“Cinta-lah landasan relasi dari awal segala kisah. Namun cinta pertama berakhir duka, berulang kali ternoda, dari Eden hingga Babel. Meski luka menikam kalbu, DIA tetap menunggu, sebab cinta sejati tak pernah membeku”
Jika in the beginning tidak ada agama, tiada ritual, apalagi prosesi korban untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta, maka bagaimana digambarkan relasi manusia dengan-NYA? Kedekatan macam apa yang DIA rindukan sejak permulaan zaman hingga klimaks di balik horizon kehidupan?
Relasi itu lebih mudah dipahami nurani dengan kacamata drama cinta sejoli yang terperangkap dalam asmara membara. Bagi yang tertusuk panah amor, wajah kekasih senantiasa terbayang. Lumrah bila di dompet sang pemuda terselip foto sang jelita, gadis bak ratu tercantik seantero dunia. Wajah kekasih hati tak ingin dilepaskan walau sekejap.
Bukankah itulah maksud-NYA dalam ungkapan: “… mata-Ku tertuju kepadamu” (Mazmur 32:8)? Bahkan lebih dari itu, seakan DIA tak puas bila sang Adinda tak tahu! Bukan sekadar foto, wajah Adinda telah dirajah sebagai tato artistik di telapak tangan-NYA (Yesaya 49:16): “Behold, I have engraved you on the palms of My hands” (NKJV). Maksudnya? Adinda tak mungkin terlepas dari hati Sang Maha Kasih. Mengapa? Karena Adinda dicipta seturut gambar dan rupa-NYA (Kejadian 1:26).
Begitulah narasi relasi Adinda dengan Sang Pencipta. Sebagaimana sejoli dimabuk cinta, kekasih menjadi segala-galanya, bahkan nyawa pun dipertaruhkan demi melindungi sang pujaan. Begitu pula bagi DIA, Anda adalah segalanya. Siapa pun yang mengganggu kekasih hati-NYA, DIA anggap sama saja mengusik diri-NYA sendiri: “… sebab siapa yang mencelakakan kamu sama saja dengan menusukkan jarinya ke mata TUHAN!” (Zakaria 2:8 FAYH).
Namun apa mau dikata, di Taman Surga pujaan hati-NYA berselingkuh di depan mata! Betapa pedihnya—cinta pertama layu sebelum berkembang, cinta murni ternoda oleh ketidaksetiaan. Adam dan Hawa mencederai cinta-NYA. The first rebellion membuat api cinta redup sebelum sempat hidup. “Kalau itu maumu, pergilah bersama kekasih barumu!” Adam dan Hawa pun terbuang dari hadirat-NYA.
Berjalannya waktu, ketidaksetiaan kian memburuk. Di era Nuh, peradaban menjadi bringas. The second rebellion melahirkan generasi bobrok, jauh dari kerinduan hati-NYA. Bukannya kembali ke pelukan Sang Kekasih SEJATI, peradaban justru melukai hati-NYA. Bisa dimengerti guman-NYA: “Ia menyesal telah membuat mereka. Hati-Nya hancur.” (Kejadian 6:6 FAYH). Seakan bergema lirih: “Bukan perpisahan yang kusesali, melainkan mengapa kita dulu bertemu.” Tiada pilihan lain, peradaban lenyap bersama air bah.
Siapa yang tak sesak, bisa-bisa kalap, tatkala cinta membara namun kekasih pergi dengan yang lain? Namun cinta sejati tak tunduk pada logika. Cinta-NYA tak mungkin terlepas dari Adinda. Penyesalan menusuk ulu hati melihat kekasih binasa dalam gulungan tsunami besar, hingga DIA berjanji pada diri-NYA: takkan lagi membinasakan peradaban dengan air bah, meski manusia tetap tak setia (Kejadian 8:21).
Di Babel, peradaban semakin menjadi-jadi. The third rebellion menjadi pamungkas pemberontakan peradaban yang dalam narasi menara Babel tersirat: peradaban mengambil alih komando dan menentukan “aturan main.” Makhluk ciptaan dengan jumawa menyamakan diri dengan Sang Kuasa. Dengan lantang mereka melawan perintah-NYA untuk memenuhi bumi. Mereka justru berkumpul di Babel!
“Baiklah, sayang. Jika itu maumu, berlawanan dengan kerinduan-KU sejak Eden. Sepertinya kau sudah bertekad tak sejalan. AKU tahu, cinta memang tak dapat dipaksakan. Ikutilah kata hatimu, AKU rela menunggu, bahkan tanpa batas waktu, hingga kau kembali ke pelukan-KU.”
Di Babel, YHWH seakan berbisik: “Pergilah bila itu yang kau inginkan, Adinda. AKU hanya bisa mengucapkan selamat tinggal. AKU takkan memaksamu tetap di sini. Kita selesai… walau kalbu terasa tertikam, namun rindu-KU belum padam.”
Relasi cinta berakhirlah sudah. Dalam narasi rebutan cinta, DIA pun seakan kalah. Dia menceraikan peradaban, ini perceraian semesta, Universal Divorce! Lalu..? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
