499. Woke Culture

Viewed : 390 views

Kerajaan Agama berkembang pesat sejak diproklamasikan di peristiwa Menara Babel. Nilai-nilai Kekristenan telah mempengaruhi peradaban Barat secara signifikan selama ratusan tahun. Pengaruh itu bertahan hingga kini, meski jumlah penganut kian menyusut dan mulai menjauh dari akar rohaninya.

Dimulai dari komunitas kecil di Yerusalem pada awal abad pertama, namun setelah diakui sebagai agama negara pada abad ke-4, perkembangan Kristen melaju pesat seiring meluasnya wilayah kekaisaran Romawi. Hingga abad pertengahan, gereja Katolik menjadi pusat spiritual dan politik Eropa. Era kolonialisme abad ke-16 hingga ke-18 membawa Kekristenan ke Amerika, Afrika, dan Asia, melalui misi dan kuasa kolonial yang menorehkan jejak panjang sejarah.

Lahirnya Islam di abad ke-7 dengan doktrin khilafahnya segera berbenturan dengan Kristen. Perang Salib pun meletus berdarah-darah antara 1095–1291, dipicu perebutan kota suci, Yerusalem. Perang itu meninggalkan luka mendalam dalam hubungan dua umat, dan jejak konflik panjang yang pengaruhnya masih dapat dikau rasakan hingga kini.

Bercampur baurnya agama dan politik di masa pengembangan Kekristenan abad ke-5 hingga ke-10
melahirkan sistem pemerintahan yang tunduk pada institusi agama. Agama (Kristen/Katolik) ikut mengatur arah politik kerajaan. Praktik ini kelak menggoreskan jejak yang dikenal sebagai era abad kegelapan di Eropa, ketika cahaya nurani ditutupi kabut agama.

Dalam perkembangan berikutnya, era Pencerahan menyalakan gagasan untuk memisahkan agama dari politik. Filsuf John Locke (1689) di Inggris pertama kali menggagas pemisahan itu. Gagasannya menginspirasi Revolusi Perancis (1789) dan mengilhami Thomas Jefferson (1802) di Amerika dengan ide pemisahan gereja dari urusan pemerintahan. Agama menjadi urusan pribadi, dan lahirlah paham negara sekuler serta liberalisme yang menjalar sebagai wajah baru peradaban.

Gerakan Reformasi Protestan abad ke-16 memicu konflik panjang dan menyakitkan antara Katolik dan Protestan. Bentrok terakhir masih dapat dikau saksikan di Irlandia Utara. Pertikaian baru mereda
ketika pada tahun 1998 ditandatangani perjanjian yang dikenal sebagai Good Friday Agreement. Sejarah pun mencatat luka yang perlahan dijahit oleh kesepakatan damai walau bekasnya tidak mungkin hilang dari sejarah.

Konflik intra dan antar agama meninggalkan luka parah dalam peradaban. Cidera itu melahirkan generasi yang skeptis terhadap agama. Sikap ini menjadi lahan subur bagi tumbuhnya berbagai paham. Liberalisme tampil di era Enlightenment, menekankan kebebasan individu dari perbudakan agama. Ateisme yang sudah purba mendapat momentumnya di era pencerahan. Memasuki abad ke-20, istilah None (tidak beragama) populer di negeri maju. Dan sejak 2010-an hingga kini, Woke Culture melanda generasi muda sejagad raya.

Budaya woke menjadi unsur utama gonjang-ganjing politik di Barat, khususnya Eropa. Gerakan ini membela habis-habisan kaum yang dianggap tertindas, dan melawan tanpa berpikir panjang mereka yang dicap tiran. Kaum imigran dari negeri bekas jajahan berduyun-duyun hijrah ke Eropa. Gerakan woke membela mereka tanpa syarat, menjadi arus deras yang mengguncang tatanan lama.

Malangnya, gerakan woke memandang Kekristenan sebagai kolonialis yang dahulu memeras negeri jajahan, sehingga perlu dilawan dengan memberi hak istimewa bagi para imigran. Tambah ruwet, mayoritas imigran itu berasal dari negeri Islam, hingga ingatan tentang Perang Salib kembali menjelma dalam wajah baru di negara modern. Sejarah lama pun bangkit, menjadi bayangan yang menghantui masa kini.

Sayangnya, Injil tak lagi dapat dipisahkan dari agama Kristen. Luka sejarah mustahil dihapuskan dari tubuh peradaban. Masihkah ada peluang bagi generasi kini untuk menyambut Injil sebagai Kabar Baik yang terlepas dari segala bentuk agama yang dianggap memperbudak kebebasan?

Bisa jadi jawaban pertanyaan ini bergantung kepada Adinda! Maksudnya?

Di era deepfake sekarang ini, apakah Injil itu masih sungguh-sungguh menjadi kesukaan besar yang dinantikan generasi Woke Culture(Lukas 2:10)? Apakah Puan dan Tuan, sebagai generasi terdahulu, masih merasakan Injil sebagai Kabar Baik bagi diri sendiri ataukah itu identik dengan daftar panjang kewajiban agamawi yang membebani hidup yang sudah ruwet?

Aaahhh… daku masih lebih banyak merasakan Injil sebagai kewajiban agamawi! Siapakah yang dapat melepaskan daku dari belenggu Misteri Babel ini? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments