503. Talak Tiga!

Viewed : 459 views

“Dari Eden hingga Babel, riwayat manusia terjalin dalam drama cinta dan pengkhianatan. Namun, Sang Kekasih SEJATI tak pernah melupakan tunangan-NYA, manusia. Di Babel peradaban dipersilakan berjalan sendiri. Namun, gema rencana-NYA tetap berdenyut di balik gulungan waktu. Jalan buntu ataukah Kerajaan-NYA akan tersingkap dalam bentuk horizon baru?”

Entah bagaimana mula kisahnya, hingga DIA berkeputusan menciptakan Adam dan Hawa seturut gambar serta rupa-NYA (Kejadian 1:26–27). Mandat utama pasangan ini ialah meluaskan horizon Taman Eden, seiring berlipatgandanya keturunan yang lahir dari rahim sejarah.

Adam dan Hawa adalah semacam wali-NYA dalam dimensi ruang dan waktu untuk menghadirkan Kerajaan-NYA di muka bumi. Pemerintahan serta otoritas-NYA dijalankan melalui sang wali, hingga kelak melingkupi seluruh bumi. Maka pada waktunya di depan, terwujudlah maksud dan tujuan sejak awal penciptaan manusia: agar Kerajaan-NYA memenuhi dan menutupi segenap bumi (Matius 6:10; Habakuk 2:14).

Namun sejarah berkata lain: manusia berselingkuh, tak setia kepada YHWH, Sang Kekasih SEJATI (2 Korintus 11:3). Dalam drama cinta ini, seakan YHWH bertepuk sebelah tangan, sementara manusia memilih jalan belakang. Narasi Kejadian 3 pun dikenang sebagai the first rebellion.

Sebagaimana dalam relasi keluarga, perselingkuhan memecah kesatuan bahtera rumah tangga. Adam dan Hawa pun diusir dari rumah-NYA, Taman Eden. Alih-alih keluarga-NYA berlipat ganda sehingga Eden meluas, justru Taman Eden lenyap entah ke mana.

Gagalkah rencana-NYA?

The second rebellion dalam Kejadian 6 justru melibatkan pemberontakan anak-anak-NYA dari dimensi tak kasat mata. Terjadi percampuran antara alam adikodrati dan ranah bumi, melahirkan keturunan raksasa, Nephilim (Kejadian 6:4). Tindakan makhluk ilahi yang melampaui batas, bercampur baur dengan makhluk bumi (Kejadian 6:2; Yudas 1:6).

Keturunan campuran antara unsur ilahi dan elemen manusiawi ini melahirkan generasi yang membuat YHWH menyesal menciptakan manusia. Bukan sekadar penyesalan, melainkan perilaku angkatan itu benar-benar memilukan hati-NYA (Kejadian 6:6). Mengapa Sang Pencipta sampai merasa tertusuk hati? Sebab segala kecenderungan hati manusia senantiasa membuahkan kejahatan semata (Kejadian 6:5).

Alih-alih Kerajaan-NYA yang ditandai kasih, sukacita, damai sejahtera, dan kesetiaan (Galatia 5:22–23) meluas di bumi, justru sebaliknya yang terjadi! Kebejatan moral merajalela ke segala penjuru mata angin. Peradaban sedemikian bobrok hingga tak lagi dapat dipertahankan, tiada alternatif lain kecuali satu jalan. Dengan hati sedih dan kecewa, DIA melenyapkan peradaban itu melalui gulungan gelombang tsunami yang dahsyat.

Maksud dan tujuan-NYA menemui jalan buntu?

Aaahhh… seakan YHWH luput dari lubang jarum. Kini DIA menaruh harapan besar kepada Nuh beserta keluarganya untuk menunaikan maksud dan tujuan-NYA sejak semula. Mandat Eden kembali bergema kepada keluarga yang terluput dari air bah: berlipat ganda dan memenuhi bumi (Kejadian 9:1,7).

Jauhlah dari karakter-NYA, mustahil DIA melupakan kekasih hati-NYA, manusia. Bagaimanapun, DIA ingat bahwa manusia diciptakan seturut gambar dan rupa-NYA (Kejadian 9:6). Fakta ini tak terlupakan bagi generasi yang keluar dari bahtera Nuh—mereka sungguh-sungguh menyadari siapa YHWH!

Dengan demikian, perluasan Kerajaan-NYA di bumi masih menyisakan peluang! Bertambah dan menyebarnya anak cucu keluarga Nuh ke segenap permukaan bumi menyalakan kembali harapan: maksud dan tujuan-NYA masih mungkin digenapi.

The third rebellion, apa mau dikata! Belum lama berselang, generasi sesudah Nuh abai terhadap jejak leluhur. Bukannya setia kepada YHWH, mereka justru terang-terangan bersepakat melawan titah-NYA, mengkudeta komando, dan mengambil alih arah perjalanan peradaban.

Bukannya menyebar, di Babel, peradaban bersepakat berkumpul, menentukan aturan permainan menurut keinginan hati sendiri. Dengan berat hati DIA berfirman: “Kalau itu maumu, silakan!” Maka di Babel, YHWH berbalik, melepaskan peradaban untuk berjalan sendiri, seturut nafsu hati.

Seandainya DIA bersenandung seperti lagu lama Jangan Sampai Tiga Kali yang dipopulerkan Trio Ambisi, maka terdengar rintihan:

”Satu kali kau sakiti hati ini masih kumaafkan; Dua kali kau sakiti hati ini juga masih kumaafkan. Tapi jangan kau coba tiga kali; Jangan oh janganlah. Cukuplah sudah cukuplah sudah..!”

Di Babel, DIA berkata kepada peradaban: “Cukuplah sudah, cukuplah sudah!” Lalu DIA menceraikan peradaban dengan talak tiga. Dengan hati sedih, DIA berbalik pergi, membiarkan peradaban berjalan sendiri menurut keinginan hati (Roma 1:24).

Apakah rencana-NYA gagal, ataukah tersedia alternatif lain— plan B —untuk menghadirkan Kerajaan-NYA melalui perluasan Taman Sorga di muka bumi? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments