482. Misteri Babel

Viewed : 435 views

Menara Babel dibangun di atas fondasi keangkuhan dan glorifikasi pencapaian diri. Sebuah ambisi untuk memopulerkan nama sendiri; obsesi akan self-sufficiency dalam segala aspek kehidupan. Babel berdiri sebagai perlambang tekad kemandirian—suatu pilihan sadar untuk mengatur diri sendiri, lepas dari keterikatan kepada Sang Ilahi.

Etemenanki, nama sebuah ziggurat monumental di kota Babilonia, oleh para ahli ditengarai sebagai latar belakang kisah Menara Babel dalam versi Alkitab. Kata Etemenanki berarti “rumah fondasi langit dan bumi”—sebuah simbol kosmologis yang menghubungkan dua ranah eksistensi: surgawi dan duniawi. Bangunan kuil bertingkat tujuh dengan tinggi 91 meter ini melambangkan usaha manusia untuk “mengundang” kehadiran ilahi ke atas bumi.

Di era modern, spirit Babel merasuk ke segala bidang. Kota, industri, dan kemajuan teknologi canggih merangsek maju tanpa batas—mengusung tekad peradaban menuju kemandirian mutlak. Tak seorang pun tahu apa yang sesungguhnya tengah terjadi di laboratorium tersembunyi di bidang frontier technology—pengembangan garis terdepan dari inovasi dan AI, kecerdasan buatan. Inovasi yang membuka kemungkinan-kemungkinan baru, yang sebelumnya dianggap mustahil. Namun pengembangan teknologi terdepan ini nyaris tak tersentuh regulasi—belum sempat diatur, dan karena itu rawan mengabaikan norma serta etika.

Teknologi transhuman berupaya untuk meningkatkan kapasitas fisik, kognitif, dan emosional manusia lewat kecanggihan teknologi. Sebuah usaha melampaui batasan biologis eksistensi manusia—bahkan hingga memperpanjang usia atau menjelajah bentuk keberadaan yang sepenuhnya baru.

Penelitian oleh perusahaan teknologi super canggih seperti Neuralink milik miliarder Elon Musk membuka kemungkinan terobosan untuk mencelikkan orang buta! Kemajuan neuroteknologi bukan lagi milik dunia science fiction—segera otak manusia akan terhubung langsung dengan komputer, meningkatkan fungsi kognitif dan menghadirkan komunikasi instan dengan mesin melalui nano chip yang ditanamkan di dalam kepala.

Rekayasa genetika khususnya inovasi pengeditan gen telah membuka cakrawala baru untuk menghilangkan penyakit bawaan, meningkatkan kecerdasan, atau menciptakan bayi rancangan sesuai keinginan. Pengembangan nanobot, suatu inovasi medis untuk memperbaiki ataupun membunuh sel tubuh dari dalam.

Mungkin yang paling menggoda manusia adalah pencapaian peradaban yang diungkapkan dalam anak kalimat: ’menara yang puncaknya sampai ke langit!’ (Kejadian 11:4). Menghadirkan teknologi yang dapat mengundang pengalaman ilahi dalam dimensi sehari-hari via konsep virtual reality.

Teknologi Realitas Virtual & Augmented Reality menawarkan pengalaman tak terbatas manusia di luar dunia fisik. Dengan teknologi AI dan pengolahan big data dari denyut jantung, aktivitas otak, ritme napas dari jutaan pengalaman umat dalam bermeditasi ataupun pengalaman supernatural lainnya semacam trance ataupun kepenuhan roh, teknologi telah berhasil memetakan jalan menuju pengalaman spiritual ke tingkat tiada batas. Teknologi segera akan mengambil alih peran kaum elite rohaniawan dan sekaligus membuka pintu selebar-lebarnya bagi kaum awam dalam menikmati pengalaman adikodrati!

Data dari jutaan jurnal meditasi, pengalaman mistik, dan eksplorasi batin dapat mengungkap pola kesadaran kebatinan universal. AI dapat menyediakan petunjuk, umpan balik, bahkan sebagai digital spiritual caoch untuk menemukan makna hidup dan teman diskusi tentang isu eksistensial, spiritual, atau bahkan yang berhubungan dengan ranah mistik—layaknya seorang Socrates Digital berdasarkan kitab suci masing-masing.

Berikut respon teknologi AI, Copilot tatkala ditanyakan hal-hal tersebut:

”Kami [AI] tak punya iman atau jiwa, tapi kami bisa membantu merangsang pemikiran mendalam dan memfasilitasi pencarian makna. Kalau kamu ingin, kita bisa coba meditasi dialogis bersama, atau menyusun panduan spiritual yang menggabungkan teknologi dan tradisi. Mau kita mulai petualangan batin digital itu?”

Selamat datang misteri Babel di abad ke 21 (Wahyu 17:5)!

Mau..?..!

Sebagaimana di Taman Eden, pilihan tetap ada di tangan Puan dan Tuan!

Peradaban telah menuju puncak pencapaian, bukan saja sukses menggapai namun sekaligus mencakar dan mengobrak-abrik alam langit! Misteri Babel telah di depan mata untuk menghadirkan pengalaman ilahi melalui dunia digital.

Selangkah lagi, peradaban telah berhasil mengendalikan alam adikodrati sesuai keinginan hati dalam versi digital di atas bumi!

Jika orang buta dapat dicelikkan, yang lumpuh mampu berlari. Tak ada penyakit yang tak terobati, usia ataupun keberadaan dalam wujud baru berpotensi diperpanjang hingga mendekati abadi. Setiap individu bisa mengalami pengalaman rohani yang mendalam sesuai keinginan hati—karena teknologi.

Maka tinggal satu pertanyaan menggema: siapa lagi yang butuh ibadah di hari-hari suci? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments