478. Tempat Perhentian

Viewed : 335 views

Peristiwa Perjamuan Kawin Anak Domba (Wahyu 19:9) bagaikan jendela yang terbuka untuk mengintip apa yang ada di balik cakrawala. Rahasia kosmis yang selama ini terbungkus dalam alam gaib. Misteri kehidupan yang tersembunyi dalam keheningan sejarah, kini tersingkap di hadapan kekasih hati-NYA (Kolese 1:26).

Keberadaan bukan sekadar menjadi ada. Adinda ada itu sebagai pantulan dari kehendak dan tujuan maksud abadi-NYA (Efesus 3: 8-11). Segala sesuatu ada bukan hanya untuk dijalani, akan tetapi untuk dipahami dalam kaitannya dengan yang adi kodrati.

Hidup sementara di bawah matahari menjadi bagian dari simfoni kekal yang merangkai antara yang fana dan yang abadi, antara yang kasat mata dengan yang tidak kelihatan. Perjamuan Anak Domba bukan hanya sekadar peristiwa seremonial, namun sebuah selebrasi akbar perjumpaan antara insan dengan Sang Pencipta!

SELA! Rehat sejenak dari kepenatan hidup. Tarik nafas dalam-dalam, siap..? Mari maju selangkah lagi!

Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. (Wahyu 21:2,3)

Rasul Yohanes mulai gelagapan saat menuliskan penglihatan yang melampaui dimensi ruang-waktu. Terpaksa ia menggunakan kosakata insani untuk menjelaskan peristiwa dari dimensi luar bumi. Akibatnya, kata-katanya terasa janggal dan tidak lumrah. Namun, kejadian tersebut tetap terkesan sungguh-sungguh terjadi.

Dengan intonasi kalimat yang seakan “lega,” ia menggambarkan adegan di balik penghujung peradaban— impian-NYA akhirnya terwujud. Sang BAPA telah menemukan rumah, tempat perhentian di mana DIA benar-benar merasa home sweet home!

Beginilah firman TUHAN: Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku? (Yesaya 66:1)

Bagaimana mungkin membangun tempat bagi DIA, yang bahkan langit di atas segala langit tak mampu memuat-NYA? Apakah itu berarti, sejak keabadian hingga abad ini, DIA masih mencari tempat untuk meletakkan kepala-NYA (Lukas 9:58)? Mungkinkah Taman Eden menjadi tempat yang DIA pilih untuk berdiam bersama manusia pertama (Kejadian 3:8)?

Jadi, tatkala DIA telah selesai dengan hari-hari penciptaan yang melelahkan, seolah YHWH menemukan tempat rehat—tempat untuk melepaskan penat (Kejadian 2:2-3). Sejak awal, DIA merindukan kedekatan dengan insan, bercengkerama bak seorang sahabat hingga lupa waktu!

Namun, sejarah berkata lain! Sahabat menusuk dari belakang, DIA ditendang! Bahkan seolah Sang Pencipta terusir dari rumah-NYA sendiri! Taman Eden, yang seharusnya berkembang hingga menjangkau seluruh pelosok negeri, sejak itu lenyap—Eden pun tinggal kenangan!

Dengan demikian, dapatlah dipahami betapa pedih hati-NYA saat Adam dan Hawa main pintu belakang! Bukan saja DIA dikhianati, tetapi juga terusir dari dunia! Kini, sosok lain menjadi penguasanya (Yohanes 12:31), dan dunia pun berada di bawah kuasa kerajaan kegelapan (Kolose 1:13).

Generasi berikutnya pun sami mawon! Namun, di antara beribu-ribu laksa manusia, masih ada satu yang bersedia tinggal bersama DIA. Nuh bergaul akrab dengan YHWH (Kejadian 6:9), sementara yang lain justru sepakat melawan-NYA. Maka, mandat Taman Eden pun diletakkan di bahu Nuh dan keturunannya (Kejadian 9:1).

Tidaklah terlalu gegabah jika dikatakan, berdasarkan Yesaya 66:1, bahwa YHWH merindukan tempat perhentian sejak era Adam hingga kini! DIA masih saja mencari tempat di mana DIA merasa benar-benar at home!

Aaahhh! Homeless God!

Meski dunia menolak-NYA, semoga Adinda bersedia menjadi tempat kediaman-NYA (Ibrani 3:5-6). Dengan demikian, DIA kembali merasa at home di dunia yang tidak ramah dengan kedatangan-NYA. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments