berlangsung berdarah-darah sebagai akibatnya. Konon, peperangan panjang dan brutal dalam sejarah dunia berkaitan erat dengan isu agama. Itu bukan sekadar cerita silam, bukan dongeng yang kusam. Bukankah Adinda yang hidup di era digital ini juga masih merasakan getarannya?
Sepanjang sejarah manusia, agama berlomba habis-habisan merebut sebanyak mungkin pengikut. Agama pun memperebutkan wilayah sebagai lambang dominasi kehadirannya. Ia tak lagi sekadar usaha manusia untuk menggapai alam langit, melainkan berubahh menjadi suatu kerajaan, kerajaan agama, yang menancapkan kuasa di bumi fana.
Kerajaan agama telah lama menentukan alur sejarah peradaban. Setiap agama merasa doktrinnya paling benar menunjukkan jalan ke surga. Celakanya, isu doktrin menjadi sumber pertengkaran, bahkan di dalam tubuh satu agama. Kehadiran kerajaan agama bukannya membawa aroma surga, melainkan bau busuk yang menyengat ingatan, menjadi luka yang sulit dilupakan.
Fakta ini melahirkan generasi yang skeptis terhadap agama. Diinisiasi oleh era Enlightenment di Eropa, peradaban mulai beralih pada daya nalar: segala sesuatu harus masuk akal. Akibatnya, teknologi berkembang pesat, dan kemajuan AI di awal abad ke-21 memberikan semacam harapan besar, sebuah utopia untuk mewujudkan alam surga di bumi.
Teknologi AGI (Artificial General Intelligence) sudah di depan mata. Perkembangan bioteknologi, rekayasa genetik, hingga kemajuan riset cloning memberi harapan masa depan yang ceria. Jika orang buta kembali celik, orang lumpuh melompat-lompat, maka teknologi umur panjang bukan lagi kisah dalam film science fiction, melainkan nyata. Dunia pun seakan kembali menjadi Taman Surga: sejahtera, tanpa air mata, derita pun tiada. Sebuah janji utopia, usaha manusia sendiri untuk kembali mewujudkan Eden di bumi.
Sebagaimana kerajaan agama, tanpa YHWH maka utopia ini pasti berubah menjadi dystopia, bencana yang mengerikan. Jika agama memanipulasi nama Sang Pencipta, maka teknologi terang-terangan menolak segala hal yang tak masuk logika. Keduanya, meski berbeda wajah, tetap menyingkirkan DIA, dan hasilnya selalu sama: malapetaka!
Puan dan Tuan kini tengah menyaksikan pergolakan dahsyat di alam yang tak kasat mata: antara kerajaan agama, kemajuan teknologi, dan Kerajaan Allah—semuanya menawarkan harapan untuk kembali menghadirkan Taman Eden di bumi. Namun bukan hanya menyaksikan, Anda sejatinya turut menentukan ritme pertempuran di penghujung zaman (2 Petrus 3:12).
Di luar rencana-NYA, utopia pasti berubah menjadi dystopia, bencana! Dengan kesadaran bahwa teknologi itu netral, pilihan kini ada di tangan Adinda: menyatu dalam tarian Ilahi atau hanyut dalam permainan sendiri. Di sanalah garis nasib ditentukan, antara jalan fana atau jejak baka. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
